Dari Kemuliaan Ke Kemuliaan
24 January 2019

Kalimat judul ini bagi sebagian orang percaya sudah tidak asing lagi. Kalimat ini bukan saja diucapkan oleh para pendeta, tetapi juga para pemimpin puji-pujian, juga jemaat awam. Ironinya, banyak orang yang sebenarnya tidak mengerti yang dimaksud dengan kalimat “dari kemuliaan ke kemuliaan” itu. Seperti biasa atau pada umumnya, dewasa ini banyak orang-orang Kristen yang mengucapkan kalimat-kalimat yang dia tidak pahami, tetapi mereka terus menerus mengucapkannya di mimbar-mimbar gereja. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dengan asumsi bahwa orang lain telah memiliki pengertian yang sama dengan dirinya terhadap kalimat tersebut, padahal belum tentu demikian. Malahan terdapat kecenderungan banyak orang memiliki berbagai konsep mengenai kalimat-kalimat yang sudah umum diucapkan.

Demikian pula dengan kalimat ini, orang percaya harus memahami dengan benar apa sebenarnya yang dimaksud dengan “dari kemuliaan ke kemuliaan” itu. Untuk mengerti maksud kalimat ini, terlebih dahulu harus dapat memahami pengertian kata mulia. Kata “mulia” berarti bernilai tinggi, agung, luhur, elok. Di dalam bahasa Ibrani kata ini terjemahan dari “kabod”. Kata “kabod” artinya sesuatu yang memiliki bobot atau memiliki nilai. Jadi, kemuliaan berarti sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Tentu berbicara mengenai kemuliaan terkait dengan Tuhan yang memiliki standar atau ukuran yang berbeda dengan dunia. Hanya orang yang mengenal kebenaran yang memahami nilai-nilai Ilahi dari perspektif Allah. Orang yang tidak mengenal kebenaran hanya dapat mengenal kemuliaan duniawi.

Kemuliaan menurut dunia atau kemuliaan duniawi adalah segala sesuatu yang bersifat materi dan segala sesuatu yang bisa membangkitkan kekaguman manusia lain. Materi berarti segala sesuatu yang bersifat bendani; seperti rumah, kendaraan, perhiasan, pakaian, dan lain sebagainya. Semua itu dipandang memberi nilai atau kemuliaan kepada seseorang. Bila dimiliki oleh seseorang, maka hal tersebut bisa mengundang kekaguman orang lain yang melihatnya. Demikian pula dengan gelar, pangkat, kedudukan, dan kekuasaan, yang juga dipandang sebagai memiliki nilai atau kemuliaan yang membuat orang lain menjadi kagum, hormat, dan tunduk kepada mereka yang memilikinya. Ciri ini sudah melekat dalam kehidupan hampir semua manusia, karena memang sejak kanak-kanak filosofi hidup yang berunsur demikian telah diserap ke dalam jiwa semua manusia. Pada umumnya manusia memburu hal-hal tersebut di sepanjang umur dan waktu hidupnya. Mereka memaksimalkan semua potensi hanya demi meraih hal-hal tersebut.

Demi kemuliaan duniawi tersebut, banyak orang atau hampir semua orang tidak memedulikan keselamatan kekalnya, di dalamnya termasuk orang-orang Kristen. Banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, bahkan ada yang meyakini bahwa dirinya sudah ditentukan untuk menerima keselamatan, sehingga mereka tidak sadar adanya pengaruh dunia yang meracuni dirinya. Mereka bergaya hidup seperti anak-anak dunia yang mengisi tahun-tahun hidupnya untuk memburu kemuliaan duniawi. Jiwa mereka menjadi keruh dan rusak. Mereka tidak mengerti bagaimana memperlakukan Allah Bapa dan Tuhan Yesus secara benar. Pada dasarnya mereka tidak takut dan tidak menghormati Allah. Tentu saja mereka juga tidak mengasihi Tuhan, padahal orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang-orang yang terkutuk (2Kor.16:22 Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata). Orang-orang Kristen seperti ini tidak pernah mengerti bagaimana melakukan kehendak Bapa. Tentu saja mereka akan tertolak dari hadapan Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23).

Kemuliaan dari sudut pandang atau perspektif Tuhan adalah moral atau etika Tuhan yang harus dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Seorang yang memiliki kemuliaan Tuhan atau kemuliaan yang sesungguhnya, memiliki cara berpikir Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan, dan selera Tuhan. Kehidupan orang percaya seperti ini adalah kehidupan yang mengasihi, menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus secara patut. Mereka pasti memiliki hati yang takut akan Allah, sehingga segala sesuatu yang dilakukan tidak menyakiti hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus, tetapi sebaliknya selalu menyenangkan hati-Nya. Dengan demikian orang Kristen seperti ini selalu dapat membuat Tuhan tersenyum. Tentu saja orang Kristen seperti ini, memiliki kerinduan yang sangat kuat untuk bertemu “muka dengan muka” memandang Yesus. Bagi mereka kematian bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi malah dinantikan.

Bila dikatakan dari kemuliaan ke kemuliaan, maksudnya adalah terjadinya atau berlangsungnya pertumbuhan kehidupan orang percaya yang berpola pikir seperti Tuhan semakin meningkat. Dalam hal ini kehidupan Kekristenan seperti organisme yang hidup dan sangat dinamis. Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan hidup dari kemuliaan ke kemuliaan, tidak pernah berhenti atau mestinya tidak bisa berhenti. Sama seperti sebuah entitas yang hidup, pasti terus menerus mengalami pertumbuhan, sebab ini adalah hukum kehidupan yang mutlak.