Iman Yang Sejati
29 October 2017

Iman yang sejati adalah iman yang bertumpu pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan dialami, dan yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seorang yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala keadaan. Orang percaya yang memahami kebenaran ini, tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia akan tetap memercayai Pribadi Allah walaupun keadaannya tidak memuaskan hatinya. Ia tetap memercayai Tuhan sekalipun doanya tidak dikabulkan Tuhan.

Harus kita sadari bahwa ambisi mengadakan atau mengalami mukjizat adalah godaan besar yang membuat kita cenderung memaksakan kehendak diri sendiri, bukan kehendak Allah. Iman yang sejati ditunjukkan Tuhan Yesus melalui pergumulan-Nya di taman Getsemani dengan pengakuan: Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak -Mu lah yang jadi (Mat. 26:39-44). Di sini Tuhan Yesus menunjukkan ketaatan-Nya sebagai seorang Anak. Tuhan Yesus dapat memuaskan hati Bapa oleh ketaatan-Nya tersebut. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Ia yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Kehidupan seperti inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita agar iman kita menuju kesempurnaan (Ibr. 12:1-3). Beriman kepada Tuhan tidaklah berdasarkan atas apa yang telah Allah kerjakan menurut selera atau kesukaan kita, tetapi menyerah kepada apa pun yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan. Jadi, percaya berarti menyerah kepada Pribadi-Nya. Hal ini ditandai dengan mengerti apa yang diinginkan oleh Allah dalam hidup kita secara pribadi dan melakukannya.

Ketika orang percaya berbicara mengenai iman, hendaknya tidak terjebak pada kecenderungan menghubungkan iman dengan hal-hal yang spektakuler, yaitu mencabut pohon dengan akar-akarnya dan memindahkan gunung ke laut secara harafiah (Luk. 17:6; Mat. 17:20). Memang tidak tertutup kemungkinan pernyataan Tuhan ini juga dapat berarti secara harafiah, yaitu memindahkan gunung atau mencabut pohon seakar-akarnya dalam arti fisik. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang sulit. Tetapi akan lebih memiliki nilai bagi keselamatan jiwa, kalau ayat ini lebih dipahami sebagai kiasan. Kenyataannya, Tuhan Yesus tidak pernah benar-benar mencabut pohon atau memindahkan gunung secara fisik, juga tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Baru maupun dalam sejarah gereja. Lagipula untuk apa pohon tercabut atau gunung dipindahkan? Kalau hanya untuk demonstrasi kuasa Allah, maka yang juga diuntungkan adalah manusia yang memiliki iman memindahkan gunung (secara fisik) tersebut. Allah yang asli (benar) bukanlah Allah yang perlu bersikap gagah-gagahan supaya dipuji.

Dalam ucapan Tuhan mengenai mencabut pohon seakar-akarnya di Lukas 17:6, tidak ada sama sekali unsur kepentingan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan tindakan Tuhan Yesus di Matius 21:18-22, yaitu ketika Tuhan mengutuk pohon ara dan berbicara mengenai iman yang dapat memindahkan gunung, hal ini harus dimengerti dengan benar. Tindakan Tuhan membuat pohon ara menjadi kering bertujuan memberi pelajaran kepada murid-murid-Nya, bahwa menjadi pohon harus berbuah, sebab Tuhan menghendaki orang percaya berbuah bagi Dia (Yoh. 15:1-7; Gal. 5:22-23). Buah kehidupan itu pada dasarnya adalah ketaatan kepada Bapa.

Oleh sebab itu, pelajaran rohani dari hal pohon ara yang daunnya dibuat kering oleh Tuhan, memindahkan gunung dan mencabut pohon seakar-akarnya, tidak boleh diartikan salah. Hendaknya kita tidak berpikir, bahwa kita diperkenan oleh Tuhan untuk meyakini dalam doa bahwa sesuatu akan terjadi atau kita diperoleh, karena kita meyakini sesuatu itu dapat terjadi. Kita harus terlebih dahulu mengerti kehendak Tuhan atas sesuatu, barulah kita meyakini akan memperoleh sesuatu tersebut. Jika tidak demikian, seakan-akan Tuhan bisa diatur atau dipengaruhi oleh keyakinan dalam pikiran seseorang.

Pemikiran keliru ini ada pada banyak orang Kristen sekarang ini yang memiliki definisi iman yang salah. Hal ini sangat berbahaya, sebab dapat mengakibatkan orang-orang Kristen tidak terfokus kepada iman sejati yang menyelamatkan. Tetapi mereka terfokus pada kekuatan pikiran untuk dapat mengatur Tuhan dan memperoleh apa yang diingini. Biasanya yang diingini adalah pemenuhan kebutuhan jasmani atau ambisi pribadi. Sebaliknya, orang yang mengerti kehendak Allah pasti memfokuskan diri pada kesucian hidup dan kekekalan Kerajaan-Nya.