Bukti Mengalami Kehadiran Allah
08 January 2020

Setiap orang percaya harus sungguh-sungguh mengalami dan membuktikan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata. Kalau seseorang percaya bahwa Allah ada, hidup dan bisa nyata, ia mestinya dapat mengalami Allah yang hidup dan nyata tersebut secara riil. Dengan hal ini, seseorang dapat memiliki kesaksian dalam batin, bahwa Allah itu hidup, nyata, dan dapat dialami secara riil. Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang hidup? Membuktikan bahwa Allah ada dalam kehidupan pribadi itu dilakukan bukan karena mengalami kuasa mukjizat-Nya. Terkait dengan kuasa dan mukjizat, Iblis pun sanggup melakukannya. Oleh karena itu, terkait dengan hal ini, ada beberapa bukti yang membuat seseorang dapat membuktikan bahwa Allah itu ada, hidup, dan bisa dialami secara riil.

Pertama, ketika seseorang mengalami perubahan karakter. Perubahan karakter ini semakin membuatnya berkodrat ilahi. Semakin hari ia dapat merasakan betapa luar biasa keagungan kepribadian yang diajarkan oleh Allah kepadanya. Kalau menengok tahun-tahun sebelum seseorang bersungguh-sungguh belajar kebenaran, ia dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara kehidupan dahulu dengan sekarang. Kita merasakan dan menghayati betapa hebat kuasa Allah yang bekerja di dalam dirikita agar kitamengalami perubahan. Dari hal ini, kita memiliki kesaksian dalam batin bahwa Allah ituada, hidup, dan bisa dialami riil. Dengan kehidupan seperti ini, kita barulah dapat menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini, kita barulah bisa mengerti bagaimana menjadi saksi Kristus.

Kedua, perasaan damai sejahtera yang sangat kuat, melebihi kesenangan dan kebahagiaan oleh apapun dan siapapun. Perasaan damai sejahtera dan bahagia tersebut belum pernah kita alami sebelumnya. Semakin hari, damai sejahtera tersebut akan semakin kuat. Hal itu membuat kita tidak terikat oleh suatu keinginan, kesenangan, atau kebahagiaan apapun. Orang-orang yang dapat menikmati damai sejahtera Allah secara benar dan proporsional tidak mungkin dapat tertawan oleh percintaan dunia. Mereka dapat memenuhi yang dikatakan dalam Firman Allah “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8).Mereka bisa mengikut Yesus dengan prinsip:“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Luk. 9:58). Hanya orang-orang seperti ini yang dapat mewujudkan Firman Allah untuk mengumpulkan harta di surga dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga. Mereka barulah dapat dikatakan sebagai orang yang “bukan berasal dari dunia ini, melainkan berasal dari surga” (bnd. Yoh. 17:14).

Ketiga, perasaan tidak takut menghadapi apapun. Hal ini tidak pernah terpikir sebelumnya, sebab kita belum pernah mengalaminya. Saat mengalaminya, kita sendiri akan menjadi kagum, bahwa ternyata kita bisa menjadi begitu kuat dan kokoh menghadapi segala keadaan. Kita bukan saja tidak takut menghadapi ancaman dan keadaan yang paling genting seperti bagaimana pun, bahkan kita tidak bisa menjadi takut. Keberanian yang paling menakjubkan adalah ketika kita tidak takut menghadapi kematian. Kematian yang merupakan “momok” yang menakutkan malahan menjadi hari atau saat yang dinanti-nantikan. Kematian bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan “jembatan emas” untuk menuju kemuliaan bersama dengan Allah Yesus.

Keempat, perasaan mengasihi Allah yang sangat kuat. Perasaan cinta itu belum pernah kita alami. Perasaan cinta kasih ini mendorong kita untuk melepaskan segala sesuatu yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Pelayanan pekerjaan Allah tidak lagi menjadi “kewajiban,” tetapi menjadi seperti “kebutuhan.”Dengan hal itu, kita barulah bisa memahami pernyataan Yesus, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Bagi orang yang mengasihi Allah dengan benar, kebutuhannya adalah menolong sesama demi kemuliaan Allah. Hal ini mendorong kita untuk mengasihi orang di sekitar kita dengan tulus dan dengan hati membara. Perasaan cinta kasih kepada Allah ini membangkitkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan Tuhan di Kerajaan-Nya nanti.

Kelima, kesadaran dan penghayatan bahwa bumi ini bukan rumah kita. Hal ini memberi perasaan yang kuat bagi kita untuk kembali ke Rumah Bapa. Kematian tidak lagi menakutkan. Orang yang masih takut mati menandakan bahwa ia belum menemukan Allah secara benar. Bumi yang kita huni ini sebenarnya bukan bumi yang dirancang oleh Allah. Bumi ini telah menjadi produk gagal karena pemberontakan manusia. Tuhan Yesus menjanjikan langit yang baru dan bumi yang baru. Tuhan Yesus pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi orang percaya. Kalau Tuhan Yesus sudah pergi dan menyediakan tempat bagi orang percaya, Ia akan datang kembali dan membawa kita ke tempat tersebut, sebab Ia ingin di mana Ia berada, orang percaya juga ada (Yoh. 14:1-3).