Dampak Orang Yang Merasa Tidak Bahagia
27 April 2017

Akibat orang yang merasa tidak berharga di mata Tuhan berdampak parah seperti yang dapat dijelaskan di bawah ini: Pertama, ia akan cenderung hidup sembrono, tidak memedulikan Firman Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Dengan kata lain ia “tidak menghargai dan mengindahkan Tuhan”, kalau sudah demikian ia tidak takut akan Tuhan lagi. Oleh sebab itu Tuhan Yesus berkata: Takutlah akan Dia. Kalau seorang anak tidak menghargai orang tua maka ia tidak akan mengindahkan dan tidak akan takut kepadanya. Ia tidak akan peduli dengan semua perintah dan nasihat orang tuanya. Orang seperti ini tidak memahami gambar diri yang benar, sehingga akan membangun gambar diri yang salah.

Kedua, jiwanya dicekam dengan berbagai perasaan negatif seperti takut, cemas, khawatir dan lain-lain, sebab ia merasa tidak ada yang memedulikannya. Ia merasa bahwa dirinya tidak memiliki perlindungan yang meneduhkan jiwanya. Oleh sebab itu Tuhan Yesus berkata: “Jangan takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”. Kalau seekor burung pipit dihargai Tuhan, lebih lagi manusia. Pernyataan Tuhan tersebut hendak menasihati orang Kristen yang dicekam perasaan negatif untuk percaya penyataan Tuhan.

Ketiga, ia tidak akan menghargai orang lain, cenderung sewenang-wenang, tidak ada kasih. Tuhan berkata: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39) dimulai dari dapat mengasihi diri sendiri, menghargai diri sendiri sebab ia sadar dirinya berharga, maka ia dapat menghargai orang lain. Standar untuk mengasihi orang lain adalah mengasihi diri sendiri terlebih dahulu.

Pertanyaan penting dalam pembahasan ini adalah: Mengapa manusia berharga di mata Tuhan, sehingga Tuhan Yesus rela mati di kayu salib untuk menyelamatkannya? Untuk menjawab pertanyaan ini sering kita jumpai jawaban sebagai berikut: memang manusia berharga di mata Tuhan, titik. Jawaban yang lain adalah karena manusia merupakan hasil karya Tuhan yang termulia. Tidak ada makhluk yang diciptakan Tuhan semulia makhluk yang disebut manusia itu. Jawaban yang paling benar dan tepat adalah karena Tuhan memiliki rencana atas kehidupan masing-masing individu. Manusia berharga bukan karena manusia itu sendiri, tetapi karena rencana Tuhan atas hidup manusia itulah yang membuat manusia berharga di mata Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan hal ini, yaitu kalau seseorang tidak melakukan rencana Tuhan maka ia dibuang ke dalam api kekal.

Penghargaan Tuhan Yesus kepada masing-masing individu bukan hanya sampai kepada keselamatan jiwa seseorang, tetapi juga rencana-rencana-Nya atas hidup masing-masing individu. Tuhan menghargai manusia bukan karena manusia itu sendiri, tetapi karena rancangan-Nya dalam hidup masing-masing individu. Setiap insan ada bukan karena sudah ada dengan sendirinya, tetapi kita ada karena Tuhan yang menciptakan. Kita tidak memiliki apa-apa sebelumnya, kita ada bukan karena ada dengan sendirinya. Dalam teks bahasa Ibrani kata untuk menciptakan selain asah dan yatsar, juga bara. Kata bara artinya “menciptakan tanpa bahan”, baik ide maupun materinya. Manusia menciptakan sesuatu dari bahan-bahan yang sudah ada, tetapi Tuhan tidak hanya demikian. Ia menciptakan tanpa ada sesuatu sebelumnya (Latin. Creatio ex nihilo).

Banyak orang berpikir bahwa ia berharga di hadapan Tuhan karena dirinya memang berharga. Sesungguhnya apa yang dimiliki manusia? Manusia tidak memiliki apa-apa dan tidak berhak atas apa pun. Segala sesuatu dari Dia oleh Dia dan bagi Dia (Rm. 11:36). Dalam hal ini kita dapat mengerti mengapa pemberontakan kepada Tuhan bisa membawa manusia kepada kebinasaan kekal. Pemberontakan artinya tidak mengakui Tuhan sebagai Sang Pencipta dan Sang Majikan. Ini adalah kesombongan yang luar biasa. Di dunia ini orang yang dipandang tidak bermartabat adalah orang yang tidak tahu budi, apalagi kalau orang tidak tahu budi baik Tuhan.

Kesadaran terhadap kebaikan Tuhan membuat seseorang bisa rendah hati di hadapan-Nya dengan benar. Rendah hati yang benar terbangun dari pengakuan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan mestinya juga bagi Dia. Kesadaran ini juga akan membuat seseorang mengakui kebesaran Bapa dan membuat seseorang menghormati Tuhan secara pantas. Kesadaran ini akan membuat seseorang hidup sesuai dengan Firman-Nya, hidup dalam ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya. Kesadaran ini membuat seseorang bersedia hidup sepenuhnya bagi Dia dan berusaha menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Kesadaran ini akan membuat seseorang bergantung kepada kekuatan-Nya. Dan akhirnya membangun kerinduan bertemu dengan Tuhan.