Keputusannya Sendiri
27 April 2019

Pengajaran mengenai pilihan Allah atas manusia sebagai umat pilihan yang pasti masuk surga adalah masalah rumit yang diperdebatkan di sepanjang sejarah gereja sejak dulu hingga hari ini. Pertentangan itu antara lain, apakah Allah yang memilih dan sekaligus menentukan keselamatan seseorang, atau seseorang masih memiliki tanggung jawab atau kesempatan untuk memilih atau mengambil keputusan guna keselamatannya sendiri? Karena itu, pokok bahasan ini juga akan menyinggung konsep predestinasi. Predestinasi diartikan sebagai pemilihan Ilahi atas manusia yang akan selamat; bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya telah memilih (Yun. exelexato-eklegomai) dan menentukan (Yun. proorizo) secara sepihak orang-orang yang akan selamat. Jadi, Allah sudah menetapkan sejak semula (foreordination) orang-orang yang akan menjadi umat-Nya yang pasti masuk surga. Konsep ini perlu dikoreksi dengan rendah hati dan dengan hati yang teduh. Memang, konsep ini sangat kuat menghantam gereja yang dinilai telah menyimpang pada zaman Reformasi abad 14-15. Tetapi apakah pengajaran ini masih relevan untuk zaman kita hari ini? Karena pada hari-hari kemudian Tuhan akan terus menyingkapkan kebenaran-kebenaran yang dibutuhkan dunia yang semakin jahat menjelang kedatangan-Nya.

Sejatinya, menjadi umat pilihan adalah tanggung jawab bagi orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Disebut sebagai “umat pilihan,” memang mengesankan bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya memilih dan juga bisa mengesankan bahwa Tuhan mengabaikan kebebasan individu menentukan nasibnya. Tetapi dalam kenyataan hidup ini, nasib manusia ditentukan oleh keputusan dan pilihannya sendiri. Tentu pernyataan ini tidak mengurangi rasa hormat kita kepada Tuhan dengan kedaulatan-Nya. Dengan pernyataan ini bukan berarti kita tidak menerima kedaulatan-Nya. Allah adalah Allah yang berdaulat. Kedaulatan-Nya menegakkan tatanan bahwa Dia memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan keadaannya sendiri dari pilihan-pilihan yang Dia sediakan. Itulah sebabnya untuk menunjukkan konsekuensi dari kedaulatan-Nya tersebut, maka Tuhan harus membiarkan buah pengetahuan yang baik dan jahat dapat dipetik, dan Tuhan tidak mencegahnya. Tuhan memberi peringatan, tetapi tidak mencegah manusia memetiknya.

Pengusiran Adam dari Taman Eden, bukan karena Tuhan menentukannya demikian, tetapi karena Adam memilih, dan Adam harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya. Betapa jahatnya Tuhan, kalau seandainya Tuhan yang membuat skenario kejatuhan manusia dan pengusirannya dari tamanindah yang diciptakan-Nya. Kisah yang dipaparkan dalam Kejadian 3 jelas menunjukkan tatanan (order) atau hukum kehidupan ini. Bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas dalam menentukan “nasibnya”; apa yang ditabur, itu juga dituainya. Faktanya kenyataan yang tidak bisa ditolak bahwa manusia adalah makhluk yang tidak disetir oleh Allah. Ada bagian dalam diri manusia yang membuat manusia bisa mengambil keputusannya sendiri, dan harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ini adalah bagian yang membuat manusia dapat menjadi makhluk yang bertanggung jawab. Manusia bukan makhluk yang mengikuti arus nasib yang menghanyutkannya dan yang tidak bisa menghindar dari suatu nasib yang ditentukannya.

Untuk menjadi umat pilihan yang terpilih masuk anggota keluarga Kerajaan Surga sangat diperankan oleh pilihan, keputusan, dan tindakan masing-masing individu. Setiap orang harus memiliki tindakan konkret untuk dapat menjadi umat pilihan yang akhirnya terpilih masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Kegagalan menjadi umat pilihan yang terpilih, selain disebabkan oleh konsep bahwa Tuhan yang menentukan keselamatan secara sepihak atas individu, juga karena keinginan duniawi dalam kehidupan seseorang. Konsep yang salah mengenai pemilihan dan keinginan duniawi menciptakan pasivitas rohani. Pasivitas rohani artinya keadaan dimana seseorang tidak mengalami pertumbuhan rohani yang melayakkan seseorang menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Walaupun mereka aktif dalam kegiatan gereja, tetapi mereka tetap tidak mengalami pertumbuhan rohani untuk menjadi umat pilihan yang terpilih.

Banyak orang Kristen tidak berani membayar harga pengiringan yang benar sesuai dengan harga yang dipatok Tuhan. Harga yang dipatok Tuhan adalah sepenuhnya meninggalkan cara hidup anak dunia (Luk. 14:33). Biasanya mereka tidak hidup dalam kehendak Tuhan. Mereka tidak pernah menjadi manusia istimewa sebagai umat yang dipilih Tuhan. Kecerobohan ini akan membawa diri seseorang kepada “menjadi manusia yang terbuang.” Kalau orang berpikir bahwa dirinya telah dipilih untuk selamat, maka kecenderungan untuk bersikap ceroboh menjadi lebih besar. Fakta empiris membuktikan bahwa pengajaran seperti tersebut mengkondisi masyarakat Eropa yang tadinya Kristen meninggalkan Kekristenannya.