Hanya Satu Jalan Penyelesaiannya
20 February 2018

Dalam Roma 3:19 tertulis: Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Ayat ini hendak menunjukkan, bahwa tidak seorang pun dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna (walaupun itu adalah Taurat yang belum disempurnakan). Dengan demikian, dalam satu aspek hukum Taurat justru membuktikan bahwa tidak ada seorang pun secara sempurna dapat melakukan hukum Taurat. Dalam Roma 3:10 tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Dengan keadaan ini berarti semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).

Dalam kacamata kebenaran Allah, yaitu kebenaran sesuai dengan standar kesucian Allah, tidak seorang pun yang benar. Itulah sebabnya dikatakan bahwa semua manusia adalah pembohong, artinya berkeadaan melanggar perjanjian dengan Allah. Ini bukan berarti tidak ada manusia yang baik dalam kebaikan relatif. Masih ada kebaikan secara relatif sesuai dengan ukuran kebaikan menurut hukum yang dipahami (walaupun tentu juga tidak sempurna). Manusia masih bisa berbuat baik. Bagi orang Yahudi seperti Paulus, mereka bisa berpikir dan menganggap bahwa diri mereka bisa berkeadaan tidak bercacat. Paulus juga menyatakan bahwa ditinjau dari hukum Taurat, dirinya tidak bercela (Flp. 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat).

Apakah dua ayat tersebut (Rm. 3:19 dan Flp. 3:6) tidak saling bertentangan? Tentu tidak bertentangan. Roma 3:19 menunjukkan bahwa semua manusia tidak ada yang dapat melakukan hukum dengan benar atau sempurna. Ini adalah pemikiran Paulus sesudah ia mengenal Injil. Sedangkan dalam Filipi 3:6 Paulus menyatakan bahwa dalam melakukan hukum Taurat ia tidak bercacat, artinya selalu memenuhi semua yang diperintah Taurat. Kalau dirinya memiliki kesalahan, korban penghapusan dosa dapat dilakukan. Ini berarti Paulus merasa bisa berkeadaan tidak bercacat. Ini adalah pemikiran Paulus sebelum mengenal kebenaran. Pemikiran ini juga ada dalam pikiran agama samawi seperti agama Yahudi. Itulah sebabnya mereka sangat sulit menerima keselamatan melalui karya salib yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Selain mereka sudah memiliki struktur pemikiran agama seperti tersebut, mereka juga tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Allah Anak.

Selanjutnya dikatakan dalam Roma 3:20 Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Ayat ini dapat memiliki dua pengertian. Pertama, bahwa ternyata semua manusia telah ada dalam satu keadaan melanggar hukum. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna tanpa cacat. Hal ini menunjukkan pula bahwa manusia telah berkeadaan tidak mampu mencapai level kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Hukum Taurat menjadi bukti kegagalan manusia tersebut. Padahal rancangan Allah atas manusia adalah menjadi makhluk yang memilliki keberadaan yang segambar dan serupa dengan Allah, di mana dalam segala hal yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Level moral yang dikehendaki oleh Allah adalah level kesucian seperti kesucian Allah sendiri (1Ptr. 1:16). Dalam hal ini bisa dimengerti kalau Firman Tuhan menunjukkan bahwa kita diajar untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Orang percaya harus memiliki kesucian yang sempurna seperti Bapa di surga dan serupa dengan Tuhan Yesus yang memiliki kesucian yang berkenan kepada Allah Bapa. Allah yang berdaulat menghendaki manusia menjadi manusia seperti yang dikehendaki-Nya. Kehendak Allah mutlak harus dipatuhi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Kamu harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).

Kedua, bahwa dengan kegagalan manusia melakukan hukum Taurat tersebut, manusia tidak dapat dibenarkan. Manusia terbukti berbuat salah. Hukum Taurat membungkam mulut manusia, mereka harus mengakui bahwa diri mereka adalah orang yang berdosa. Adapun darah binatang (domba), sesungguhnya bukanlah solusi untuk benar-benar dapat menghapus dosa dan yang dapat membawa manusia kepada pembenaran yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penyelesaian dengan cara apa pun terhadap keadaan manusia yang berdosa, sekecil apa pun dosa itu. Penyelesaiannya hanya melalui karya salib Kristus.

Dalam hal ini harus disadari bahwa perbuatan baik tidak akan dapat membuat manusia dapat dibenarkan. Perbuatan baik tidak dapat membenarkan manusia, sebab kebaikan yang dilakukan manusia bukanlah kebaikan standar kesucian Allah. Kebaikan yang dikehendaki oleh Allah adalah kebaikan yang sempurna. Selain itu, bahwa semua manusia telah berkeadaan mengingkari Perjanjian sehingga perbuatan baik bagaimana pun tidak berarti sama sekali.