Dua Sisi Mata Uang
23 March 2017

Ketika dunia menawarkan berbagai fasilitas untuk dimiliki dan dinikmati, sesungguhnya melalui hal tersebut seseorang sedang diusahakan oleh kuasa dunia tergiring menuju penjara abadi. Kekayaan dunia menjadi sarana Iblis untuk dapat melestarikan monster di dalam diri seseorang dan membangunnya terus menjadi monster yang jahat, sebab akar segala kejahatan adalah cinta uang.

Sebagai umat pilihan seharusnya fokus pikiran atau orientasi berpikir kita kepada perkara-perkara di atas, atau yang sama dengan mengumpulkan harta di surga. Untuk itu kita harus rela menanggalkan semua kesenangan dunia. Kita harus belajar untuk tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini serta segala fasilitas dan keindahannya. Keindahan dunia harus menjadi pudar di mata kita dan tidak kita ingini sama sekali.

Banyak ajaran yang hanya membuat seseorang beragama Kristen, tetapi tidak mengajarkan Injil yang murni. Injil yang murni mengajarkan agar kita mati bagi dunia dan hidup bagi Allah. Mati bagi dunia artinya dunia tidak dapat mengambil bagian dalam hidup kita atau kita tidak mengambil bagian dalam dunia. Hal ini bisa terjadi jika dunia dengan segala fasilitasnya tidak dapat membahagiakan kita lagi. Dunia tidak lagi menjadi berharga di mata kita. Kalau kita memiliki harta dunia, harta tersebut menjadi berharga kalau hanya digunakan untuk melayani Tuhan. Walaupun kita memiliki apa pun juga, tetapi hati kita hanya dapat dibahagiakan oleh Tuhan.

Untuk memiliki keberadaan sebagai anak Allah harus ada perjuangan yang serius. Itu adalah perjuangan untuk memiliki cara berpikir persis seperti yang Tuhan Yesus miliki (Flp. 2:5-7). Kata pikiran dan perasaan dalam Filipi 2: 5-7 dalam teks aslinya adalah phroneo, yang artinya cara berpikir. Ini berarti setiap orang percaya harus mengusahakan diri belajar melalui proses kehidupan pemuridan sepanjang waktu oleh pimpinan Roh Kudus untuk memiliki wajah anak Allah di dalam dirinya. Wajah anak Allah tersebut adalah keserupaan dengan Tuhan Yesus.

Wajah kehidupan Yesus adalah satu-satunya standar yang Allah kehendaki untuk dimiliki orang percaya agar pantas disebut anak Allah dan layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Oleh sebab itu keselamatan harus dilihat dari dua sisi, seperti yang terdapat pada mata uang. Sebelum seseorang mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, dua sisi mata uang hidupnya terdapat dua wajah gambar yang tidak sesuai dengan keserupaan dengan Allah. Tetapi setelah mengenal Yesus Kristus sisi yang satu bergambar Yesus (Allah menempelkan wajah Putra Tunggal-Nya di satu sisi mata uang itu), namun sisi lain (sisi kita) masih gambar kita sendiri atau monster kita. Sisi kita tersebut yang harus diubah. Mata uang itu menjadi sah kalau memiliki wajah Yesus di satu sisi dan wajah kita yang serupa Yesus di sisi yang lain. Wajah yang lain, secantik apa pun, tetaplah monster.

Seperti mata uang harus memiliki dua sisi yang memiliki ciri yang menunjukkan pengesahan atau legalitasnya uang tersebut. Demikian pula hidup kita, harus menjadi seperti mata uang yang sah atau legal. Legalitasnya adalah kalau satu sisi terdapat wajah Yesus dan sisi lain (sisi kita) wajah anak Allah di mana kita telah berjuang meneladani wajah-Nya.

Dunia menawarkan iklan rumah, apartemen dan berbagai hunian yang menjanjikan dengan berbagai fasilitasnya. Mereka mengatakan sebagai investasi yang bernilai tinggi, investasi yang menguntungkan dan investasi yang bijaksana. Harus ada uang untuk dapat memilikinya. Tuhan Yesus menawarkan rumah di surga. Sebuah investasi yang tak ternilai. Semua investasi di bumi ini tidak ada artinya sama sekali. Tuhan Yesus mengatakan: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 16:26).

Penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah banyak orang Kristen sudah merasa memiliki rumah di surga, karena merasa telah memiliki iman. Padahal mereka belum memiliki iman yang dimaksud Injil. Iman bukan hanya sekadar pengaminan akali. Beriman berarti memiliki wajah hidup Tuhan Yesus yang sama dengan mengenakan gaya hidup-Nya. Orang yang beriman adalah orang yang memiliki mata uang yang sah sebagai alat pembayaran guna masuk rumah Bapa sebagai anggota keluarga-Nya. Orang yang belum memiliki mata uang dengan wajah Yesus di satu sisi dan wajah kita yang serupa Yesus di sisi yang lain, belumlah dapat masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Jadi, sangatlah tragis kalau ada orang-orang Kristen yang merasa diperkenan masuk ke dalam Rumah Bapa dengan keadaan sebagai orang Kristen yang hanya memiliki wajah Yesus di sisi keping mata uangnya, tetapi wajahnya sendiri masih berupa monster.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa Yesus di kayu salib membayar harga masuk rumah Bapa itu dengan darah-Nya dan mereka memperolehnya secara gratis. Harus dipahami bahwa yang gratis bukan masuk rumah Bapa, tetapi modal untuk memasuki rumah Bapa. Itulah sebabnya orang percaya harus dimuridkan, yang sama artinya dengan mengembangkan modal yang Tuhan berikan. Orang percaya harus berjuang untuk dapat memiliki wajah anak Allah pada sisi bagiannya di keping mata uang. Jika seseorang tidak memiliki wajah anak Allah yang serupa Yesus, maka ia tidak akan diterima dalam keluarga Allah sebagai anggotanya. Tidak pernah menjadi bangsawan surgawi.