Harga Diri Dan Kerendahan Hati
29 April 2017

Harga diri artinya kesadaran akan berapa nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Nilai dari harga diri seseorang bisa ditentukan oleh bermacam-macam ukuran, sesuai dengan filosofi hidup seseorang. Ada yang menilai diri dengan materi atau kekayaan. Ada yang menilai diri dengan pendidikan. Ada yang menilai diri dengan pangkat. Ada yang menilai diri dengan “keakuan” (aku adalah aku, aku terhormat, aku harus dihargai, aku harus dihormati). Orang-orang seperti ini akan mudah terluka kalau direndahkan oleh siapapun. Mereka biasanya menuntut untuk dihargai orang lain. Ibarat barang telah dipasang “bandrol” harga.

Orang seperti tersebut di atas, menuntut orang membayar harga yang telah dipatoknya. Ia menjadi tidak merdeka. Dirinya sangat rentan terhadap stimulus. Harga diri bertalian dengan perasaan, sebab ketika nilai yang diberikan orang kepada dirinya tidak seperti yang diharapkan maka ia tersinggung atau terluka karena merasa direndahkan. Harga diri inilah yang membuat seseorang menuntut orang memperlakukan dirinya sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya. Ia tidak dapat menjadi thermostat (alat yang mengatur suhu), sebaliknya ia menjadi thermometer (alat yang diatur oleh suhu yang ada di sekelilingnya).

Inilah kenyataan kehidupan banyak orang, mereka memasang tarif harga diri dalam lingkungan keluarga, pergaulan dan pelayanan gereja. Sikap seperti ini pada prinsipnya adalah “kesombongan”. Oleh sebab tidak mau dianggap rendah, maka mereka bersikap menolak atau menentang secara “frontal” ketika mendapat perlakuan yang tidak seperti diharapkan. Bisa dimengerti kalau orang seperti ini memiliki banyak musuh. Ia bisa mudah terlukai dan mudah melukai sesama pula. Sebenarnya mereka seperti orang yang sakit jiwa, tetapi berhubung banyak orang berkeadaan seperti itu, maka dianggap sebagai kewajaran.

Dalam kehidupan sering hal ini menjadi awal sebuah bencana. Banyak orang yang memanjakan perasaannya sehingga ia mengorbankan kepentingan yang besar. Hal ini terjadi sebab pribadi orang tersebut tidak matang, perasaannya masih sakit, belum sehat. Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa penyaliban diri, bukan hanya menyangkut keinginan-keinginan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi juga perasaan dalam menilai diri. Kita tidak boleh memanjakan perasaan demi kepuasan diri. Bila Tuhan Yesus menjadi Tuhan atas kita, maka seharusnya demi kepentingan Tuhan kita harus rela tidak memiliki harga diri.

Dalam Filipi 2:5 tertulis: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Nasihat ini diberikan dalam konteks hidup bersama dengan orang lain. Itulah sebabnya dalam konteks tersebut, Filipi 2:4 tertulis: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Dengan demikian dapat dimengerti, bahwa panggilan untuk meneladani Kristus bertalian dengan hidup bersama-sama dengan orang lain. Hal ini dimaksudkan bahwa meneladani gaya hidup Kristus bertujuan agar seseorang menjadi berkat bagi orang lain. Jadi, di mana pun kita berada, kita harus mendatangkan keuntungan bagi orang lain dalam bingkai pelayanan pekerjaan Tuhan.

Kita harus sadar bahwa tatkala kita mengakui dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, maka Tuhan telah menebus segenap hidup kita. Sejak itu, kita bukan milik kita sendiri, sebab Tuhan yang telah memiliki kita. Kita menjadi makhluk yang sangat berharga di mata Tuhan. Kita tidak membutuhkan penghargaan manusia, apalagi menuntut orang menghargai kita, sebab kita sudah sangat berharga di mata Tuhan.

Kita harus menghargai orang lain dengan dasar bahwa setiap individu memiliki jiwa yang kekal. Jiwa yang kekal inilah yang harus diselamatkan. Kalau seseorang menghargai nilai jiwa seseorang, maka nampak nyata kasih dan penghargaannya kepada orang lain, tetapi di pihak lain ia tidak menuntut orang menghargai dirinya. Ia sadar bahwa berharga di mata Tuhan sudah cukup. Jadi kalau orang tidak menghargai orang lain secara pantas, bisa dipastikan ia belum mengerti nilai jiwa manusia. Ini juga berarti, ia merasa belum berharga di mata Tuhan.