Kehilangan Nyawa
25 March 2020

Bapa menghendaki agar suatu hari nanti Ia menemukan orang-orang yang berkepribadian seperti Anak Tunggal-Nya, sehingga Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Menjadi yang sulung artinya bahwa Tuhan Yesus terlebih dahulu berprestasi mencapai kehidupan sempurna seperti yang Bapa kehendaki. Selanjutnya, ada banyak orang percaya yang juga memiliki kehidupan seperti diri-Nya. Menjadi saudara bagi Tuhan Yesus berarti menjadi manusia Allah seperti Tuhan Yesus. Inilah prestasi yang harus dicapai oleh setiap orang percaya. Bapa ingin dapat menemukan “wajah Yesus” di dalam diri setiap orang percaya. Dalam hal ini, pengakuan Paulus yang mengatakan: “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20) adalah standar yang harus dimiliki semua orang percaya. Kalau Paulus mengatakan bahwa hidupnya bukan dia lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam dirinya, berarti ia harus mati terlebih dahulu agar Tuhan Yesus bisa hidup di dalam dirinya. Kristus tidak bisa hidup dalam diri orang percaya tanpa orang percaya tersebut mengalami kematian.

Untuk mencapai level ini, dibutuhkan pengorbanan yang sangat mahal dengan usaha yang sangat serius. Sebab, untuk memiliki pencapaian kehidupan rohani seperti Paulus ini, tidak ada cara lain kecuali mati. Mati agar kehidupan Kristus terbangkitkan dalam diri orang percaya. Apa yang dimaksud dengan “mati” di sini? Dan apa yang dimaksud dengan “kehidupan Kristus?” Tentu kematian yang dimaksud di sini bukanlah mati dalam arti jasmani, dimana seseorang harus dikubur di tanah dan kembali menjadi debu. “Kematian” di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dalam diri seseorang. “Kematian” di sini juga berarti pemadaman kehidupan wajar yang dimiliki manusia pada umumnya dan bersedia mengenakan kehidupan seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesus adalah model manusia yang diingini oleh Allah. Jika kita hendak memahami manusia macam apakah yang dikehendaki oleh Allah, diri Tuhan Yesuslah jawabannya. Selanjutnya, kehidupan Kristus berarti karakter yang berstandar Allah atau yang sama dengan sempurna seperti Bapa.

Jika seorang orang percaya benar-benar berhasrat untuk memiliki kehidupan ilahi tersebut, ia harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada padanya. Sebab, hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha setengah-setengah. Harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas, baik tenaga, pikiran, waktu, dan segala hal yang ada di dalam kehidupan kita. Jika ada hal lain yang dianggap lebih menarik dari mengenakan pribadi Kristus, ia tidak pernah mencapai prestasi ini. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengatakan barangsiapa tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, ia tidak dapat menjadi murid-Nya. “Melepaskan diri dari segala milik” berarti bersedia masuk ke dalam proses kematian diri sendiri demi kehidupan Allah terbangkitkan dalam dirinya. Dengan memahami kebenaran ini, diharapkan akan dilahirkan manusia-manusia ilahi (man of God) yang dipersiapkan untuk menjadi saudara-saudara bagi Tuhan Yesus Kristus, yang nantinya akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus mewarisi Kerajaan Allah atau dimuliakan bersama dengan Kristus untuk menerima janji Bapa.

Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini, suatu hari harus berakhir dan lenyap tiada bekas, kecuali kebinasaan. Sebab, keinginan-keinginan manusia pada umumnya pasti menggeser keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan bagi diri sendiri.” Bila ia seorrang yang kuat dalam materi atau kedudukan, maka ia juga bisa menjadi “tuhan bagi sesamanya.” Tetapi, banyak orang tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Umat Perjanjian Baru dipanggil untuk memuliakan Tuhan dalam dan melalui segala hal. Ini berarti, hidup untuk kepentingan Tuhan sepenuhnya. Hal ini hanya bisa dialami oleh orang-orang yang rela kehilangan nyawa.

Orang-orang yang rela kehilangan nyawa adalah orang-orang yang rela kehilangan kesenangan hidup yaitu orang-orang yang bersedia dilahirkan baru. Seseorang tidak akan mengalami kelahiran baru kalau tidak rela kehilangan segala kesenangan hidup dan kehormatan manusia. Sama seperti Nikodemus, tidak akan pernah mengalami kelahiran baru kalau tidak meninggalkan kenyamanannya sebagai pemimpin agama Yahudi. Juga orang kaya yang ditulis dalam Matius 19:16-22, tidak pernah mengalami kelahiran baru, sebab ia tidak rela meninggalkan keterikatannya dengan percintaan dunia. Dalam hal ini, harus ditegaskan bahwa kelahiran baru bukanlah proses yang ajaib dan supranatural. Kelahiran baru adalah proses natural yang dikerjakan Roh Kudus dalam hidup orang-orang yang bersedia kehilangan dunia ini. Dari proses natural ini, kita diubah mengenakan natur baru, yaitu natur Allah.