Hubungan Dan Kedudukan Dua Bangsa
31 May 2018

Hubungan bangsa Israel atau umat Perjanjian Lama dan orang percaya atau umat Perjanjian Baru, serta kedudukan mereka di hadapan Tuhan serta perbedaannya, merupakan suatu hal yang harus dipahamai dengan tepat. Ketidakmampuan memahami relasi, kedudukan mereka di hadapan Tuhan dan perbedaan diantara keduanya, sangat berpengaruh dalam kehidupan orang percaya. Bila salah memahami hal tersebut, seseorang juga akan gagal memahami hal perpuluhan dan persembahan yang lain. Sebab biasanya, orang Kristen -khususnya para pendeta atau pembicara- mencampur adukan ayat-ayat Firman Tuhan yang khusus ditujukan bagi umat Perjanjian Lama dengan ayat-ayat untuk umat Perjanjian Baru. Sebagai akibatnya, terjadi kesalahan tafsir yang sangat fatal. Hal ini juga mengaburkan standar norma yang dikenakan bagi umat Perjanjian Baru, serta merusak pola berpikir umat Perjanjian Baru sehingga mengacaukan pula tujuan hidup Umat Perjanjian Baru.

Untuk menganalisa relasi, kedudukan bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru serta perbedaaan diantara keduanya, dibutuhkan kejujuran dan kecerdasan dalam memahami isi Alkitab. Harus diakui bahwa orang percaya adalah kelanjutan sejarah umat pilihan Allah atau sejarah Kerajaan Allah. Sejarah Kerajaan Allah ini dimulai dari Abraham (Kej. 12).Sebab sejak pemilihan Abraham sebagai umat pilihan-Nya, Tuhan memfokuskan perhatian kepada suatu bangsa yang akan menggenapi rencana-Nya, yaitu keselamatan manusia di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya dalam pemanggilan Abraham, Tuhan menyatakan bahwa dari padanya semua penduduk bumi ini akan diberkati.

Baik orang Yahudi maupun orang Kristen adalah sama-sama sebagai kekasih Tuhan, yaitu sebagai umat pilihan. Kedua-duanya dipanggil untuk menggenapi rencana Allah. Kalau bangsa Israel menggenapi rencana Tuhan dalam masa sebelum Mesias datang, tetapi umat Perjanjian Baru bertugas untuk menjadi umat yang memenuhi rencana Allah sebagai corpus delicti. Umat Perjanjian Baru bertugas untuk meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus sampai ke ujung bumi, atau pelebaran Kerajaan Allah (Mat. 28:19-20, Kis. 2:8).

Orang Kristen juga disebut sebagai Israel rohani.Tetapi apa bedanya kita dengan bangsa Israel secara jasmani yang disebut sebagai orang Yahudi? Kita harus memandang Alkitab sebagai urut-urutan sejarah Kerajaan Allah yang harus dikenali secara sistimatis dan runtut. Kalau cara kita memandang Alkitab salah, maka kita juga gagal memandang dengan benar perbedaan antara umat Perjanjian Lama dan umat Perjanjian Baru. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang menyamakan antara umat Perjanjian Lama dan umat Perjanjian Baru. Mereka tidak mengerti perbedaan yang sangat prinsip. Dalam hal perpuluhanpun juga disamakan. Hal ini menjadi kesalahan.

Banyak pengajaran yang diambil dari Perjanjian Lama tanpa memverifikasi dengan ajaran Injil Tuhan Yesus Kristus. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima Injil, sebab terlalu kaku dan ketat dengan keberagamaan Yahudinya. Sebenarnya bila seseorang mempelajari dan menggali Perjanjian Baru, maka tidaklah habis-habisnya kebenaran yang dapat diperoleh dari dalamnya, yang membuat orang percaya menemukan dirinya sebagai umat pilihan yang standar moralnya adalah Tuhan sendiri. Ini bukan berarti Perjanjian Lama tidak penting, tetapi Perjanjian Lama bukan sebagai pusat kebenaran. Pusat kebenaran atau episentrum kebenaran adalah Injil dalam Perjanjian Baru. Banyak pendeta atau pembicara yang pandangannya memang dialaskan pada Alkitab, tetapi tidak sampai kepada inti keselamatan dalam Yesus Kristus. Sehingga mereka gagal memahami kebenaran inti dari Injil. Termasuk di dalamnya memahamikebenaranmengenai perpuluhan dan persembahan yang lain.

Kalau kita konsekuen mengakui bahwa Kekeristenan bukanlah agama, maka kita harus menghilangkan unsur-unsur agamani yang merusak kemurnian iman Kristen.Perpuluhan adalah praktik yang masih memiliki unsur keagamaaan Yahudi. Menghilangkan unsur-unsur agamani ini bukan sesuatu yang mudah, karena pola keberagamaan Kristen yang telah bertahun-tahun mengakar dalam kehidupan orang Kristen dan peta pikiran mengenai keimanan sudah terbentuk begitu kokoh. Apalagi pengajaran yang bisa mendatangkanuang seperti perpuluhan, Persembahan BuahSulung dan lain sebagainya akan sulit diluruskan.

Hal penting yang harus kita lakukan sekarangadalah tidak memandang kehidupan bangsa Israel sebagai standar hidup orang percaya. Untuk itu kita harus memandang Alkitab Perjanjian Lama dengan perspektif yang benar. Kitamemperlakukan kitab Perjanjian Lama sepantasnya atau pada proporsinya. Ayat-ayat dalam Perjanjian Lama harus dipahami sesuai dengan konteksnya dan tidak mengambilnya secara mentah. Selama ini terdapat praktik, suatu pandangan didasarkan hanya pada satu atau dua ayat dalam Alkitab Perjanjian Lama mengenai perpuluhandan sudah dianggap benar. Masalahnya, bukan pada deret-deret ayat yang disusun untuk menjadi landasan pandangan, tetapi apakah pemahaman terhadap ayat-ayat tersebut sudah benar? Apakah kita mempelajari konteks ayat tersebut?

Untuk menemukan pandangan teologi yang sesuai dengan Injil yang murni, kita harus mendasarkan teologi kita pada karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristuslah landasan atau dasar dari semua pandangan kita. Setiap pandangan teologi harus diverifikasi oleh karya keselamatan dalam Yesus Kristus atau pengajaran Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru.