Kehilangan Segala Sesuatu
25 December 2017

Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Untuk mengerti jejak-Nya, seseorang harus belajar secara mendalam dan lengkap apa yang ditulis di dalam Injil; semua yang diajarkan Tuhan Yesus dan tulisan para rasul. Tidak memahami Injil-Nya dengan benar berarti tidak pernah mengikut Dia, berarti pula tidak pernah menjadi orang percaya yang benar. Orang-orang Kristen seperti ini tidak pernah memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Mencapai model manusia seperti Tuhan Yesus Kristus harus melalui pergumulan berat yang menyita seluruh hidup dan perhatian kita. Hal ini akan menciptakan “dunia sendiri” yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

Bila orang Kristen mencapai level mengenakan gaya hidupnya Tuhan Yesus, maka inilah stadium memuaskan hati Bapa. Jarang sekali orang menggumuli hal ini dan berhasil mencapainya. Kalau pun mereka menggumuli hal-hal yang bertalian dengan karakter, karena mereka mau mencapai karakter yang baik di mata manusia, bukan sempurna seperti Bapa. Untuk proses menjadi sempurna seseorang harus mempertaruhkan segenap hidup. Tidak bisa setengah-setengah. Tuhan Yesus mengatakan apabila seseorang hendak mengikut Dia, harus rela melepaskan diri dari segala miliknya (Luk. 14:33). Melepaskan diri dari segala milik artinya bersedia meninggalkan segala pola berpikir dan filosofinya. Tanpa keberanian ini, seseorang tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang sejati. Oleh sebab itu, kalau seseorang menyatakan menjadi orang Kristen harus mempertaruhkan segenap hidupnya, atau tidak sama sekali.

Untuk mengembangkan diri agar siap kehilangan apapun dan siapapun, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah seseorang harus mengerti benar apakah hidup itu sesungguhnya. Jika seseorang tidak mengerti maka ia tidak akan rela kehilangan apa yang dia pikir adalah haknya. Padahal, ketika seseorang ditebus oleh darah Tuhan maka segala sesuatu adalah milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Belajar mengenai kebenaran hidup akan membawa kita kepada kesadaran bahwa hidup ini singkat dan kita tercipta hanya untuk Tuhan, bahkan kekosongan jiwa kita hanya bisa diisi oleh Tuhan, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat kita rela melepaskan genggaman kita atas segala sesuatu. Tuhan Yesus berfirman bahwa dengan mengerti kebenaran seseorang dapat dimerdekakan.

Banyak orang yang tidak mengambil keputusan atau mungkin menundanya. Hidup mereka dihanyutkan dengan banyak perkara. Disibukkan dengan banyak kesenangan hidup ini. Di antara mereka ada yang berpikir bahwa suatu hari nanti akan memilih, padahal seiring dengan perjalanan waktu, hati mereka menjadi keras dan tidak akan sanggup memilih untuk dimiliki oleh Tuhan. Kalau seseorang mau dimiliki Tuhan, ia harus masuk proses penyaliban daging dengan segala hawa nafsunya (Gal. 5:24-25). Menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya berarti meninggalkan pola pikir yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ingat bahwa pikiran seseorang yang mengontrol orang tersebut. Tuhan mau memiliki dan menguasai kita (karena kita memang milik-Nya), tetapi Tuhan tidak bisa memiliki kita karena kita mau memiliki diri sendiri. Untuk itu, kita harus belajar prinsip-prinsip kebenaran Injil. Pikiran yang dipenuhi kebenaran Injil akan membelenggu seseorang. Belenggu itu membuat seseorang dimiliki Tuhan. Sebaliknya, ketika pikiran seseorang dipenuhi dengan berbagai kesenangan dan filosofi dunia, maka ia dibelenggu oleh pikirannya tersebut sehingga dimiliki kuasa kegelapan.

Sebenarnya, setiap orang percaya harus sudah kehilangan hak. Sebab penebusan oleh Tuhan Yesus di satu aspek berarti dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, dan surga disediakan. Tetapi di aspek lain, penebusan oleh Tuhan Yesus berarti kita menjadi miliknya. Kita kehilangan segala hak hidup sendiri (1Kor. 6:19-20). Sama seperti seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan, maka tuan ini yang berhak penuh atas budak tersebut. Seorang budak tidak berhak atas dirinya. Dengan orang percaya rela kehilangan hak, maka Tuhan dapat menggarap setiap individu untuk menjadi seperti diri-Nya.

Kekristenan yang benar seperti yang dijelaskan di atas ini adalah kekristenan yang “tidak memberi tetapi menuntut”. Kekristenan seperti ini “tidak memberi“, ini bukan berarti orang percaya tidak memperoleh apa-apa. Jelas bahwa keselamatan membuka akses manusia bisa menjumpai Bapa. Selain itu, orang percaya juga memiliki kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Dengan anugerah yang begitu besar, seharusnya orang percaya tidak perlu lagi meminta apa pun, maka kekristenan yang benar tidak lagi menjanjikan apa pun selain menuntut orang percaya untuk “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” dan memikul salib. Jika kekristenan yang benar diajarkan atau ditawarkan, maka tidak ada peluang sama sekali menjual nama Yesus dengan alasan apapun.