Dalam Kekudusan Allah
26 March 2019

Kekudusan Allah adalah kesempurnaan kebenaran dalam seluruh hakikat-Nya yang tidak terbatas. Dalam kekudusan-Nya, hendak diperkenalkan kepada manusia bahwa Ia tidak menolerir pelanggaran terhadap hukum dan kehendak-Nya. Dalam kekudusan-Nya, Ia menuntut hukuman setiap orang yang bersalah (Nah. 1:2-4). Itulah sebabnya maka kekudusan Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya. Ia tidak akan menolerir dosa yang terjadi di tengah-tengah umat-Nya. Allah menolak tegas mereka yang tidak hidup dalam kesucian-Nya. Sekarang ini terkesan Allah tidak atau kurang tegas. Gereja juga sering kurang menunjukkan ketegasan Allah, lebih banyak berbicara mengenai kasih, kebaikan, dan kesabaran-Nya. Padahal suatu hari Allah akan bertindak tegas. Ia akan mengusir orang Kristen -bahkan orang yang mengaku hamba Tuhan atau pendeta- dari hadirat-Nya, yaitu mereka yang tidak melakukan kehendak Bapa.

Bila Alkitab menyatakan mengenai kekudusan Allah, itu bukan hanya bermaksud hendak menunjukkan bahwa Allah tidak bercela dalam seluruh tindakan-Nya, tetapi juga panggilan agar umat memiliki kesucian seperti Dia, agar umat tidak tertolak di hadapan-Nya. Umat dipanggil untuk memiliki kesucian seperti kesucian Allah. Dalam 1 Petrus 1:16, Firman Tuhan jelas mengatakan: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Tuhan menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan umat, sebab Allah tidak bisa bersama dengan umat yang tidak kudus. Firman Tuhan mengatakan: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2Kor. 6:17-18).

Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak berkeadaan seperti Allah, Bapanya. Alkitab menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Kata “berdosa” dalam teks aslinya adalah hamartano (ἁμαρτάνω), yang memiliki beberapa pengertian; di antaranya yang paling menonjol adalah tidak mengenai sasaran atau meleset. Inilah yang dimaksud bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak memenuhi atau mencapai standar sebagai anak-anak Allah. Kualitas kehidupan yang dimiliki manusia bukanlah kualitas anak Allah. Itulah sebabnya Allah Bapa mengutus Putra-Nya, agar melalui-Nya manusia diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kalau manusia tidak dikembalikan ke rancangan semula, yaitu berkeadaan seperti Bapa, maka mereka tidak layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, yang sama dengan tidak diperkenan masuk Rumah Bapa.

Kesucian hidup adalah hal mutlak yang harus dimiliki orang percaya. Mengerti hukum-hukum dan peraturan bukanlah jalan untuk mencapai kesucian yang Tuhan kehendaki, tetapi memahami pikiran dan perasaan Tuhan serta melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah jalan untuk terhindar dari penjara abadi; kebinasaan. Di tengah-tengah kemungkinan untuk berbuat dosa, orang percaya harus belajar untuk hidup di dalam ketaatan kepada Bapa, bukan penurutan kepada keinginannya sendiri. Dari hal ini maka terbangunlah kesucian yang sejati dalam hidup ini.

Dengan demikian kesucian bukan hanya melakukan hukum-hukum moral dan segala hal yang dipandang baik di mata manusia (demikianlah konsep agama-agama pada umumnya). Kesucian adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa di surga, dalam segala hal. Ini berarti orang percaya harus berangkat dari mengerti mengenai apa pun yang Bapa kehendaki dan dengan sukacita, serta rela bersungguh-sungguh berusaha melakukannya (Mat. 7:21-23). Kesucian hidup adalah kehidupan yang melakukan kehendak Bapa dengan sempurna. Kehidupan Tuhan Yesus adalah contoh kehidupan dalam kesucian yang dikehendaki oleh Bapa.

Kebiasaan hidup melakukan apa yang Bapa kehendaki akan membuat seseorang semakin memiliki kesucian seperti Bapa. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus menjadi sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Dengan demikian, kesucian hidup seseorang akan nampak bukan pada cara hidupnya yang kelihatan secara lahiriah -yaitu patuh atau tunduk kepada hukum- tetapi pada seluruh sikap hidupnya yang agung. Dalam hal ini, bagaimanapun kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya; seluruh gerak tubuh dan perkataannya. Sampai pada taraf ini, seseorang barulah dapat menjadi saksi Tuhan Yesus yang efektif. Menunjukkan keagungan Pribadi Yesus melalui hidup kita. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan memuliakan Tuhan. Dengan hal ini “kota yang terletak di atas bukit,” Kerajaan Surga, dapat dilihat oleh orang di sekitar kita.