Doa Dan Kedaulatan Allah
23 October 2017

Terkait dengan urusan mengenai mukjizat, nampak perbedaan yang harus ada antara anak-anak Allah dan orang-orang di luar umat pilihan yang menggunakan kuasa kegelapan. Kalau seseorang menggunakan kuasa dari “kuasa kegelapan”, maka ia bisa menggunakannya kapan saja sesuka hatinya, tetapi anak-anak Allah tidak demikian. Anak-anak Allah harus mengakui kedaulatan Allah sebagai Bapa yang harus dihormati secara patut. Kita tidak boleh dan memang tidak bisa menggunakan kuasa Tuhan semau kita sendiri. Untuk itu, ada sikap hati yang benar yang harus kita miliki terhadap mukjizat dan terhadap Allah pemilik mukjizat tersebut. Memang kuasa kegelapan terkesan bisa diatur, tetapi sebenarnya tidak. Dengan cara membiarkan kuasanya digunakan, maka ia menjerat dan membelenggu manusia. Ini sikap licik kuasa kegelapan. Adapun Tuhan tidak bersikap licik seperti kuasa kegelapan.

Kita harus menjunjung tinggi kedaulatan Allah, Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tidak boleh sembarangan berdoa memohon kuasa Tuhan agar mukjizat-Nya dapat terjadi. Dalam Matius 7:7-11 terdapat ayat-ayat yang menyingkapkan kebenaran mengenai doa dan kedaulatan Allah. Perikop ini satu dari banyak perikop lain dalam Alkitab yang sering ditampilkan, sebab dalam perikop ini terdapat ayat yang membicarakan mengenai pengabulan doa. Banyak orang menjadikan ayat-ayat tersebut landasan pemikiran yang salah mengenai jawaban doa. Selama ini banyak pengajaran yang mengesankan bahwa doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh pasti dikabulkan, sehingga mukjizat dapat terjadi. Seakan-akan orang percaya memiliki hak khusus menyampaikan doa yang dapat dikabulkan oleh Tuhan.

Allah adalah Pribadi yang pasti meresponi doa kita. Maksud meresponi di sini adalah menanggapi dengan serius terhadap setiap pergumulan kita, yang kita bawa kepada-Nya. Harus dimengerti meresponi di sini bukan berarti mengabulkan. Tidak semua doa itu dikabulkan Allah, tetapi tidak ada doa yang tidak dijawab atau diresponi oleh Allah. Tuhan Yesus mengatakan: ”Mintalah, maka akan diberikan”. Kita harus memerhatikan kalimat “akan diberikan”, tidak dikatakan “dikabulkan”. Dalam terjemahan aslinya kata diberikan adalah dothesetai (δοθήσεται). Adapun dalam teks bahasa Yunani untuk kata dikabulkan adalah genesthai (γενέσθαι).

Harus dipahami bahwa apa yang diberikan Tuhan belum tentu sesuai dengan apa yang kita minta. Namun yang jelas Allah Bapa pasti meresponi doa kita. Kita harus dapat membedakan antara dikabulkan dan diberikan atau dijawab. Tuhan Yesus mengatakan: “Carilah maka kamu akan mendapat.” Mengapa Tuhan Yesus berkata “carilah”? Harus diperhatikan bahwa yang dicari di sini dan yang belum ditemukan, bukanlah permintaan kita, tetapi “kehendak Bapa”. Di dalam menyampaikan permohonan kepada Tuhan, kita dipanggil untuk mencari kehendak-Nya terlebih dahulu, yaitu apakah permintaan kita tersebut sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Kita harus benar-benar mempersoalkan apakah yang kita minta sesuai dengan kehendak dan rencana Bapa. Bila permintaan kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya, maka permintaan kita akan dikabulkan oleh Bapa. Allah tidak akan mengabulkan doa kita bila permintaan kita bertentangan dengan kehendak dan rencana-Nya. Oleh sebab itu, kita harus tinggal di dalam Dia, agar kita mengerti kehendak dan rencana-Nya.

Dalam kenyataan hidup, kita menemukan ada orang-orang Kristen yang menggerutu sebab permintaannya kepada Tuhan tidak dikabulkan. Mereka berpikir Tuhan tidak peduli dan masa bodoh terhadap masalah pribadinya. Padahal Tuhan tidak mengabulkan doanya tersebut sebab permintaannya tersebut membahayakan dirinya. Seringkali apa yang kita pikir baik itu belum tentu baik. Konsep baik dalam pikiran kita belum tentu benar-benar baik menurut Tuhan. Tetapi apa yang dianggap Allah baik, pasti baik bagi kita. Harus diingat bahwa kuasa kegelapan memberi apa yang seseorang minta, tetapi Allah memberi apa yang terbaik menurut Dia.