Kematian Dalam Tuhan
25 November 2019

Dalam suratnya Paulus menulis, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:11). Klausa penting yang patut diperhatikan dalam ayat ini adalah “serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Kematian dalam Tuhan menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang harus dialami setiap orang percaya. Jadi, sebelum orang percaya mengalami kematian secara fisik, ia harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Proses kematian manusia lama artinya menanggalkan semua kebiasaan hidup sebelum mengambil keputusan mengikut Tuhan Yesus dengan segala pola berpikir dan filosofinya. Proses kematian manusia lama mengawali atau mendahului kelahiran baru yang Tuhan berikan atau bisa berjalan serempak atau sejajar. Dalam hal ini, tidak ada kelahiran baru tanpa kematian manusia lama.

Alkitab mengatakan bahwa di dalam Yesus Kristus, orang percaya adalah ciptaan baru (2Kor. 5:17). Alkitab juga menyebutkan bahwa orang percaya telah dilahirkan oleh Allah. Namun, ini bukanlah sesuatu yang otomatis bisa terjadi dengan sendirinya. Kelahiran baru adalah hasil atau buah dari perjuangan panjang ketika orang percaya bersedia meninggalkan cara hidup yang lama. Orang percaya tidak boleh menganggap hal ini sebagai hal mudah yang bisa terjadi dalam kehidupannya sehingga tidak perlu diperjuangkan. Sebaliknya, orang percaya harus menganggap hal ini sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sangat serius. Oleh perjuangan yang berat dalam merespons anugerah Tuhan, seseorang dapat dilahirkan oleh Allah dengan natur yang baru.

Panggilan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus dalam kematian-Nya merupakan panggilan untuk semua orang percaya. Serupa dengan Dia dalam kematian-Nya pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya. Untuk itu, orang percaya harus memisahkan diri dari dunia. Memisahkan diri dari dunia berarti bahwa orang percaya tidak lagi memiliki cara hidup seperti yang dimiliki anak-anak dunia. Kalau tujuan hidup orang percaya dahulu sama dengan anak dunia, sekarang tujuan hidupnya haruslah berbeda. Memang pemisahan ini tidak terjadi dalam satu hari, tetapi melalui sebuah proses panjang. Pembaruan pikiran harus terjadi setiap hari supaya tidak sama dengan dunia ini.

Dalam Kolose 3:3 Alkitab berkata, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kalimat ini banyak tidak dimengerti orang. Lebih banyak orang Kristen yang tidak rela kehilangan hidupnya. Padahal, Alkitab jelas mengatakan bahwa kamu telah mati. Hal inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai kehilangan nyawa. Orang yang rela kehilangan nyawa adalah orang

yang rela kehilangan kesenangan hidup, yaitu orang yang bersedia dilahirkan baru. Seseorang tidak akan mengalami kelahiran baru kalau ia tidak rela kehilangan segala kesenangan hidup dan kehormatan manusia. Dalam hal ini harus ditegaskan bahwa kelahiran baru bukanlah proses ajaib dan supernatural. Kelahiran baru adalah proses natural yang dikerjakan Roh Kudus dalam hidup orang-orang yang bersedia kehilangan dunia ini. Dari proses natural ini orang percaya diubah sehingga dapat mengenakan natur baru, yaitu natur Allah.

Firman Tuhan mengatakan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor. 4:10). Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kematian Yesus dalam ayat ini? Kematian Yesus menunjuk pada kepasrahan dari kesediaan Tuhan Yesus yang tulus menerima segala penderitaan yang harus dialami demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah menghindari penderitaan atau kesulitan sebesar apa pun demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Artinya, Ia tidak memiliki kenyamanan di bumi ini, hanya demi melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kehidupan Tuhan Yesus seperti kehidupan seorang yang telah divonis hukuman mati, tinggal menunggu waktu pelaksanaannya. Pengakuan teguh-Nya adalah “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42) Kehidupan dengan pengakuan ini membawa diri seseorang semakin dapat menyelesaikan perjuangan penyangkalan dirinya: selesai dengan sempurna.