Kecantikan Rohani
27 November 2019

Sejatinya, maksud keselamatan dalam Yesus Kristus adalah “mendandani manusia batiniah.” Paulus menyebutnya sebagai pembaruan manusia batiniah. Hal ini membutuhkan waktu panjang; tidak dapat dikerjakan dalam sekejap. Suatu saat, orang- orang yang mengabaikan hal ini akan sangat menyesal ketika mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengubah diri. Pendandanan ini semakin sulit ketika seseorang sudah telanjur rusak oleh pengaruh dunia. Ia harus kerja keras untuk mengubah dirinya yang sudah berkeadaan rusak parah. Orang percaya harus berdandan seperti mempelai bagi Kristus. Hanya Roh Kudus yang dapat menuntun orang percaya untuk menjadi cantik sesuai dengan selera Tuhan, Sang Mempelai Pria (2Kor. 11:2-4).

Kata “cantik” bersinonim dengan kata elok, molek, bagus. Kata-kata ini berarti sesuatu benda atau seseorang yang berkeadaan baik, indah tidak bercacat. Kata ini memang lebih banyak digunakan untuk melukiskan wajah wanita. Kecantikan rohani berarti keadaan kehidupan rohani seseorang yang baik, indah tidak bercacat. Keadaan rohani di sini maksudnya adalah keadaan pikiran, hati, dan batin seseorang. Unsur rohani atau jiwani manusia adalah suatu hal yang tidak kelihatan dalam diri manusia, tetapi manifestasinya tampak jelas melalui perkataan, tingkah laku, dan perbuatan seseorang.

Kecantikan jasmani mudah dilihat karena dapat ditangkap dengan mata jasmani, tetapi kecantikan rohani tidak mudah dilihat. Namun, itu bukan berarti tidak akan dikenali. Kecantikan rohani tetap akan dapat dikenali. Untuk menutupi ketidakcantikan jasmani, banyak cara yang dapat dilakukan: mulai dari make up sampai operasi plastik. Namun untuk menutupi ketidakcantikan rohani, biasanya orang harus bersikap munafik. Munafik artinya pura-pura (apa yang dilakukan tidak sesuai dengan keadaan isi hatinya). Tuhan Yesus sangat mengecam kemunafikan sebagai upaya untuk menutupi kejelekkannya macam ini (Mat. 23:27-28). Ukuran kecantikan jasmani bersifat relatif, walaupun pada umumnya manusia mempunyai standar yang hampir sama. Bagi masing- masing orang, istrinyalah yang paling cantik. Namun pada umumnya, orang yang memiliki organ tubuh—khususnya wajah yang tidak bercacat—organ wajah harmonis, adalah yang disebut berkategori cantik. Namun demikian, bagaimana pun kecantikan jasmani tetap relatif sifatnya.

Lalu, apa ukuran kecantikan rohani? Ukuran itu bukan jabatan rohani, bukan kemampuan melakukan pekerjaan gerejani, atau gelar sekolah Alkitab, dan lain sebagainya. Kecantikan jasmani bertolak pada pandangan manusia. Karena jumlah manusia banyak dan pandangan serta persepsinya berbeda-beda, kecantikan jasmani bersifat relatif, tergantung siapa yang menilai. Kecantikan rohani tidak relatif. Kecantikan rohani bertolak pada pandangan Tuhan. Oleh karena Tuhan hanya satu dan Ia adalah Allah yang tidak berubah, Allah yang konsisiten, ukuran-Nya pun tunggal, tidak relatif. Ukuran kecantikan rohani dapat dilihat dalam Matius 3:17 yaitu, “Yang Allah berkenan.” Yang berkenan pada Allah artinya yang kehidupannya tidak bercacat. Tidak bercacat maksudnya bukan tidak bercacat tubuh, melainkan kepribadiannya sesuai dengan hati Tuhan, tidak bercacat rohani. Cacat rohani diuraikan dalam 1 Korintus 10:6-10, yaitu: Pertama, mengingini hal yang jahat. Misalnya: dendam, kebencian, kemarahan, permusuhan, dan lain-lain. Kedua, penyembahan berhala: mengasihi sesuatu dan seseorang lebih daripada mengasihi Tuhan. Ketiga, percabulan: seperti penyelewengan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Keempat, mencobai Tuhan: artinya tidak memercayai kasih, kehadiran dan pemeliharaan Tuhan. Kelima, bersungut-sungut: yaitu sikap tidak mensyukuri keadaan hidup.

Model manusia yang cantik rohani, yang berkenan kepada Allah adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah pribadi yang tidak bercacat: bersih luar dan dalam. Orang percaya yang berkeadaan cantik rohani, tak bercacat seperti Tuhan Yesus, itu adalah kehendak Allah Bapa (Rm. 8:29). Dengan keadaan itu, Bapa di surga dapat berkata, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Itulah sebabnya firman Tuhan menasihati orang percaya dalam Filipi 2:5 agar orang percaya berpikir dan berperasaan seperti Kristus; dengan kata lain memiliki keadaan rohani seperti Kristus. Berkenan kepada Allah berarti menjadi anak kesukaan Tuhan, bukan hanya anak kesayangan. Allah menghendaki agar orang percaya berkenan di hadapan Allah dengan cara berkeadaan manusia batiniah yang cantik, yang baik yang elok (1Ptr. 3:4).

Tuhan Yesus telah naik ke surga, sehingga kehadiran-Nya tidak dapat dilihat dengan mata jasmani manusia. Namun, Ia mau tampil dalam gelanggang dunia ini melalui dan di dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa orang percaya memancarkan kemuliaan Tuhan (2Kor. 3:3, 18). Dalam hal ini, orang percaya mencerminkan kemuliaan Tuhan. Melalui kehidupan orang percaya, orang akan menemukan terang Allah dan pribadi Tuhan Yesus Kristus. Diharapkan sebelum menutup mata, seseorang sudah menyelesaikan dengan sempurna pendandanan manusia batiniahnya sehingga memiliki kecantikan rohani yang menyukakan hati Allah.