Doa Yang Dikabulkan
30 October 2017

Sering orang mengajarkan kalau seseorang yakin, asal yakin saja, maka doanya akan dikabulkan atau mukjizat dapat terjadi. Hal ini mengesankan bahwa Tuhan bisa diatur oleh keyakinan atau pikiran manusia. Keyakinan seseorang harus memiliki dasar atau landasan. Bukan sekadar memiliki keyakinan dalam pikiran, maka doanya dijawab dan dikabulkan. Pemikiran salah seperti di atas biasanya didasarkan pada Yakobus 5:16-18. Yakobus 5:16-18 memuat ayat-ayat yang sering dikhotbahkan mengenai bagaimana mengalami doa yang dijawab dan dikabulkan oleh Tuhan sehingga mukjizat terjadi. Tetapi banyak orang yang salah mengartikan ayat-ayat ini. Kita harus teliti memerhatikan, bahwa dalam ayat-ayat ini Yakobus membicarakan doa yang dinaikkan oleh Elia, yaitu ia meminta agar Tuhan tidak memberikan hujan selama tiga tahun enam bulan, dan hujan pun tidak turun. Kemudian Elia berdoa agar hujan turun, Tuhan pun mengabulkan doanya. Pertanyaannya, mengapa Tuhan mengabulkan doa Elia?

Pertama, permintaan Elia untuk tidak menurunkan hujan kemudian meminta hujan diturunkan adalah masalah kepentingan Tuhan atau demi kemuliaan nama-Nya (1Raj. 17:1; 18:1). Pada waktu itu Elia menghadapi raja Ahab dan istrinya Izebel yang tidak takut akan Tuhan, padahal mereka harus menjadi pemimpin yang mengatur dengan baik umat Tuhan, yaitu bangsa Israel bagi kemuliaan Elohim Yahwe. Melalui peristiwa tidak turun hujan itu, dimaksudkan agar Ahab dan istrinya bertobat dan nama Tuhan dimuliakan. Dengan peristiwa itu juga dimaksudkan agar bangsa Israel tidak melupakan Tuhan, sebab pada waktu itu istri Ahab (Izebel) menyesatkan umat Israel dengan menyembah berhala.

Kedua, sebab Elia orang benar. Hidup Elia tidak menyimpan dosa. Dalam Yakobus 5:16-18, sebelum Yakobus berbicara mengenai doa yang dikabulkan (ayat 17-18), terlebih dulu Yakobus berbicara mengenai keberdosaan di ayat 16 (Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya). Dari hal ini, jelas sekali bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang yang hidupnya tidak berkenan kepada-Nya. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan orang benar adalah orang yang hatinya bersih, tidak menyimpan dosa dan kejahatan.

Sejajar dengan kasus Elia, dalam Matius 18:19 Tuhan Yesus mengatakan: “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.” Kalau kalimat ini dipisahkan dari konteksnya, terkesan bahwa kalau Tuhan dikeroyok oleh permintaan banyak orang, maka Tuhan tidak berdaya. Seakan-akan kalau orang percaya beramai-ramai bersama menaikkan suatu permintaan, maka Tuhan tidak berkuasa menolaknya. Padahal sebenarnya tidak demikian. Konteks ayat ini adalah mengenai teguran terhadap saudara yang salah.

Kalau seseorang tidak bisa ditegur empat mata, maka hendaknya harus memanggil beberapa saksi yang lain. Kalau masih tidak mau bertobat, maka hendaknya dibawa ke pertemuan jemaat. Bila di pertemuan jemaat masih mengeraskan hati tidak mengakui kesalahannya dan bertobat, hendaknya berdoa kepada Tuhan atau membawanya kepada Tuhan. Tuhan pasti akan menunjukkan keadilan-Nya (Mat. 18:14-19). Pengabulan doa tersebut berkenaan dengan adanya masalah di antara orang-orang percaya dan harus diperkarakan bukan oleh satu orang, sebagaimana penghakiman menjadi sah kalau oleh dua orang untuk menghindarkan kesewenang-wenangan (Yoh. 8:16). Inilah yang dimaksud oleh Tuhan dengan kata “mengabulkan”, yang artinya menyelesaikan atau memberi keputusan final. Jadi, konteksnya bukan permintaan doa untuk diri sendiri atau doa untuk sebuah mukjizat dapat terjadi, tetapi untuk penyelesaian suatu masalah dalam pekerjaan Tuhan.