Iman Yang Benar
23 March 2020

Sesungguhnya, harga iman kepada Tuhan Yesus adalah “melakukan kehendak Bapa.” Ini bukan berarti untuk meraih keselamatan harus dengan berbuat baik. Keselamatan diberikan kepada kita oleh anugerah yang kita terima dengan iman. Tuhan mengasihi dengan menyediakan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Alkitab mengajarkan, bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8). Keselamatan dalam bentuk dipulihkannya hubungan dengan Tuhan dan harapan Kerajaan Surga yang abadi, diberikan kepada kita, diawali oleh kurban Yesus di kayu salib. Respons terhadap Tuhan yang menyediakan kurban tersebut adalah iman dengan harga yang harus dibayar. Persoalannya adalah respons yang bagaimanakah yang harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa seseorang beriman kepada-Nya secara benar? Kalau Abraham menunjukkannya dengan meninggalkan Ur-Kasdim dan kerelaan menyembelih anaknya sendiri, bagaimana dengan kita? Cukupkah dengan pergi ke gereja atau melakukan kegiatan beragama? Untuk ini, Firman Allah menunjukkan kepada kita respons yang seharusnya dilakukan, bukan hanya ke gereja atau melakukan suatu kegiatan rohani, melainkan melakukan kehendak Bapa.

Dikatakan dalam Firman Allah, bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm. 10:17). Dari mendengarkan Firman Allah tersebut, seseorang dapat mengerti kehendak Tuhan. Setelah mengerti Firman Allah, seseorang belajar hidup dalam ketaatan, yang sama artinya dengan melakukan kehendak Bapa (Rm. 10:19-21). Jadi, respons yang diharapkan bukan hanya dengan hati percaya dan mulut mengaku tanpa tindakan. Pada kenyataan dan memang seharusnya, kalau hati percaya dan mulut mengaku, maka percaya dan pengakuan tersebut akan terwujud dalam tindakan. Banyak orang hanya memungut bagian-bagian dalam ayat Firman Allah tanpa melihat keseluruhan penjelasan yang terdapat dalam satu perikop dan mengartikan secara sembarangan.

Berkenaan dengan hal di atas, banyak orang hanya memungut Roma 10:10, yaitu dengan hati percaya dan mulut mengaku, maka sudah selamat; berarti hubungan dengan Tuhan secara otomatis sudah pulih secara ideal, dan mereka boleh meyakini kalau mati, nanti masuk surga. Inilah pekerjaan Iblis yang menggunakan ayat-ayat Alkitab secara keliru untuk membinasakan manusia seperti yang pernah dilakukan Iblis terhadap Yesus (Mat. 4:1-11). Kita harus memeriksa dengan jujur, benarkah kita sudah memiliki hubungan dengan Tuhan secara benar, dan perilaku kita selalu menyenangkan hati-Nya? Apakah kita memiliki keyakinan bahwa kematian adalah sesuatu yang indah sehingga kematian benar-benar bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan menyenangkan?

Iman timbul dari pendengaran oleh Firman Kristus. Perlu kita memerhatikan kata “Firman Kristus.” Kalau Abraham mendengar Firman Yahweh, orang percaya mendengar perkataan Tuhan Yesus Kristus. Di sini, apa yang diajarkan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun menimbulkan iman yang menyelamatkan. Jadi, seseorang tidak akan selamat tanpa mendengar segala sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, dalam Amanat Agung, Tuhan Yesus memerintahkan agar orang percaya diajar melakukan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya. Jika seseorang benar-benar mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus dan melakukannya, ia akan menjadi seorang yang memiliki tindakan-tindakan konkret dari percaya dalam hati dan pengakuan mulutnya.

Dalam mempelajari Roma 10, seharusnya bukan hanya membaca ayat 17, tetapi juga ayat 20-21: Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku. Tetapi tentang Israel ia berkata: ‘Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.’” Dalam teks ini, Tuhan berbicara juga mengenai ketaatan kepada-Nya. Ini berarti iman yang benar bukan hanya aktivitas pikiran atau nalar kita, melainkan tindakan, yaitu dengan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Seperti bangsa Israel yang ternyata tidak taat dan selalu membantah kepada Allah sehingga harus dihukum, demikian pula orang Kristen yang tidak taat dan selalu membantah—artinya tidak mau melakukan kehendak Bapa—akan ditolak oleh Allah.

Oleh sebab itu, harus selalu diperdengarkan kepada jemaat bahwa iman adalah tindakan penurutan terhadap kehendak Allah. Percaya di dalam nalar belumlah percaya yang menyelamatkan, tetapi percaya yang diwujudkan dalam tindakan adalah percaya yang menyelamatkan. Tindakan sebagai wujud percaya akan membentuk seseorang menjadi dewasa rohani, seperti yang dikatakan oleh Yakobus bahwa oleh perbuatan iman, seseorang menjadi sempurna. Jadi, kalau dikatan iman datang dari pendengaran, pendengaran oleh Firman, bukan hanya masalah telinga yang mendengar, atau sekadar pikiran yang mengerti, melainkan kesediaan melakukan apa yang Allah kehendaki.