Berjuang Untuk Menang
27 January 2019

Ketika seseorang mengaku Yesus adalah Tuhan, maka dimulailah sebuah perjuangan untuk menempatkan diri sebagai umat di hadapan Yesus sebagai Majikan. Sejak itu, seseorang yang mengaku percaya tersebut, harus hidup dalam perhambaan kepada Tuhan. Perhambaan kepada Tuhan sesungguhnya adalah kemerdekaan, sebaliknya, lepas dari perhambaan dari Tuhan berarti belenggu yang membawa seseorang menuju api kekal. Dalam hal ini orang percaya harus memilih; hidup dalam perhambaan kepada Tuhan Yesus atau kepada yang lain. Orang percaya harus memilih salah satu, sebab seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sepenuhnya atau segenap hidup mengabdi kepada Tuhan, atau tidak sama sekali.

Perjuangan ini untuk menempatkan diri sebagai hamba bagi Yesus -yang adalah Majikan orang percaya- bukanlah sesuatu yang mudah, sebab irama hidup setiap individu sudah terlanjur terbiasa menjadikan diri sebagai tuan atau majikan. Irama hidup manusia pada umumnya adalah I am the king. Biasanya segala sesuatu dilakukan hanya untuk kesenangan diri sendiri. Bahkan dalam berurusan dengan Tuhan pun karena hendak memperdaya Tuhan atau memanfaatkan Dia.

Ketika seseorang masih kanak-kanak rohani, maksudnya belum lama menjadi orang Kristen, sangatlah bisa dimengerti kalau relasi dengan Tuhan berdasarkan azas manfaat. Hal ini sama seperti mekanisme kalau seseorang datang ke dukun. Kepentingan datang ke dukun karena hendak memanfaatkan dukun tersebut bagi kepentingan pribadi, bukan kepentingan dukun. Tetapi kalau seorang Kristen sudah semakin dewasa atau akil balik, maka seharusnya relasi dengan Tuhan berdasarkan azas devosi. Berurusan dengan Tuhan karena mengabdi kepada Tuhan. Biasanya orang-orang Kristen yang dewasa seperti ini, tidak mudah menyampaikan permohonan kepada Tuhan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi yang dipersoalkan dan digumuli adalah bagaimana mengerti kehendak Tuhan dan rencana-Nya untuk dipenuhi.

Selama seseorang masih menjadikan dirinya sebagai tuan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, berarti ia belum bisa menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Orang-orang seperti ini belum bisa dikatakan sebagai pemenang. Dewasa ini begitu mudah banyak orang Kristen mengklaim dirinya sebagai umat pemenang. Hal ini disebabkan oleh karena banyak pembicara-pembicara Kristen dan para pemimpin puji-pujian dalam kebaktian yang mengajarkan bahwa semua orang yang mengaku percaya berarti sudah menjadi umat pemenang. Seakan-akan menjadi umat pemenang adalah sesuatu yang otomatis melekat pada diri mereka setelah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini menciptakan orang-orang Kristen yang bodoh, tetapi tidak menyadari kebodohonnya.

Untuk menemukan pengertian yang benar apa artinya menjadi pemenang, perlulah kita menemukan terlebih dahulu siapakah musuh kita. Bagaimana kita dapat berbicara mengenai kemenangan kalau kita tidak mengerti siapa musuh kita?Alkitab menunjukkan bahwa musuh kita adalah kuasa gelap atau si Iblis.Namun perlu diketahui dengan cerdas bahwa yang membahayakan dari Iblis dalam hidup orang percaya bukan hanya pada waktu ketika Iblis merusak ekonomi, kesehatan, fasilitas hidup, dan menyerbu dengan berbagai persoalan hidup lainnya, tetapi justru ketika ia menempatkan orang percaya dalam keadaan ekonomi baik, tubuh sehat, dan keadaan nyaman. Ketika orang Kristen dalam keadaan jaya, maka sangat berpotensi untuk menjadi tuan bagi dirinya dan semakin kuat dalam ekonomi, kedudukan dan lain sebagainya, akan semakin menjadi tuan bagi sesamanya.

Oleh sebab itu orang percaya harus berhati-hati terhadap musuh yang licik ketika membawa orang percaya kepada keadaan yang baik secara ekonomi, terhormat, makmur, nyaman, dan tidak berkekurangan secara materi. Dengan keadaan ini orang percaya hendaknya tidak hanyut dalam euphoria dunia. Keadaan yang baik dengan segala kelimpahan materi merupakan kesempatan untuk dapat digunakan bagi kepentingan Tuhan, yaitu bagi pelayanan pekerjaan-Nyaguna menyelamatkan jiwa-jiwa; bagaimana Injil diberitakan dan diajarkan kepada banyak orang sehingga mereka mengenal kebenaran sehingga menjadi corpus delicti. Keadaan hidup yang baik merupakan hak istimewa orang percaya untuk dapat melayani Tuhan tanpa gangguan.

Sebaliknya, keadaan-keadaan yang sulit bukanlah sebuah kekalahan. Inilah yang salah dimengerti oleh banyak orang Kristen. Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa keadaan sulit adalah akibat serangan Iblis. Jadi kalau mereka berkeadaan tidak menyenangkan, maka mereka merasa sebagai orang-orang yang kalah. Sebenarnya bukan sesuatu yang sulit bagi Tuhan melimpahi orang percaya dengan berkat materi, menjadikan mereka terhormat. Tidak sulit bagi Tuhan untuk membuat mereka menonjol dalam bidang-bidang kehidupan yang digumuli manusia, seperti politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Tetapi, masalahnya adalah apakah dengan kelimpahan tersebut mereka tetap rendah hati, atau sebaliknya menjadi sombong? Kalau ternyata menjadi sombong dan mengangkat diri sebagai tuan bagi dirinya dan bagi sesamanya, maka berarti sebuah kekalahan.