Kenikmatan Yang Terbatas
22 February 2017

Barang atau bagian apa dalam diri Saudara yang menurut Saudara paling berharga? Uang atau harta, nama baik, harga diri, keluarga (anak, pasangan hidup), binatang peliharaan, lukisan atau barang antik bagi yang menyukai barang seni atau apa? Renungkan dengan serius. Seberapa puas kita menikmatinya? Berapa lama Saudara akan dapat menikmatinya? Dan apa dampak atau akibat memiliki dan menikmati hal tersebut? Pertanyaan ini menggiring kita berpikir sehat, cerdas dan rohani. Dengan pertanyaan ini kita menemukan bahwa pemilikan atas semua yang ada pada kita terbatas waktunya. Suatu saat harus ditinggalkan. Selain itu, kenikmatan dan kepuasan menikmati apa pun di bumi ini sangatlah terbatas, baik kualitas, kuantitas dan durasi waktunya.

Pertanyaan di atas bisa dianggap mengganggu kebahagiaan hidup kita atau sebaliknya bisa dipandang bisa menyempurnakan kebahagiaan hidup kita. Mengganggu berarti mengurangi perasaan bahagia atau mengganggu kesenangan karena diingatkan bahwa suatu saat apa yang kita miliki akan kita lepaskan dan ternyata segala sesuatu yang kita miliki serba terbatas dalam kenikmatan dan durasi masa menikmatinya. Harus ditambahkan sebagai catatan di sini bahwa kalau seseorang tidak mengelola segala sesuatu yang ada padanya dengan benar, maka akan menjadi jerat yang membinasakan. Ini berarti tidak membawa akibat yang positif dalam kekekalan, tetapi bisa membinasakan. Dalam hal ini harta dan segala sesuatu yang ada pada seseorang seperti api, bisa menjadi teman atau lawan. Pertanyaan di atas bisa menjadi kebahagiaan kita, kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita, kita gunakan untuk melayani Maha Raja, demi kepentingan Kerajaan Allah. Hal ini membawa akibat kekal.

Kita bersyukur oleh pertolongan Tuhan melalui Roh Kudus, kita dapat mengerti bahwa segala sesuatu yang dianggap berharga oleh manusia tidak selamanya menguasai kita. Kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa ternyata tidak ada sesuatu yang kita dapat genggam terus menerus pada waktu kita menutup mata selamanya. Kita bersyukur, kita dapat mengerti bahwa tidak ada Sahabat sejati dalam dunia ini, selain Tuhan Yesus. Seiring dengan satu persatu hari, minggu, bulan dan tahun yang harus kita tinggalkan atau kita lepaskan, demikian pula kita dapat belajar menanggalkan segala sesuatu yang ada pada kita. Sampai akhirnya hasrat kita hanya tertuju pada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Harus diakui semakin banyak seseorang merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar melepaskannya. Tentu hal ini tergantung sikap hati. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi juga sukar melepaskannya karena menganggapnya banyak. Tetapi logikanya, semakin orang memiliki banyak, semakin sukar ia melepaskannya, sebab semakin terasa berat dan sakit kalau ia harus melepaskannya. Inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan pernyataan: lebih mudah seekor unta masuk lobang jarum daripada orang kaya masuk surga (Mrk. 10:25). Dalam hal ini kita diingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti (1Tim. 6:17-19).

Inilah tipu muslihat Iblis untuk membinasakan manusia, manusia terikat oleh harta materi dunia. Iblis membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang membuat mereka tidak bersekutu dengan Tuhan secara benar. Inilah yang disebut Alkitab dengan percintaan dunia. Dalam hal ini bukan berarti kita harus menjadi orang miskin atau memberikan uang kepada pendeta atau gereja atau menyuruh anak-anak harus jadi pendeta. Kita harus mengelola hati agar tidak sarat dengan pesta pora dan kemabukan, artinya keterikatan dengan dunia sampai kehilangan kesadaran rohani (Luk. 14:33; Mrk. 10:21-22). Tidak terikat dengan sesuatu inilah yang disebut sebagai perawan suci (2Kor. 11:1-4). Perawan suci dalam bahasa aslinya adalah partenon hagneen (unmarried daughter), seperti wanita yang tidak mengikat tali perkawinan dengan pria. Apakah saudara memiliki ikatan dengan sesuatu?

Tanpa disadari banyak orang telah menjual diri dengan mengikatkan diri dengan pasangan lain selain Tuhan. Dalam hal ini penulis kitab Ibrani menasihati kita dalam Ibrani 12:16-17. Ironisnya, justru Injil yang lain yang merangsang orang Kristen mengasihi dunia dengan teologi kemakmurannya diajarkan oleh orang-orang yang mengaku hamba Tuhan. Mereka juga mendoakan jemaat agar diberkati dengan berkat jasmani tanpa mengajar bagaimana terlepas dari ikatannya. Sehingga tanpa sadar mereka mengadakan ikatan perjanjian dengan dunia.

Seorang yang membuat perjanjian dengan dunia ini ditandai dengan perasaan menghargai sesuatu atau seseorang lebih dari penghargaannya terhadap Tuhan. Jadi sangatlah bijaksana Pemazmur yang mengatakan bahwa selain Tuhan tidak ada yang diingini di bumi (Mzm. 73:25-26). Ini sejajar dengan apa yang diuraikan Paulus dalam Filipi 3:7-11, bahwa segala sesuatu yang dulu dipandangnya berharga dan dianggapnya sebagai nilai atau kebanggaan, sekarang dianggap seperti sampah dan tidak bernilai, setelah ia mengenal Tuhan Yesus dan bersedia memiliki Yesus dengan melepaskan semuanya. Perlu waktu untuk proses pelepasannya, tetapi harus diusahakan dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini hanya kebenaran yang dapat memerdekakan. Inilah tujuan pelayanan gereja. Sehingga akhirnya dilahirkan orang-orang yang tidak terbelenggu dunia sama sekali sebagai perawan suci Tuhan Yesus.