Kenyamanan Yang Membahayakan
23 September 2017

Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan membawa damai, tetapi api dan pedang. Api dan pedang menunjuk pergolakan dunia ini sebelum menjelang zaman baru. Hal ini bisa terjadi hanya oleh karena Tuhan Yesus yang mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan umat manusia. Dengan keberhasilan-Nya mengerjakan penebusan, maka zaman baru barulah dapat dibuka atau dipersiapkan. Kedatangan Tuhan Yesus membawa manusia memasuki zaman baru, yaitu zaman anugerah. Anugerah di sini adalah keselamatan abadi yang disediakan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikuti jejak-Nya. Zaman anugerah di sini bukan berarti lalu hidup manusia menjadi lebih nyaman, tetapi sebaliknya, menjadi tidak nyaman.

Satu sisi, keadaan ini dapat dipandang sebagai suatu kesulitan, tetapi di sisi lain keadaan ini merupakan kesempatan besar untuk menjadi orang-orang penting dan luar biasa di zaman baru tersebut. Sebuah kesempatan emas yang tidak diberikan kepada manusia sebelum kita hidup, bahkan kepada tokoh-tokoh iman di Perjanjian Lama. Karenanya Tuhan Yesus berkata bahwa kita beruntung bisa melihat dan mendengar karya keselamatan Tuhan Yesus yang begitu berharga (Mat. 13:16-17).

Iblis mengupayakan kesejahteraan manusia di bumi ini agar manusia dapat melupakan Allah. Dan kuasa dunia ini akan membuat hidup manusia menjadi nyaman, senyaman-nyamannya, sampai mereka melupakan Tuhan dan rencana-Nya. Hal ini terbukti dengan apa yang terjadi dalam pencobaan terhadap Tuhan Yesus. Iblis menawarkan keindahan dunia ini. Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Pencobaan itu pada dasarnya merupakan bujukan Iblis dengan menjanjikan keadaan nyaman di dunia hari ini, yaitu usaha untuk menikmati dunia hari ini tanpa Tuhan. Dalam hal ini kita menemukan sebuah kebenaran bahwa berlimpahnya materi bukanlah jaminan kalau seseorang diberkati Tuhan, sebab Iblis bisa melimpahi manusia dengan berkat jasmani.

Kenyamanan hidup juga membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Tuhan sendiri. Kenyamanan hidup yang menciptakan suasana jiwa di mana kita tidak merasa membutuhkan Tuhan adalah keadaan gawat yang harus disadari. Hasrat seperti ini ada dalam diri kita, yaitu percintaan dunia ini. Dalam hal ini Tuhan memperingatkan kita agar kita menjaga diri dari hal tersebut. Dalam peringatan-Nya Tuhan Yesus berkata: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat”. Jerat di sini merupakan perangkap atas manusia, yaitu manusia yang sudah terikat dengan percintaan dunia seperti ikatan “candu”. Kedatangan Tuhan yang mendadak seperti perangkap, di mana manusia yang terikat dengan dunia tidak lagi memiliki kesempatan untuk keluar dari kecanduannya. Sehingga mereka tidak memiliki kesempatan memperbaiki diri.

Kenyamanan ini membuat seseorang tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Inilah ciri dari orang yang sedang terjerat oleh tipu daya kekayaan: tidak mencintai sesamanya dan tidak mengupayakan keselamatan jiwa orang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil mengenai orang yang tidak mau melepaskan miliknya untuk orang lain. Ini bukan berarti kita harus memberi sebagian uang kita untuk orang miskin atau sibuk kegiatan gereja semata-mata, tetapi yang penting di sini adalah apakah kita mau memecahkan diri seperti anggur yang tercurah atau roti yang terpecah bagi keselamatan orang lain. Jadi, kalau ada orang Kristen berpikir bahwa Yesus datang untuk membawa kenyamanan di bumi, maka Yesus yang dikenal dan dipercayainya bukanlah Yesus yang asli, tetapi Yesus fantasi.