Bukan Kerajaan Israel Duniawi
17 October 2019

Dalam perikop Kisah Rasul 1:6-11 terdapat percakapan antara Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya setelah kebangkitan Tuhan Yesus, yaitu sebelum Tuhan Yesus naik ke surga. Percakapan itu dimulai oleh murid-murid yang bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini juga sebenarnya merupakan harapan dan tuntutan yang selama ini mereka pendam dan menguasai pikiran mereka. Ketika Tuhan Yesus disalib, harapan itu pupus. Tetapi ketika Tuhan Yesus bangkit, harapan itu mekar kembali. Mereka sangat mengharapkan Tuhan Yesus memenuhi harapan dan tuntutan mereka. Dari pertanyaan tersebut, ada 2 hal penting yang harus diperhatikan: Pertama, kata “masa ini” yang dalam teks aslinya adalah en to krono, (Ing. at this time) dan yang kedua, kata “memulihkan” yang dalam teks aslinya adalah apokathistano (Yun.). Maksudnya, yang dipulihkan adalah kerajaan Israel.

Dari tuntutan tersebut, nampak bahwa murid-murid Tuhan Yesus menghendaki agar pada masa mereka hidup di dunia ini, Tuhan membangun atau memugar kembali (apokathistano) kerajaan Israel. Kerajaan yang mereka maksudkan adalah kerajaan yang pernah dirintis oleh Saul kemudian dibawa oleh Daud dan Salomo ke zaman kejayaan dan puncak keemasannya. Dari pertanyaan tesebut di atas, jelas bahwa murid-murid masih belum mengerti visi dan misi kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini. Padahal, seharusnya mereka sudah mengerti, sebab mereka sudah belajar dari Tuhan Yesus mengenai banyak kebenaran selama tiga setengah tahun, siang dan malam. Di mana letak kesalahan murid-murid Tuhan Yesus ini?

Kesalahan pertama, pemahaman mereka yang keliru mengenai pemulihan kerajaan Israel. Kerajaan Israel yang dipulihkan oleh Tuhan Yesus bukanlah pada waktu itu, waktu yang diingini oleh mereka, tetapi pada saat yang akan ditentukan oleh Bapa. Ini adalah kebiasaan manusia yang mau memiliki “waktu sendiri” bukan mengikuti waktunya Tuhan. Kedua, orang percaya tidak perlu tahu kapan Bapa mengadakan pemulihan itu. Tuhan Yesus berkata bahwa murid-murid tidak perlu tahu waktunya Bapa memulihkan kerajaan bagi Israel. Secara tidak langsung, Tuhan juga ingin menyiratkan ada yang lebih penting yang harus mereka tahu dan juga mereka harus kerjakan, yaitu menerima kuasa untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi. Tidak ada mahkota tanpa salib. Mereka harus menjadi saksi menderita bagi Tuhan barulah dapat dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17).

Ketiga, bahwa yang dipulihkan Bapa bukanlah kerajaan Israel duniawi seperti yang mereka harapkan dan maksudkan. Kerajaan memang ada tetapi bukanlah kerajaan versi manusia seperti yang dipahami oleh mereka selama ini. Kalau melihat sejarah, empat puluh tahun (sekitar tahun 70 Masehi) setelah percakapan antara Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya waktu itu (Kis. 1), Yerusalem dihancurkan oleh Jendral Titus dari Roma. Sejak saat itu bangsa Israel tidak lagi memiliki tanah air. Baru setelah selesai Perang Dunia Kedua—yaitu pada tanggal 14 Mei 1948—negara Israel berdiri. Ini berarti hampir 1900-2000 tahun mereka terusir dari negeri perjanjian, tanah air mereka, dan tidak memiliki tanah air.

Sebenarnya kesalahan konsep mengenai kerajaan teokrasi (Allah yang memerintah) pada murid-murid Tuhan Yesus sudah lama terjadi. Tercatat dalam Injil berulang-ulang kejadian yang menunjukkan bahwa murid-murid belum mengerti kerajaan macam apa yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Pertama, tatkala Petrus melarang Yesus ke Yerusalem (Mat. 16:21-23). Mereka tidak menginginkan Tuhan Yesus mati disalib, sebab itu berarti harapan mereka memiliki pahlawan seperti Daud menjadi pudar. Kedua, tatkala mereka tidak mau menerima bahwa daging dan darah Yesus adalah makanan dan minuman (Yoh. 6:55-56). Karena hal ini, sebagian murid-murid Tuhan Yesus mengundurkan diri (Yoh. 6:66). Banyak orang-orang Yahudi pada zaman itu bermaksud menjadikan Yesus pahlawan atau juruselamat model mereka atau mesias model mereka. Yesus menegur mereka bahwa mereka mencari Tuhan hanya karena roti fana (Yoh. 6).

Ketiga, ketika anak-anak Zebedius meminta agar menjadi pejabat di sebelah kanan dan kiri Tuhan (Mrk. 10:35-45). Mereka memiliki konsep bahwa kerajaan yang dibangun Tuhan Yesus adalah kerajaan di dunia ini (seperti Kekaisaran Roma atau Kerajaan Herodes). Konsep mengenai kerajaan dalam pikiran murid-murid pada dasarnya sama dengan konsep orang Yahudi pada umumnya pada waktu itu. Itulah sebabnya sebenarnya mereka memiliki sengat atau gairah yang sama. Mereka hendak mengangkat Tuhan Yesus sebagai raja. Kesalahan ini hendaknya tidak terjadi dalam kehidupan orang percaya hari ini. Kerajaan Allah yang orang percaya harapkan datang atau hadir adalah Kerajaan Allah yang rohani, dimana Roh Kudus sebagai penuntunnya.