Berjalan Harmonis dengan Allah
06 January 2020

Satu hal terutama untuk bisa menyelenggarakan hidup sesuai dengan kehendak Allah adalah hidup dalam kekudusan-Nya. Firman Allah berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Mengapa Allah menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan yang harus kita kenakan? Allah berkehendak agar orang percaya bersekutu dengan Allah sehingga menjadi satu Roh dengan Dia (1Kor. 6:17). Hal ini sama dengan panggilan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kekudusan adalah syarat mutlak untuk bisa diterima oleh Bapa. Dalam 2 Korintus 6:17-18 tertulis, “Sebabitu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Oleh penumpahan darah Yesus, Allah Bapa memang menerima kita tanpa melihat keberadaan kita, yaitu ketika baru menjadi orang Kristen. Kita diterima dan diberi meterai Roh Kudus. Meterai tersebut sama dengan mengadakan Perjanjian dengan Allah, dimaksudkan agar kita terus berubah mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kudus di sini bukan hanya karena kita telah menerima pengampunan dosa, melainkan karena karakter kita menjadi seperti Yesus, sehingga kita dapat mengimbangi Allah.

Mengimbangi Allah artinya dapat mengerti kehendak Allah dan melakukan semua kehendak-Nya. Selain itu, mengimbangi Allah berarti berkarakter seperti Dia sehingga Allah disukakan oleh segala perilaku kita, baik yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Allah tidak akan bersama dengan orang yang karakternya buruk.
Tidak mungkin orang yang kejam, bengis, tidak jujur, tidak bisa mengendalikan nafsu, dan berbagai karakter buruk lainnya dapat berjalan harmonis dengan Allah. Seseorang berwatak buruk seperti yang disebut diatas, beragamapun percuma. Memang, orang tersebut bisa menjadi orang beragama—meskipun pada dasarnya ia tidak ber-Tuhan— namun pada akhirnya, orang seperti itu tidak melakukan kehendak Bapa dan pasti ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21-23). Banyak orang Kristen dan teolog berpikir bahwa setelah menerima pengampunan dosa, hati mereka menjadi bersih dan secara tidak langung dilayakkan berjalan dengan Allah dan bisa berjalan harmonis dengan Dia. Orang-orang Kristen dan teolog seperti ini tidak pernah memperkarakan hidupnya secara langsung dengan Allah. Mereka tidak bertemu dengan Allah secara riil. Mereka hanya bertemu dengan Allah di dalam pikiran mereka, yaitu dengan Allah fantasi mereka. Mereka memiliki produk-produk teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah. Betapa rusaknya gereja dilayani orang-orang seperti ini!

Kalau kita mengakui bahwa kita diciptakan oleh satu Pribadi Pencipta yang memiliki pikiran dan perasaan, seharusnya kita hidup hanya melakukan kehendak dan rencana-Nya. Adalah Allah yang miskin jika Dia hanya menargetkan ciptaan-Nya untuk melakukan hukum yang disusun-Nya. Pencipta yang benar menghendaki makhluk ciptaan-Nya hidup hanya untuk melakukan kehendak-Nya secara penuh dan mutlak. Pencipta yang benar pantas berdaulat penuh atas ciptaan-Nya dalam segala hal. Bisa dimengerti kalau Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.Kita harus memilihsatusaja. Satu-satunya Tuan yang kepada-Nya kita mengabdi adalah Allah yang Esa.

Banyak orang Kristen yang kehidupan rohaninya lumpuh, sebab mereka merasa sudah mengenal dan memiliki Allah dalam hidupnya, padahal Alah yang dimiliki adalah Allah dalam fantasi. Mereka sesungguhnya tidak berurusan dengan Allah. Mereka hanya berurusan dengan Allah di dalam pikiran mereka sendiri. Secara de facto, mereka sebenarnya tidak ber-Allah. Tidak heran kalau kelakuan sebagian orang-orang Kristen di atas itu seperti orang yang tidak mengenal Allah. Mereka merasa sudah mengenal Allah, padahal mereka tidak percaya kepada-Nya. Bagaimana mereka bisa percaya kalau hanya merasa mengenal? Orang bisa merasa mengenal Presiden Donald Trump, tetapi tidak ada hubungan dengan dia.

Terkait dengan hal ini Yakobus menulis,“Engkaupercaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yak. 2:19). Dalam tulisannya ini, Yakobus mengajar kita agar kita melakukan kehendak Allah. Orang yang percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup harus melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Jika tidak, berarti ia memberontak seperti Lusifer telah memberontak atau seperti roh-roh jahat yang tidak hidup dalam kedaulatan Allah. Banyak orang Kristen seperti berperilaku seperti yang tersebut di atas; orang-orang Kristen dan teolog yang cakap berbicara mengenai Allah dengan segala produk teologinya, tetapi tidak menampilkan kehidupan seperti Yesus sesuai yang diajarkan Injil.