Kepastian Dilukai
25 February 2021

Play Audio

Dalam kalimat Doa Bapa Kami terdapat kalimat: “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Secara tersirat, terdapat sebuah indikasi bahwa pasti ada orang yang akan bersalah kepada kita. Frasa “seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” merupakan pertanda jelas bahwa kehadiran orang yang melukai kita tidak dapat terhindarkan. Dengan kalimat yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Doa Bapa Kami ini, pastilah kita akan mengalami keadaan dimana orang berbuat sesuatu yang menyakiti kita, merugikan kita, melukai kita, atau paling tidak, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebenarnya kalimat ini secara tidak langsung pula hendak menunjukkan bahwa pengampunan bisa diberikan kepada orang yang layak diampuni. Sepintas, hal ini terdengar melanggar prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Bahwa keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita merupakan anugerah, artinya pemberian tanpa melihat kelayakan kita yang menerima pemberian itu. Hal ini menyiratkan orang percaya tidak harus memenuhi syarat tertentu dan tidak harus membayarnya karena pemberian cuma-cuma. Untuk memahami hal ini, kita harus melihat kebenaran secara utuh.

Pertama, kita harus mengerti apa itu keselamatan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula. Jadi kalau seseorang tidak sampai pada proses pembaharuan atau dikembalikan ke rancangan semula, berarti keselamatan itu gagal. Rancangan semula Allah itu adalah manusia agung yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Jadi, ciri atau tanda dari orang yang diselamatkan adalah memiliki kehidupan yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Untuk ini, seseorang harus memberi diri untuk diubah. Diubah dalam perjalanan proses pertobatan atau perubahan pikiran. Kalau orang tidak bersedia mengalami proses pembaharuan pikiran, berarti dia menolak untuk selamat; atau sama dengan “ia tidak percaya.” Sebab, percaya adalah tindakan, bukan hanya keyakinan akali semata. Contoh terbaik untuk menjelaskan tentang iman atau percaya adalah Abraham yang disebut bapa orang percaya. Kehidupannya menunjukkan dengan jelas bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan adalah seorang yang bertindak.

Jikalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus mau diubahkan. Tuhan berkata, “kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak masuk surga” (Mat. 18:3). “Bertobat” artinya berbalik. Kata “anak” diterjemahkan dengan paidion, yakni usia efektif untuk dididik dan dibentuk. Jelas bahwa seseorang yang bertobat harus mau dididik dan dibentuk ulang oleh Tuhan. Pertobatan bukan sekadar tindakan pemutihan dosa seseorang, melainkan komitmen untuk diubah dan dibentuk. Seolah-olah dengan bertobat seseorang dapat melakukan apa yang dikehendakinya lagi semaunya. Sesungguhnya pertobatan membawa pada perubahan dalam diri orang percaya. Menolak berubah atau dibentuk oleh Tuhan sama dengan menolak untuk diselamatkan.

Percaya atau tidaknya seseorang kepada Tuhan, tidak digerakkan oleh Tuhan. Jika seseorang dapat percaya kepada Tuhan, hal ini berangkat dari kesadaran orang tersebut. Jika seseorang sudah percaya kepada Tuhan, maka apakah percayanya sekadar pada pengaminan akali atau sungguh-sungguh dibuktikan dalam tindakan nyata, juga merupakan pilihan dari orang tersebut. Tuhan tidak menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebab, jika ada orang yang Tuhan arahkan untuk percaya dan memiliki iman yang benar sedangkan yang lain tidak, maka Tuhan adalah jahat. Tuhan menjadi baik bagi sebagian orang yang diselamatkan, namun menjadi jahat bagi mereka yang terbuang.

Orang yang merespons keselamatan dengan benar, artinya mereka yang percaya ditandai dengan tindakan. Percaya merupakan sebuah proses panjang sampai dapat benar-benar hidup dalam kehendak-Nya. Jika dikaitkan dengan kepastian dilukai, maka seseorang yang tahu bahwa Tuhan bekerja dalam segala perkara akan menyiapkan dirinya menghadapi apa pun, termasuk kehadiran mereka yang melukainya. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah terluka dalam hidup ini. Itulah sebabnya, Tuhan mengingatkan orang percaya: “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Karena setiap orang yang ada di dalam Tuhan tidak terluput dari luka yang dapat ditimbulkan oleh orang lain. Hendaknya dengan mengetahui ini, kita dapat semakin dapat menerima dan menyambut sesama kita. Perlu diingat bahwa tidak pernah ada orang dengan sengaja dan berencana jauh-jauh hari untuk melukai kita. Semua orang memiliki cacat karakter yang membuatnya dapat melukai orang lain.