Born To Care
31 December 2017

Hari ini kita menemukan tema yang singkat tetapi menantang, yaitu “terlahir untuk peduli” (born to care) atau dilahirkan untuk peduli. Tentu secara historis, kalimat ini ditujukan bagi Tuhan Yesus yang lahir untuk peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa. Oleh kepedulian-Nya, manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali Sang Khalik untuk mewarisi kerajaan-Nya. Kalau kita konsekuen sebagai anak Allah, kita tidak hanya menjadikan kalimat di atas sekedar pajangan, tetapi menjadi tema kehidupan kita. Seperti yang Tuhan Yesus kemukakan: Seperti anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat 20:27-28). Bukan untuk dipedulikan tetapi memedulikan. Untuk menjadikan kalimat ini sebagai tema kehidupan kita, ada pertaruhan yang sangat mahal. Pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Namun, sebelum lebih jauh memahami harga kepedulian yang harus menjadi hiasan hidup ini, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu kepedulian dan bagaimana memulainya?

Kepedulian terhadap sesama harus dimiliki dengan “rasa atau naluri”, yang lahir dari kerelaan memberi diri. Dalam hal ini, hanya kita sendiri yang dapat menciptakannya, bukan Tuhan. Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing kita. Dalam Lukas 10:30-37, terdapat kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Di dalamnya, Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita siapa sesama manusia kita itu. Di dalam fragmen tersebut, juga disiratkan mengenai “kepedulian” yang lahir dari kesadaran yang murni dan tulus. Kepedulian tanpa pamrih yang sangat menakjubkan. Tentu imam dan Lewi yang dikisahkan dalam fragmen ini, secara teori sudah tahu bagaimana mengasihi sesama, mereka bukan tidak mengerti bagaimana memperhatikan atau memedulikan orang lain. Hal mengasihi sesama atau memedulikan orang lain adalah pokok-pokok pengajaran yang menghiasi bibir mereka. Tetapi, masalahnya adalah mereka tidak memiliki hati yang peduli kepada orang lain atau heart for the people.

Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kepedulian ini merupakan kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Selama ini, kita jumpai tidak sedikit orang Kristen yang “tidak tahu diri”. Sudah memiliki keselamatan oleh korban-Nya yang berharga, masih saja menuntut banyak hal kepada Tuhan. Kalau kita sudah boleh lepas dari api kekal, maka itu sudah cukup bagi kita. Hendaknya, kita menghayati betapa mahal keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Berangkat dari ini, maka muncul kerinduan untuk membalas kebaikan Tuhan. Orang Kristen yang mencari keuntungan duniawi atau Kristen oportunis tidak akan mengerti kepedulian ini. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus sangat mudah terjadi atau dilakukan.

Naluri peduli terhadap orang lain akan menyala kuat, tatkala kita menghayati nilai keselamatan yang telah Tuhan berikan. Naluriah untuk memedulikan orang lain akan mengalir terus seiring dengan waktu dari hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kerinduan membalas kasih kepada Tuhan akan menggerakkan kita menyerahkan apa pun yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Kalau meminjam kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus, orang-orang seperti ini adalah mereka yang tidak menyelamatkan nyawanya sendiri. Dengan demikian, ia akan menjadi hamba Tuhan yang peduli terhadap kepentingan kerajaan Allah. Untuk ini, pertaruhannya adalah segenap hidup. Orang-orang yang rela mengorbankan diri seperti ini adalah orang-orang yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus tidak akan pernah dilakukan.

Kepedulian yang kita selenggarakan harus mengacu kepada kepedulian Tuhan atau mencontoh kepedulian-Nya, sebab kepedulian Tuhan Yesus pasti sempurna. Pertama, dasar kepedulian adalah kasih bukan upah. Hal ini telah dimiliki Paulus atau diperagakan olehnya ketika ia berkata: Ini upahku kalau aku boleh melayani tanpa upah (1Kor. 9:18) Kalau dasarnya upah, itu bukanlah kepedulian. Mari kita memeriksa diri, sejauh mana kita telah memiliki kepedulian bagi orang lain dengan dasar ini. Kedua, kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus atau untuk kerajaan Bapa. Bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Inilah yang dimaksud Firman Tuhan: Membawa perawan suci di hadapan Tuhan (2Kor. 11:2). Bukan sekedar membuat setiap jemaat menjadi anggota gereja yang setia datang ke gereja, tetapi benar-benar mengubah mereka menjadi mempelai Tuhan yang tidak bercela di hadapan Tuhan.