Hanya Tuhan Yang Tahu
27 May 2018

Tuhan Yesus mengajar mengenai kehidupan beribadah yang benar, yaitu ibadah yang tidak dipertontonkan atau ditunjukkan di depanorang lain. Dalam beberapa bagian di Alkitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyinggung mengenai ibadah ini. Ibadah yang dipercakapkan Tuhan Yesus adalah memberi sedekah atau menolong orang dan berdoa (Mat. 4:23; 6:2). Memberi persembahan juga merupakan ibadah kepada Tuhan. Memberi persembahan juga tidak boleh sengaja dipertontonkan atau ditunjukkan di depan orang.

Tidaklah salah kalau orang tahu atau melihat apa yang kita lakukan dengan persembahan uang yang kita bawa kepada Tuhan. Tetapi menjadi salah, kalau persembahan yang kita bawa kepada Tuhan, sengaja kita tunjukkan supaya banyak orang dapat melihat atau mengetahuinya. Hal ini jelas merupakan upaya untuk mendapatkan kehormatan dari manusia. Tuhan mengecam praktik ibadah semacam ini.

Jemaat yang dewasa adalah jemaatyang diajar untuk memiliki pemahaman mengenai hidup Kristen yang benar, seperti yang diurai di bab-bab sebelumnya; bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan. Tidak mengakui hal ini berarti menolak penebusan Tuhan. Dengan dimiliki oleh Tuhan, maka kita harus bersedia mengembalikan harta atau uang kita kepada Tuhan. Oleh karena porsi yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita berbeda, maka jumlah persembahan uang yang kita persembahkanpun juga berbeda. Harus dipahami bahwa jumlah bukanlah ukuran kesetiaan. Seorang janda yang memberi persembahan dua peserdiakui Tuhan Yesus sebagai memberi lebih banyak (Luk. 21:1-4).

Jadi, persembahan yang benar bagi orang percaya adalah persembahan yang diberikan dengan kesadaran bahwa seluruh tubuh, nyawa, harta dan uang kita adalah milik Tuhan. Semua yang kita miliki harus dijadikan sebagai sarana pengabdiaan bagi Tuhan. Tentu harus seratus persen atau segenapnya.Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat melihat contoh Zakheus yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Luk. 19:8). Di zamanKisah Para Rasul, orang percaya memberikan seluruh hartanya bagi Tuhan untuk kepentingan semua anggota komunitas orang percaya(Kis.2:45;4:36-37). Tetapi yang terpenting dalam memberipersembahan adalah kita tidak sengaja mempertontonkan kepada orang lain demi mendapat pujian atau sanjungan.

Sebaliknya, dari pihak gereja hendaknya tidak menyanjung-nyanjung orang tertentu karena persembahan uangnya dalam jumlah besar. Penghargaan gereja kepada mereka yang memberi persembahan tidak boleh menyesatkan. “Keramahtamahan” yang berlebihan kepada mereka yang memberi persembahan uang dalam jumlah besar, tidak mendidik jemaat. Keramahtamahan yang berlebihan tersebut memberi kesan seakan-akania berjasa bagi Tuhan. Karena hal tersebut, maka banyak orang kaya memberi persembahan karena sekadar hendak memperoleh pujian. Perlu dicatat disini, bahwa ada orang-orang kayayang haus kehormatan, mereka sudah memperoleh kehormatan di dunia sekuler di luar gereja, sekarang mereka mau memperoleh kehormatan di lingkungan gereja. Mereka berharap Tuhan pun menghormati mereka. Dalam hal ini pendeta dianggap mewakili Tuhan. Oleh sebab itu, pendetaharus memiliki integritas agar “tidak bisa dibeli” oleh orang-orang berduit banyak tersebut.

Jemaat harus diajar untuk memberi persembahan dengan benar. Bukan karena hendak mendapat pujian dan keramahtamahan yang berlebihan dari gereja atau motif lain yang salah. Jemaat harus memberi persembahan dengan prinsip bahwa dirinya sendiri sedang berurusan dengan Tuhan. Itulah sebabnya adalah baik kalau persembahan bisa disalurkan melalui mesin EDC yang tertutup, ATM yang tidak dilihat orang atau transfer antar bank. Jemaat bisadiajar agar mereka mempersiapkan persembahan sejak dari rumah. Jika perlu amplopnyapun sudah disiapkan oleh mereka sendiri. Hal ini adalah untuk mengajar jemaat memiliki sikap hati yang benar dalam memberi persembahan bagi Tuhan. Pihak gereja dapat menempatkan kotak persembahan di pintu masuk gereja, sehingga jemaat memberi tanpa dilihat orang. Bukan ditaruh di depan mimbar, yang kemudian jemaat satu-persatu berjalan maju ke depanuntuk memberi persembahan.

Kalau ada jemaat yang ke gereja lupa membawa amplop yang berisi uang, berarti memang ia tidak memiliki niat untuk mengasihi Tuhan dengan benar dalam memberi persembahan. Seharusnya setiap orang percayamengalokasi uang untuk pekerjaan Tuhan, sesulit apapun keadaaannya, kecuali memang tidak bisa makan sama sekali. Sebagaimana seseorang dapat mengalokasi uang untuk berbagai kebutuhan, persembahan untuk Tuhan juga harus dipersiapkan. Hal ini menunjukkan keseriusannya berurusan dengan Tuhan. Orang yang menunda-nunda memberi persembahan kepada Tuhan, tidak akan memiliki kelenturan hati sehingga terbiasa tidak memberi persembahan bagi Tuhan.Kelenturan hati dengan kerelaan memberi persembahan tanpa dilihat oleh siapapun, tetapi hanya Tuhan yang tahu, merupakan seni kehidupan orang beriman yang harus dilatih sejak kecil.