Cara Kehadiran Allah
09 January 2020

Hampir semua orang Kristen secara akali percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada, hidup, dan Maha hadir. Maksudnya, Dia ada dan hadir dimana-mana. Namun, pengakuan itu tidak cukup membuat seseorang sungguh-sungguh mengalami Allah. Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman riil yang diakuinya sebagai pernyataan kehadiran Allah dalam hidupnya secara pribadi. Teologi dan pengetahuan tentang Allah lebih banyak atau hampir semua didengar dari berbagai sarana dan media. Namun, itu pun hanya berupa teori-teori yang belum terbukti dalam kehidupan secara konkret. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan kesaksian pribadi-pribadi yang telah berjalan dengan Allah secaraluar biasa. Itulah hidup yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang tidak terpisah dari Allah. Alkitab tidak pernah mencoba untuk membuktikan bahwa Allah itu ada dan membujuk pembacanya untuk memercayai eksistensi-Nya. Hal ini disebabkan karena para penulis Alkitab yakin benar bahwa Allah itu ada, yaitu hasil dari pengalaman nyata hidup mereka. Bagi mereka, eksistensi Allah bukan sesuatu yang aneh, melainkan sesuatu yang biasa dan tidak perlu lagi dibuktikan.

Dunia hari ini adalah dunia yang fasik.Kefasikan dunia makin memperkuat konsep atau keyakinan mereka bahwa Allah itu tidak ada dan tidak perlu ada. Kalaupun Allah itu ada, Dia tidak perlu memiliki relasi dengan manusia (2Ptr. 3:3-5, Mzm. 14:1-3). Itulah sebabnya Paulus mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:15-17). Banyak orang berpikir bahwa manusia dapat berdiri sendiri dan hidup tanpa Allah. Pengaruh semacam ini tanpa terasa telah membentuk jiwa dan kepribadian banyak orang, termasuk sejumlah besar orang Kristen. Itulah sebabnya dapat ditemui ada banyak orang Kristen yang hanya ber-Allah pada hari Minggu atau sementara berbakti di gereja. Di luar hari Minggu atau diluar hari kebaktian, mereka hidup kembali seperti anak-anak dunia yang tidak ber-Allah.

Para penulis Alkitab oleh ilham Roh memaparkan eksistensi Allah tanpa ada unsur keragu-raguan sama sekali. Mereka begitu yakin bahwa Allah itu adalah suatu realitas yang tidak terbantahkan. Hal ini bisa terjadi sebab para penulis Alkitab benar-benar telah mengalami kehadiran Allah dalam pengalaman hidup konkret mereka. Mereka tidak pernah membuktikan bahwa Allah itu ada, sebab mereka telah mengalami pribadi Allah itu sendiri.Allah adalah Allah yang transenden, tetapi sekaligus juga adalah Allah yang imanen, karenanya Dia dapat dikenali. Namun, pengenalan akan Allah itu adalah pengenalan yang terbatas, sebab Allah yang transenden tidak bisa dipahami secara sempurna atau sepenuhnya oleh rasio manusia yang terbatas. Allah adalah Allah yang transenden.Maksudnya, Allah adalah Allah yang melampaui segala akal dan pengalaman (trans-empiris). Hikmat dan kebijaksanaan-Nya tidak terduga oleh akal manusia dan tidak dapat diselami secara sempurna oleh makhluk manapun. Namun demikian, dalam eksistensi-Nya yang transenden tersebut,Dia berkenan menyatakan diri-Nya sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Dengan pengenalan yang ada, manusia dapat berinteraksi dengan Allah.

Dalam pernyataan-Nya yang ditulis dalam Alkitab dan terbukti dalam sejarah bahwa Allah adalah Allah yang berpribadi. Dia bukanlah sekumpulan doktrin dan sejumlah penjelasan. Ia bukanlah sekadar tenaga aktif yang secara mekanis bergerak,melainkan Ia adalah Allah yang berpribadi. Maksudnya berpribadi di sini adalah bahwa Allah adalah Allah yang memiliki integritas sebagai Oknum yang berkehendak, berperasaan, dan berpikir. Dia memiliki kesadaran sebagai Pribadi yang dapat berkomunikasi dengan pribadi lain, dalam hal ini, manusia yang diciptakan-Nya. Oleh sebab itu, umat harus memperlakukan Allah sebagai Pribadi pula (Nah. 1:1-7). Roh Allah atau Roh Kudus adalah cara kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya.

Allah adalah Roh. Maksudnya adalah bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata jasmaniah atau disentuh. Ia adalah pribadi yang eksis tetapi tidak dapat dijamah secara lahiriah, sebab ia tidak bertulang dan berdaging seperti kita. Dengan keadaan ini, Allah memiliki keunikan Diri yang tidak ada tandingannya. Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (Yoh. 4:23-24). Dalam hal ini, bisa dimengerti mengapa Allah menentang usaha untuk menggambarkan Allah dalam bentuk-bentuk atau wujud-wujud tertentu.Allah adalah Pribadi atau Oknum yang sudah ada dari kekal sampai kekal. Ia tidak berawal dan tidak berakhir. Itulah sebabnya disebutkan bahwa Allah ada di luar waktu (Mzm. 90:2). Dalam Alkitab, kita dapat menemukan pernyataan bahwa Allah adalah Allah yang tidak berubah. Hakikat, rencana dan kehendak-Nya tidak berubah, sekalipun Dia adalah Allah yang aktif bekerja dan berkarya (Yak. 1:17).