Bersifat Anak Allah
22 July 2017

Sesungguhnya ada gairah yang ada pada diri Yesus, yang jika orang percaya memilikinya, maka hal itu ditandai dengan perilaku seperti Yesus dalam kehidupannya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapa seperti yang Tuhan Yesus lakukan di bumi ini ketika mengenakan tubuh daging seperti kita. Mereka adalah orang-orang yang memiliki roh Kristus. Dengan demikian sebutan anak Allah tidak bisa dikenakan bagi sembarang orang, tetapi hanya mereka yang dipimpin Roh Allah sehingga memiliki roh Kristus, yaitu orang-orang yang dalam seluruh tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa seperti yang dijalani oleh Yesus. Orang-orang ini seperti mendapat stempel dari Allah dengan memiliki pneuma huiothesias (πνεῦμα υἱοθεσίας). Inilah yang membuat seseorang memiliki panggilan yang sah kepada Allah sebagai Bapa.

Ternyata melalui perjalanan hidup, ketika seseorang sudah belajar membayar hutang-hutangnya untuk tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh, ia menerima roh yang mengadopsi dirinya sebagai anak-anak Allah secara sah. Dalam Roma 8:15 terdapat kata pneuma huiothesias (πνεῦμα υἱοθεσίας). Kata huiothesias yang bisa merupakan gabungan dari kata huios, Theos dan -as yang artinya “bersifat sebagai anak Allah”. Kata ini menunjuk keadaan seorang yang teradopsi sebagai anak Allah secara sah. Kata pneuma huiothesias menunjuk sebuah kesadaran diri sebagai anak-anak Allah. Kesadaran diri inilah yang menggerakkan seseorang memanggil Allah (Theos) sebagai Bapa tanpa ragu-ragu atau dalam kemurnian hati, yaitu setelah memiliki kesaksian dalam batinnya bahwa dirinya adalah anak Allah.

Orang percaya yang menolak hidup dalam pimpinan Roh Kudus sehingga masih hidup dalam daging berhubung tidak memiliki roh yang memuat gairah dan hasrat-Nya, memikirkan hal-hal yang dari daging, berarti masih hidup dalam “roh perbudakan”. Jadi jelaslah, apakah seseorang hidup dalam roh perbudakan atau hidup menurut roh tergantung masing-masing individu. Jemaat Roma adalah jemaat yang luar biasa, Mereka berani menantang aniaya yang hebat terhadap mereka dari pihak pemerintah Romawi. Mereka berani kehilangan apa pun juga demi iman mereka. Inilah orang-orang yang telah memikirkan hal-hal dari roh, bukan dari daging. Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan bahwa orang percaya di Roma adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang (Rm. 8:7). Orang-orang yang menang maksudnya adalah orang-orang Roma yang lebih unggul dalam kekayaan, kedudukan, kehormatan dan lain sebagainya.

Orang-orang percaya di Roma adalah anak-anak Allah yang bermartabat lebih dari semua orang-orang yang hebat menurut ukuran dunia. Anak-anak Allah memiliki keagungan lebih dari manusia pada umumnya, yaitu dalam moral dan karakter di segala aspeknya atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak banyak orang bisa mencapai level ini, sebab memang sangat sulit. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai jalan sempit. Sedikit orang yang bisa masuk. Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih.

Dari uraian Paulus di atas, jelas sekali Firman Tuhan menyatakan bahwa tidak semua orang yang layak memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi hanya mereka yang memiliki keadaan sebagai anak-anak Allah, artinya orang yang hidup dalam hasrat atau gairah Tuhan Yesus, hidup dalam pimpinan Roh. Tentu saja mereka yang memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Orang-orang seperti ini memiliki kesaksian di dalam dirinya bahwa dirinya adalah anak Allah, sebab dalam dirinya ada kesadaran sebagai anak-anak Allah (pneuma huiothesias). Allah sendiri dalam keagungan-Nya yang tiada tara tidak memberi diri dipanggil “Bapa” oleh sembarangan orang. Itulah sebabnya dikatakan dalam 1 Petrus 1:17: Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Seakan-akan di balik ayat ini terdapat pernyataan: Hati-hati kalau kamu memanggil Allah sebagai Bapa. Perhatikan kelakuanmu, apakah kau layak memanggil Allah sebagai Bapa? Sebab Bapa menghendaki agar orang percaya berkeadaan kudus, seperti Bapa juga berkeadaan kudus (Ptr. 1:16).