Isi Pelayanan Yang Benar
28 February 2017

Biasanya pelayanan gereja dimulai dari kerinduan agar orang-orang jahat menjadi baik. Keluarga-keluarga yang bermasalah dipulihkan sehingga dapat membangun keluarga yang bahagia. Jemaat diberkati secara finansial, anak-anak sukses dalam studi dan karirnya serta memperoleh jodoh sesuai dengan kehendak Allah dan hidup bahagia. Mereka yang sakit dapat memperoleh kesembuhan, sehingga hidup dalam tubuh yang sehat dan bahagia. Orang-orang yang belum atau tidak ke gereja bisa dibawa ke gereja menjadi orang Kristen yang rajin datang ke kebaktian. Gereja memiliki aktivitas yang menarik dan membuat jemaat senang bergereja. Gereja menjadi maju dengan jumlah jemaat yang bertambah, gedung gereja bisa dibangun besar dan megah, bila mungkin bisa memiliki radio Kristen, klinik Kristen, rumah yatim piatu, panti jompo dan berbagai kegiatan misi penginjilan. Inilah kegiatan pelayanan yang dipandang sebagai menyukakan hati Tuhan. Biasanya kegiatan-kegiatan tersebut juga didorong oleh semangat membela denominasinya. Sampai hari ini dan pada umumnya (hampir semua) gereja-gereja bernuansa kegiatan pelayanan demikian.

Pelayanan gereja standar seperti yang dikemukakan di atas kelihatannya baik dan mulia, tetapi sebenarnya masih meleset. Model pelayanan gereja tersebut masih membuka celah atau berpotensi terhadap kemungkinan oknum-oknum tertentu mencari keuntungan (biasanya pendeta atau rohaniwannya) dan masih bernuansa membangun kerajaan di bumi. Model pelayanan tersebut masih bisa menjadi kendaraan untuk memuaskan keinginan manusia dan sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi maupun untuk kelompok, organisasi atau institusinya. Kesalahan bukan pada kegiatannya, tetapi motivasi apakah yang menggerakkan seseorang atau suatu komunitas melakukan hal tersebut.

Kalau seseorang bertumbuh dewasa secara benar, yaitu terbangunnya kodrat Ilahi (divine nature), maka pelayanan tidak akan terkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan lahiriah, tetapi pembangunan manusia batiniahnya, yaitu bagaimana menjadi manusia Allah (man of God). Menjadi manusia Allah artinya memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, tidak tertarik sama sekali dengan dunia ini sebab hatinya tidak bisa dibahagiakan oleh apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya dan kerinduannya adalah Rumah Bapa. Jika demikian, maka para rohaniwan (pendeta dan jajarannya) akan berusaha untuk lebih dahulu mencapai kesempurnaan supaya bisa menjadi teladan. Suatu kemutlakkan bahwa gereja harus memiliki kebenaran yang mengubah mindset (cara berpikir), sebab pola (cara) berpikir akan pasti mengubah seluruh perilaku. Selain itu gereja harus memiliki role model yang dapat menjadi teladan bagi jemaat.

Dengan jiwa atau esensi pelayanan yang benar seperti itu, maka yang dirindukan dan diusahakan bukan saja agar orang jahat menjadi baik, tetapi orang berdosa menjadi sempurna, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita mengajar jemaat bukan hanya membangun rumah tangga yang bahagia di bumi tetapi bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Semua sukses studi, karir, bisnis dan semua kegiatan hidup hanya dipersembahkan bagi Tuhan sepenuhnya. Jemaat bukan hanya belajar memberi persepuluhan, tetapi segenap hidupnya didedikasikan untuk kepentingan Kerajaan Surga. Jemaat diajar untuk bertanggung jawab agar memiliki kesehatan secara berkesinambungan, bukan hanya mukjizat kesembuhan sesaat. Supaya dengan tubuh sehat dapat menjadi pelayan Tuhan yang efektif melalui segala bidang yang digelutinya.

Orang-orang yang belum atau tidak ke gereja bukan hanya dibawa ke gereja menjadi orang Kristen yang rajin datang ke kebaktian, tetapi diubah pola berpikirnya sehingga layak menjadi warga Kerajaan Surga. Gereja bukan hanya memiliki aktivitas yang menarik dan membuat jemaat senang bergereja, tetapi mereka menjadi orang-orang yang haus dan lapar akan kebenaran, yaitu merindukan Firman Tuhan dan menjadi sempurna. Jumlah jemaat tidak lagi menjadi tujuan utama, tetapi yang terutama adalah kualitas individu untuk serupa dengan Yesus. Semua kegiatan lain seperti radio, televisi, klinik, panti asuhan, panti jompo, misi penginjilan dan lain sebagainya hanya sarana untuk membangun manusia Allah, manusia yang layak menjadi anak Allah guna menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Isi pelayanan yang benar menutup pintu terhadap praktik manipulasi.

Pelayanan yang benar memiliki isi pelayanan tiga hal:
Pertama, menggiring umat menjadi anak-anak Allah yang tidak bercacat dan tidak bercela. Ini berarti menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
Kedua, mengarahkan jemaat hanya terfokus ke langit baru dan bumi yang baru. Ini berarti jemaat semakin dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, sehingga merindukan pulang ke rumah Bapa. Orang Kristen seperti ini tidak lagi dapat dibahagiakan oleh sesuatu di bumi ini, selain Tuhan dan Kerajaan-Nya.
Ketiga, memaksimalkan semua potensi dengan bertanggung jawab dan kerja keras; dari masalah kesehatan sampai nafkah, dan semua hanya demi kepentingan Kerajaan Allah. Jadi, semua jemaat hidup hanya untuk melayani Tuhan sebagai hamba-Nya.