Kebenaran Sebagai Cap
24 June 2017

Kalau diperhatikan, ajaran mereka yang tidak berlandaskan pada Alkitab yang murni yang sedang dipromosikan besar-besaran dewasa ini, sangatlah bertentangan dengan kebenaran Injil. “Nabi-nabi palsu” sebagai pengajar tersebut dipercayai oleh banyak orang sebagai wakil Tuhan. Apalagi kalau mereka bersaksi bahwa mereka memiliki kedekatan khusus dengan Tuhan, maka banyak jemaat yang tidak pernah belajar Injil dengan benar percaya saja sepenuhnya dan mereka telah tertipu. Ciri dari nabi palsu tersebut di antaranya adalah tidak sungguh-sungguh membedah Alkitab untuk dipahami isinya guna pembaharuan pikiran untuk mengerti kehendak Allah. Mereka juga biasanya senang menjadi orang yang dikultuskan. Tentu dengan kesaksian-kesaksian bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang luar biasa di mata Tuhan. Khotbah mereka membicarakan kemakmuran dan berkat jasmani. Pelayanan mereka diarahkan untuk penyelesaikan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau mereka berbicara mengenai surga, mereka mengesankan bahwa ke surga itu mudah. Seakan-akan mereka bisa membantu orang untuk bisa masuk surga. Padahal mereka memarkir jemaat di dunia, yang akhirnya akan terbuang ke dalam api kekal.

Pengajaran seperti itu akan membuat seseorang tidak pernah bisa “terbang”, terangkat memikirkan kehidupan yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi yang baru. Tetapi nabi-nabi palsu tersebut berhasil mengesankan bahwa jemaat sudah menjadi umat kesayangan Tuhan yang akan menikmati kelimpahan berkat jasmani selama di dunia dan kalau nanti mereka mati akan pasti dengan mudah masuk surga. Padahal Kekristenan tidak sederhana seperti ini. Mengikut Tuhan Yesus adalah jalan yang sukar, sebab untuk diselamatkan seseorang harus berjuang memasuki jalan yang sesak. Untuk bisa masuk Kerajaan Surga, seseorang harus dicap dengan kebenaran Tuhan. Dalam hal ini jelas sekali betapa sukarnya mengubah cap dalam hati nurani yang sudah terlanjur tergoresi oleh cara hidup nenek moyang dan manusia di sekitarnya. Cap yang digoreskan oleh nenek moyang adalah suatu kehidupan wajar yang dimiliki hampir semua manusia di dunia. Semakin hari cap itu semakin dalam menggores sampai tidak bisa dihapus lagi. Cap inilah yang menunjukkan siapakah majikan yang memilikinya. Kata “kausteriatzo” (καυστηριάζω) selain berarti menghanguskan juga berarti menjadi keras dan tidak berperasaan.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka belum memiliki tanda sebagai orang yang dimiliki oleh Tuhan. Mereka masih memiliki diri sendiri, dengan demikian maka Iblislah yang memiliki diri mereka. Sampai level tertentu mereka tidak akan pernah bisa dimiliki oleh Tuhan karena terlalu dalam guratan yang menggores hati nuraninya. Goresan itu adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Untuk bisa keluar dari keadaan yang membahayakan ini seseorang harus mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni. Sudah mendengar Firman Tuhan yang murni saja belum tentu seseorang dengan mudah dapat berubah, apalagi kalau tidak mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni. Kalau seseorang selalu menerima kebenaran Firman Tuhan yang murni dan memberi diri terus berubah, maka hati nuraninya akan dicap oleh Tuhan dengan kebenaran tersebut. Dalam hal ini kebenaran Tuhan seperti besi panas yang men”cap” sebagai tanda bahwa diri seseorang adalah milik Tuhan.

Orang yang dicap dengan kebenaran Firman Tuhan, ekspresi kehidupannya adalah ekspresi kehidupan anak Allah yang makin tajam atau kuat. Pandangan-pandangan hidupnya adalah pandangan hidup anak Allah yang berpusat pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Semakin hari pandangan hidup itu semakin melekat pada hati nuraninya. Kalau sudah melekat menjadi lukisan atau cap di hati nuraninya, pasti terekspresi dalam kehidupan secara konkret. Hal ini dikenali sebagai karaker atau watak orang tersebut. Kehidupan anak Allah yang benar seperti ini pasti memancarkan kemuliaan Allah, sehingga ia dapat menjadi saksi Tuhan yang efektif. Di manapun ia berada pasti membawa keteduhan bagi orang lain. Dengan demikian, cap kebenaran pada hati nurani seseorang tidak mungkin tersembunyi, sebagaimana cap duniawi dalam hidup seseorang pasti terbaca dan dirasakan oleh orang di sekitarnya.