Bukan Sesuatu Yang Mistik
22 January 2017

Kekudusan harus dipandang secara benar. Dalam konteks umat Perjanjian Baru, kalau seseorang dikuduskan itu bukan hanya berarti ia mengalami pembasuhan seperti pembasuhan oleh darah domba dalam Perjanjian Lama, tetapi artinya orang percaya dimerdekakan dari dosa dengan segala akibatnya, sebab Tuhan Yesus telah memikulnya di kayu salib dengan sempurna. Orang percaya seharusnya tidak lagi mempersoalkan penghapusan dosa seperti konsep Perjanjian Lama, yaitu noda-noda dibersihkan dengan darah. Tetapi yang benar adalah bahwa semua dosa sudah dipikul di kayu salib, sehingga posisi orang percaya adalah posisi sebagai anak yang telah menerima penghapusan dan pengampunan dosa.

Adapun kalau sekarang berbicara mengenai pengudusan, yang dikuduskan bukanlah dosa yang melekat seperti noda dalam kehidupan seseorang akibat suatu kesalahan atau dosa yang dilakukan, tetapi keberadaan seseorang yang belum berkarakter seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus dalam doanya mengatakan: Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, Firman-Mu adalah kebenaran (Yoh. 17:17). Dalam hal ini yang utama yang dipersoalkan bukan hanya “tindakan melakukan suatu dosa atau kesalahan” tetapi sifat atau karakter dosa dalam diri seseorang yang harus dibereskan. Terkait dengan hal ini perlu dipahami bahwa kata kudus dalam Bahasa Ibrani adalah qados, artinya bukan hanya bersih tetapi lebih berarti “dipisahkan dari yang lain untuk digunakan”. Sedangkan dalam Bahasa Yunani adalah hagios, yang berarti pula “berbeda dari yang lain”.

Firman Tuhan didengar untuk dipahami sebagai logos. Tentu untuk mendengar membutuhkan sarana indera yang dalam hal ini adalah telinga. Dari telinga masuk ke dalam jiwa. Selanjutnya melalui pengalaman hidup, logos diterjemahkan dalam situasi konkret menjadi rhema yang keluar dari mulut Allah (berarti keluar dari hati; Mat. 4:4). Inilah yang menjadi makanan rohani yang mendewasakan. Rhema inilah yang membentuk hati nurani dalam neshamah (roh manusia), sehingga roh manusia bisa menjadi pelita Tuhan. Dengan demikian penyucian berlangsung selagi manusia memiliki telinga untuk mendengar dan jiwa untuk menampungnya. Jiwa inilah yang akan membangun, membentuk dan mewarnai hati nurani dalam neshamahnya. Bisa disimpulkan bahwa penyucian manusia terjadi selagi di bumi, bukan di alam kematian. Semua ini berlangsung secara natural dan logis.

Pengalaman hidup adalah sarana karakter seseorang dikuduskan oleh Tuhan. Petrus mengatakan hal ini dengan pernyataan: Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1Ptr. 1:6-7). Perhatikan kalimat “sekarang ini”. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemurnian sekarang ini, bukan nanti di balik kubur.

Sangatlah mistik kalau cara penyucian sifat dosa dalam diri seseorang terjadi melalui proses api penyucian setelah mati. Penyucian hidup seseorang adalah penyucian dari karakter dosa. Proses tersebut melalui atau dengan menggunakan Firman Tuhan (Yoh. 17:17). Proses penyucian tersebut adalah proses hari ini, sekarang dan di bumi ini, bukan dibalik kubur. Ketika seseorang menutup mata, maka seluruh perjalanan pengembaraan rohaninya berhenti. Itulah batas akhir proses penyucian.

Selama hidup di dunia orang percaya harus terus menerus mengalami proses pemuridan yang sama dengan pendewasaan (Mat. 28:18-20). Itulah sebabnya amanat agung Tuhan Yesus harus diamalkan sejak ada di bumi ini, bukan di bumi yang lain. Selagi hari siang kita harus bekerja sebab datang malam di mana tidak seorang pun dapat bekerja. Usaha untuk dilayakkan masuk ke dalam Kerajaan Surga bukanlah nanti kalau sudah mati, tetapi sekarang sewaktu masih hidup. Pengudusan dengan api penyucian bukanlah pengudusan yang proporsional secara tatanan Ilahi, sebab Tuhan menghendaki respon individu untuk menjadi berkenan di hadapan-Nya.