Bermartabat Sebagai Anak-Anak Allah
15 January 2020

Kita semua harus terus mengalami proses perubahan, sehingga perjalanan hidup kita ini menjadi petualangan yang hebat karena itu menentukan kekekalan yang tiada batas. Tidak ada yang lebih menarik dalam hidup kita, selain perubahan-perubahan itu. Perubahan-perubahan itu akan menyenangkan hati Bapa. Jadi, perubahan itu bukan hanya tidak berbuat dosa, melainkan juga perubahan menjadi manusia baru berstandar Yesus untuk menyenangkan hati Bapa. Allah Bapa mengetahui apakah kita ini mengalami perubahan yang benar atau tidak. Jika Bapa merasakannya, tentu saja orang sekitar kita juga pasti akan merasakannya.

Jika kita masuk pada pergumulan ini, tiada lagi yang menarik dalam hidup kecuali Allah dan Kerajaan-Nya. Untuk itu, mengikut Yesus tidak mungkin dapat membuat kita hidup wajar, karena mengikut Yesus itu berarti harus hidup seperti Dia hidup; harus mengenakan hidup-Nya. Gereja Tuhan harus semakin berbicara lantang, tegas, dan tajam mengenai hal ini. Tidak ada lagi yang patut dipercakapkan, kecuali bagaimana kita mengerti kebenaran-kebenaran Firman yang mencerdaskan pikiran, dan membuat jemaat makin peka terhadap pikiran dan perasaan Allah. Kepekaan ini merupakan inti proses perubahan dalam kehidupan orang percaya, bukan sekadar menambah pengertian mengenai hukum yaitu apa yang diperbolehkan dan dilarang, halal, atau haram. Standar kebenaran dan kesucian orang percaya adalah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga dapat dengan tepat memahami apa yang benar dan baik menurut standar kesucian Allah. Inilah kekayaan abadi kita.

Firman Tuhan mengatakan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor. 8:9). Ini sama sekali tidak berhubungan dengan kekayaan materi. Jadi, kalau kalimat dalam ayat ini dikaitkan dengan harta dunia, itu merupakan kejahatan di dalam gereja; itu merusak tatanan pikiran. Menjadi “Kristen” itu berarti diberi kesempatan menjadi anak-anak Allah. Jadi, menjadi orang yang beragama “Kristen” bukan berarti “sudah” menjadi anak Allah yang sah, melainkan “sedang” menjadi anak-anak Allah. Belum menjadi anak-anak Allah yang sah berarti masih menjadi anak-anak yang tidak sah yang dalam kata bahasa Yunani disebut nothos. Namun, setelah menjadi anak Allah yang sah, yaitu setelah mengambil bagian dalam kekudusan Allah,anak-anak Allah itu barulah disebut dalam istilah bahasa Yunani sebagai huios.

Jadi, fokus hidup kita sekarang ini hanya bagaimana berubah terus sampai menjadi manusia yang benar-benar baru. Dalam pergumulan demi perubahan tersebut, kita pasti tahu jika masih ada ada unsur-unsur manusia lama kita. Jangan sampai kita sibuk di pelayanan secara teknis dan berprestasi dalam pelayanan, tetapi tidak mengalami pembaruan di dalam manusia batiniah kita. Ada orang-orang yang cakap berkhotbah dan cakap dalam mengatur organisasi gereja, tetapi gagal menjadi manusia baru. Tidak sedikit mereka berasal dari jemaat awam tetapi sudah memiliki pengetahuan Alkitab, menjadi cakap berkhotbah, membantu pelayanan dalam kegiatan-kegiatan gereja, tetapi mereka ternyata tidak mengalami perubahan seperti Yesus; tidak menjadi manusia baru. Tidak heran bila di tengah-tengah masyarakat mereka tidak tampil sebagai saksi Kristus, karena hidup mereka tidak memancarkan kehidupan Yesus. Proses perubahan harus dialami melalui perjuangan dalam hal-hal sederhana.

Oleh sebab itu, salah satu yang penting dalam hidup ini adalah menjaga lidah untuk tidak mengucapkan kata-kata yang sia-sia, belajar mengendalikan emosi, serta membersihkan jiwa kita yang keruh dari perasaan-perasaan yang negatif seperti iri hati, cemburu, mencari hormat manusia, tidak suka orang lain dianggap penting, dan lain sebagainya. Itu semua adalah manusia lama yang harus dimatikan. Kalau masih hidup dalam sifat-sifat manusia lama tersebut, kita pasti tidak akan masuk Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa masuk Kerajaan Allah itu bukan sesuatu yang mudah dan murahan. Firman Tuhan mengatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit orang yang dipilih (Mat. 22:14). Banyak orang berusaha masuk Surga tetapi tidak berhasil masuk. Kalau seorang Kristen masih hidup sembarangan atau sembrono, ia pasti tidak akan pernah masuk Surga.

Kita harus menghindarkan diri dari berbicara tentang hal yang tidak perlu, apalagi menyakiti orang lain dengan perkataan atau tulisan di mediasosial. Kita harus menolak berbuat dosa lagi walaupun kita masih mempunyai keinginan-keinginan daging ini atau masih ada dalam kodrat dosa. Kita harus memilih taat. Meskipun kita dikata-katai dengan berbagai tuduhan jahat, kita tidak boleh membalasnya dan tidak perlu memikirkannya sama sekali. Semua itu merupakan cara Allah memurnikan kita agar menjadi mempelai yang layak bagi Kristus. Yesus pun telah mengalami semua tantangan tersebut dan bisa bersikap sebagai Anak Allah yang bermartabat.