Demi Natur Baru
29 April 2018

Untuk memiliki kehidupan beriman dalam Tuhan, seseorang harus mengalami penggarapan Tuhan. Penggarapan ini tidak mudah. Kadang-kadang Tuhan perlu meremukkan kita dengan segala cara yang sangat menyakitkan, tetapi inilah jalan berkat yang Bapa sediakan bagi kita. Untuk ini, kita harus fokus pada tujuan tersebut. Dan untuk dapat fokus, pikiran kita harus ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas. Dalam hal ini, Paulus oleh ilham Roh berkata: Pikirkan perkara yang di atas, carilah perkara yang di atas ini sejajar dengan perkataan Tuhan Yesus “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi. Sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada”. Oleh sebab itu gereja dan para pembicaranya tidak boleh menyesatkan umat dengan khotbah-khotbah yang orientasinya pada berkat jasmani. Karena khotbah-khotbah seperti itu membuat jemaat tidak mengenali panggilan-Nya.

Paulus menasihati jemaat untuk mencari perkara-perkara yang di atas. Senada dengan ini, Tuhan Yesus menganjurkan untuk mengumpulkan harta di surga. Semua ini maksudnya adalah agar orang percaya memfokuskan diri pada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Dengan demikian kita mengerti mengapa Tuhan berkata: Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Ketika Tuhan mengucapkan kalimat kesediaan kita untuk tidak mengumpulkan harta di surga, sejatinya itu merupakan cara kita menghayati kehidupan kita sebagai warga Kerajaan Allah. Sampai kita menyadari sedalam-dalamnya bahwa dunia ini bukan rumah kita. Bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Bahwa kita telah mati bagi kesenangan dunia. Sampai tingkat ini Iblis tidak lagi bisa membujuk kita untuk menyembahnya (Luk. 4:5-8).

Jika seseorang berani memfokuskan diri kepada perkara-perkara di atas dan meninggalkan perkara-perkara yang ada di bumi, inilah yang disebut sebagai kematian diri. Jika hal ini benar-benar terjadi atau berlangsung, maka natur baru dalam kehidupan orang percaya dapat bertumbuh. Kematian diri ini tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Manusia tetap memiliki diri. Melalui penyangkalan diri terus menerus, ia menyerahkan kehendak dirinya kepada Tuhan.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana kita mengembangkan natur baru ini? Tentu yang pertama Roh Kudus menuntun kita. Dalam hal ini Tuhan sudah menaruh Roh-Nya dalam diri kita sebagai pendamping yang membawa kita kepada segala kebenaran. Roh Kudus adalah pengasuh kita yang pasti menuntun kita kepada kedewasaan rohani yang benar. Dalam perkembangan atau transformasi yang terus menerus seorang bisa berkata: Hidupku bukan aku lagi (Gal. 2:20). Di sinilah kematian diri seseorang semakin nampak nyata. Sebagai akibatnya, tentu kemuliaan Tuhan nampak nyata dalam hidupnya. Dalam tingkat ini ia efektif menjadi berkat bagi orang lain.

Kematian diri ini akan membuat seseorang berkeadaan di mana dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana. Seiring dengan ini maka natur atau kodrat Ilahi bertumbuh. Inilah natur atau kodrat baru dalam kehidupan orang percaya. Dengan demikian natur atau kodrat dosa kita semakin melemah atau mati. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup Ke-kristenan. Kesediaan untuk hal ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya kita memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru. Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam Kekristenan bukan sekadar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Orang mati tidak dapat hidup lagi. Kalau kita mati bagi dosa, maka kita tidak dapat berbuat dosa lagi. Oleh sebab itu komitmen bahwa kita sudah mati merupakan komitmen yang harus diingatkan terus menerus. Kita harus hidup dalam kematian sampai permanen mati.

Selanjutnya, orang yang mengalami kematian diri akan bisa hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya, hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban, tetapi kebutuhan. Hidup untuk kepentingan Kerajaan Allah adalah gaya hidup Tuhan Yesus. Dalam Alkitab kita menemukan beberapa kali fakta kematian diri ini. Paulus berkata: Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati (2Kor. 4:14). Perhatikan kalimat “mereka semua sudah mati”. Dalam hal ini kita menemukan, bahwa orang yang belum hidup untuk kepentingan Tuhan adalah orang-orang yang belum mengalami kematian diri sesuai dengan kehendak Tuhan. Berarti mereka tidak pernah memiliki kehidupan di dalam Tuhan.

Tidak sedikit orang Kristen yang mata hatinya tertutup terhadap kepentingan Kristus. Selama ini hidup dalam egoisme yang sangat menyedihkan hati Tuhan. Konyolnya, banyak orang tidak menyadari egoismenya. Kita tidak mau mengerti prinsip yang terdapat dalam 2 Korintus 5:14-15 dan Filipi 1:21. Hidup untuk kepentingan Kristus artinya hidup bagi pemberitaan karya salib Tuhan, hidup untuk pelebaran Kerajaan Allah agar jiwa-jiwa yang belum diselamatkan terselamatkan oleh Tuhan sendiri.