Keberhargaan Diri
26 April 2017

Salah satu penyesatan yang dilakukan Iblis kepada manusia adalah tidak menghargai diri sendiri atau menghargai diri sendiri secara salah. Tidak menghargai diri sendiri sama dengan tidak mengasihi diri sendiri. Karena tidak mengerti nilai dirinya yang tinggi maka ia tidak menghargainya. Sama seperti kalau seseorang tidak mengerti nilai suatu benda maka ia menelantarkan atau menyia-nyiakan benda itu. Dengan cara bagaimana seseorang tidak menghargai dirinya? Ketika seseorang membiarkan dirinya dikuasai oleh “roh” yang bertentangan dengan Roh Allah, maka berarti ia membuang dirinya ke dalam api kekal. Kebodohan orang-orang seperti ini juga ditunjukkan dengan menghargai dirinya secara salah. Menghargai diri secara salah yaitu memenuhi segala kebutuhan jasmani dan ambisi pribadi tetapi tidak berusaha melakukan kehendak Tuhan atau memuaskan hati Tuhan. Ketika seseorang memuaskan dirinya sendiri, maka berarti ia mengasihi dirinya secara salah. Tetapi ketika seseorang berusaha memuaskan hati Tuhan, maka berarti ia menghargai dirinya dengan benar. Mengapa demikian? Sebab manusia memang tercipta hanya untuk Tuhan (Rm. 11:36)

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya sangat berharga. Nilainya tidak dapat diukur dengan uang atau sesuatu yang lain. Keberhargaan diri manusia dibuktikan dengan kerelaan Allah menjadi manusia untuk menyelamatkannya. Diri-Nya sendiri sebagai tebusan untuk merebut manusia dari tangan kuasa kegelapan. Mengapa manusia tidak menghargai dirinya?

Pertama, ia tidak menyadari dan tidak menghayati bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej. 1:26-27). Manusia diciptakan lebih mulia dari segala apa yang Allah ciptakan, ia adalah citra dari segala ciptaan Allah. Hal ini nyata dari keberadaan manusia. Manusia memiliki elemen-elemen yang tidak dimiliki oleh makhluk lain secara lengkap dan sempurna.

Kedua, ia tidak menyadari dan tidak menghayati bahwa manusia memiliki unsur kekekalan yang bersumber dari Allah (Kej. 2:7). Ketika manusia diciptakan, kepadanya Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (nephesy). Itulah unsur kekekalan dalam diri manusia. Unsur inilah yang dapat membawa manusia kepada realitas kekekalan (masuk neraka kekal atau masuk surga kekal). Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata: “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?”, dalam teks aslinya ditulis psuken autou Zemiothe (lose his own soul) (Luk. 9:25; Mat. 16:26; Mrk. 8:36). Mahalnya manusia sebab manusia adalah makhluk kekal.

Ketiga, ia tidak menyadari dan tidak menghayati bahwa Allah mempunyai rencana kekal atas manusia (Kej. 2:15). Pola rencana kekal itu sudah nampak di dalam kisah Kejadian ini, manusia diciptakan untuk bersekutu, melayani dan mengabdi kepada Tuhan. Manusia hendak dijadikan kawan sekerja Allah kekal. Sangat besar kemungkinan bahwa manusialah yang dirancang untuk mengalahkan Iblis (Kej. 1:28). Manusia harus mengelola bumi dan menaklukkannya, berarti manusia juga harus menyingkirkan semua yang menggganggu pengelolaan alam semesta ini, di dalamnya termasuk para malaikat yang jatuh yang dibuang ke bumi. Inilah tujuan hidup satu-satunya yang manusia miliki.

Karena dosa, manusia tidak lagi hidup bersekutu, melayani dan mengabdi kepada Tuhan, tetapi manusia hidup dalam persekutuan dengan dunia dan Iblis. Manusia memberontak kepada Allah sehingga manusia melayani diri sendiri dan mengabdi kepada dosa. Manusia menjadi budak dosa. Manusia telah kehilangan maksud dan tujuan dirinya diciptakan. Apakah kalau sudah demikian (keadaan manusia yang berdosa) manusia tidak lagi berharga di mata Tuhan? Jawabnya tidak, manusia masih berharga di mata Tuhan. Tuhan rela menebus manusia dengan diri-Nya. Jadi kalau kita mau menghargai diri sendiri dengan benar, hendaknya kita berusaha menemukan apa yang Tuhan rencanakan dalam hidup kita. Apa yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan demi mewujudkan rencana-Nya di mana kita diperkenan untuk terlibat.

Dengan penjelasan ini, seharusnya kita memahami bahwa kalau kita hendak menjadi benar-benar berharga, kita harus bergumul untuk meningkatkan kehidupan rohani kita menuju kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang-orang yang tidak berkeberadaan seperti itu artinya tidak melakukan kehendak Bapa, ia tidak akan diperkenan masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan. Dengan demikian, kita benar-benar berkeadaan menjadi berharga atau tidak, pada akhirnya tergantung diri kita masing-masing.