Kemerdekaan Dari Tubuh Maut
24 March 2017

Dalam beberapa bagian di Alkitab kita temukan beberapa pernyataan Paulus yang menunjukkan bahwa tubuh yang dikenakannya merupakan belenggu atau bisa dikatakan sebagai penjara (Rm. 7:21-23; Gal. 5:17). Sekilas hal ini sukar dipahami. Terkesan Paulus memiliki pola kehidupan dan kejiwaan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Tetapi sebenarnya tidak, kita semua memiliki gejala-gejala kejiwaan dan pergumulan seperti Paulus, yaitu kita yang sungguh-sungguh sedang bergumul mematikan monster di dalam diri kita dan membangun manusia Allah atau kodrat Ilahi. Kita tahu bahwa kehidupan Paulus merupakan prototype atau model kehidupan anak Allah yang normal. Dari tulisan Paulus ini menunjukkan kejujuran Paulus mengenai adanya pergumulan berat menghadapi tubuh dosa yang dikenakannya.
Paulus menjumpai bahwa di dalam tubuhnya ada hasrat yang cenderung melawan kesucian Allah (Rm. 8:21-23). Paulus menyebutnya sebagai tubuh maut. Itulah sebabnya Paulus sangat merindukan tubuhnya diubahkan dalam tubuh kemuliaan yang baru (Rm. 8:19-25). Harus jujur diakui, sedikit sekali orang Kristen yang memiliki kerinduan mengenakan tubuh baru tersebut, sebab mereka tidak pernah bergumul sungguh-sungguh melawan tubuh maut untuk menyenangkan hati Allah. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang justru menikmatinya tanpa memedulikan perasaan Allah atau Roh Kudus yang diam di dalam dirinya dan yang sudah menjadikan tubuh sebagai bait-Nya.

Ada saatnya anak-anak Allah dimuliakan, yaitu ketika Kerajaan Allah hadir, di mana dihadirkan pula kehidupan yang sempurna, kehidupan yang jauh lebih baik. Pada waktu itu Tuhan memberi tubuh kemuliaan. Tubuh kemuliaan adalah tubuh yang tidak terikat oleh kodrat dosa lagi. Paulus merindukan saat itu. Jadi kita dapat mengerti mengapa Tuhan mengijinkan Paulus memiliki keadaan fisik yang bermasalah, yang disebut duri dalam daging. Menurut analis Alkitab, duri dalam daging di diri Paulus merupakan masalah yang sangat serius yang harus dihadapi Paulus di dalam fisiknya. Kenyataan ini mendorong Paulus merindukan kehidupan yang lebih baik dalam Kerajaan-Nya, yaitu tubuh kemuliaan tanpa penderitaan. Kerinduan ini juga ditegaskan dalam 2 Korintus 5:1-5, ia sangat merindukan tubuh kemuliaan yang tidak dapat sakit, tidak cacat, tidak binasa dan terutama tidak terikat sama sekali oleh hukum atau kodrat dosa.

Kerinduan seperti Paulus ini juga dirasakan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan memiliki tubuh kemuliaan yang baru. Tubuh yang dapat ditundukkan secara sempurna terhadap kehendak Bapa. Hal itu terjadi pada hari kedatangan Tuhan. Orang percaya yang benar tidak lagi berharap dunia dapat membahagiakan. Inilah anak Allah yang normal, yang pikirannya tidak lagi tertuju kepada perkara-perkara dunia ini. Ini adalah pikiran sehat atau hati yang bijaksana. Masalah-masalah besar bagaimanapun dalam hidup tidak menjadi masalah utama dan besar, sebab ia melihat ada masalah lain yang jauh lebih besar. Masalah terbesar adalah bagaimana diterima oleh Allah dalam dunia yang akan datang nanti sebagai anggota keluarga Kerajaan. Untuk ini orang percaya harus menggumulinya dengan sungguh-sungguh, lebih dari menggumuli masalah apa pun dalam kehidupan ini.

Kenyataan yang kita jumpai, banyak orang yang menjadikan masalah minor menjadi mayor atau sebaliknya. Masalah minor adalah masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Adapun masalah mayor kita adalah bagaimana terlepas dari belenggu dunia ini termasuk ikatan daging yang kuat ini dan dapat mengenakan manusia baru atau mematikan monster kita masing-masing. Hal ini sama dengan melepaskan kodrat dosa dan mengenakan kodrat Ilahi. Sama dengan membunuh monster kemudian mengenakan kehidupan anak Allah. Monster dalam diri kita bukan untuk dijinakkan atau dididik untuk menjadi monster yang baik, tetapi harus diakhiri atau dimatikan, agar kehidupan anak Allah dapat terbangun dengan sempurna dalam diri kita. Ketika kita meninggal dan menghadap takhta pengadilan Allah, tidak lagi dijumpai monster apa pun di dalam diri kita, yang ada hanya Kristus yang tinggal di dalam diri kita; wajah anak Allah yang agung seperti Bapa.

Mata hati kita harus tertuju kepada negeri yang dijanjikan Tuhan. Dunia bukan rumah permanen kita (Yoh. 17:16; Flp. 3:20). Orang yang menyadari hal ini akan terdorong untuk berkerinduan mengenakan tubuh kemuliaan (2Kor. 5:8). Kita harus melihat janji dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus di mana kita mengenakan tubuh kemuliaan yang adalah janji yang melampaui segala janji yang Tuhan berikan kepada kita. Janji yang diberikan oleh Bapa, baik kepada Tuhan Yesus maupun kepada kita, adalah kemuliaan bersama Dia. Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus bukan saja menerima mahkota di Kerajaan-Nya, tetapi kita juga terbebas dari tubuh maut ini dan menerima kuasa pemerintahan bersama dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini, kita akan melayani Bapa dan melayani Tuhan Yesus selama-lamanya.