Berjalan Bersama Bapa
15 February 2020

Setiap saat Allah sebagai Bapa mendidik kita. Tidak ada satu detik pun Allah tidak hadir dalam hidup kita. Ini berarti, sejatinya, pengalaman hidup kita adalah fragmen yang sangat luar biasa. Kalau seandainya bisa ditulis, nilainya lebih dari biografi tokoh hebat mana pun yang tidak berjalan dengan Allah. Sayangnya, banyak orang Kristen yang tidak menyadari anugerah yang begitu besar yang Allah karuniakan. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa Dia menyertai kita sampai akhir zaman, itu berarti kehidupan kita menjadi bernilai sebab kita berjalan bersama Allah yang hidup, melalui dan di dalam Roh-Nya. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung karena darah Yesus telah memperdamaikan kita dengan Allah, dan membenarkan kita di hadapan Allah Bapa, sehingga kita bisa menjadi anak-anak-Nya. Dengan menjadi anak-anak Allah, kita menerima didikan-Nya.

Karena tidak menyadari anugerah yang besar ini, banyak orang yang hidup secara sembarangan, sehingga fragmen hidup yang mestinya terangkai dalam kehidupan, tidak terangkai sesuai kehendak-Nya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang kaya agar terhormat, bisa berelasi dengan para pejabat tinggi atau orang-orang penting dunia, serta orang-orang kaya lainnya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang terkenal sehingga dipuja, dikagumi oleh banyak orang, dan bisa bersentuhan dengan orang-orang terkenal lainnya. Banyak orang lebih tertarik bersentuhan dengan orang-orang yang dinilai memiliki kelebihan di mata manusia. Tetapi mereka semua tidak tertarik bersentuhan dengan Allah yang Mahamulia, dan tidak berkerinduan berjalan bersama-Nya. Tentu saja mereka tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Allah.

Di lingkungan gereja, tidak sedikit pengerja atau majelis gereja yang merasa lebih terhormat menjadi pemimpin di lingkungan orang-orang Kristen dan bersentuhan dengan pendeta daripada bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama-Nya. Tidak sedikit pendeta yang lebih tertarik pada jabatan sebagai pemimpin jemaat, pemimpin wilayah, bahkan kalau bisa menjadi ketua sinode. Dengan jabatan tersebut, seorang pendeta dapat bersentuhan dengan orang-orang kaya, pemimpin-pemimpin gereja lain, dan dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Mereka kurang tertarik bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama Dia dibanding dengan hal-hal di atas. Tentu saja hal ini tidak mudah diakui, tetapi kenyataannya demikian. Kita harus memiliki perasaan takut akan Allah dan pengadilan-Nya, karena keadaan kita yang sebenarnya akan dibuka di depan semua orang.

Orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, tidak akan mengalami proses pembentukan untuk menjadi anak-anak Allah yang menyukakan hati-Nya. Pada dasarnya, orang-orang seperti ini tidak mengenal kebenaran. Kalaupun mereka memiliki pengetahuan teologi, pastilah bukan kebenaran yang murni yang sesuai dengan Alkitab. Bisa saja orang mengelak, tetapi buah kehidupannya atau kualitas hidupnya jelas menunjukkan kualitas pengajarannya. Sebab, kebenaran yang murni pasti mendesak seseorang untuk berperilaku dalam standar kesucian Allah. Pada dasarnya, orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia adalah orang yang tidak mengasihi Allah sehingga tidak menghormati Allah secara patut. Orang-orang seperti ini tidak mendapat bagian berkat kekal, yaitu pembentukan Allah seperti yang termuat dalam Roma 8:28.

Bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, menghasilkan kehidupan yang semakin diubahkan menjadi anak kesukaan Allah, sebab kebersamaan dengan Allah adalah pengalaman penggarapan Allah atas hidup kita. Ini pengalaman yang lebih dari mengalami Allah karena mukjizat-mukjizat, kejadian-kejadian spektakuler seperti mengalami kesembuhan, ekonomi yang dipulihkan, menerima kenaikan jabatan, dan lain sebagainya. Hendaknya, bukan melalui hal-hal tersebut, seakan-akan kita baru dapat “merasakan” kehadiran Allah. Memang bagi orang Kristen yang baru, pengalaman mereka dengan Allah seputar hal-hal tersebut yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi setelah kita menjadi dewasa rohani, pengalaman berjalan dengan Allah haruslah seputar perubahan karakter menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Ketika kita mulai dipandang dewasa oleh Allah, Ia mengizinkan kita mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh, kejatuhan ekonomi yang tidak kunjung pulih, tertekan di tempat kerja, direndahkan, difitnah, diperlakukan tidak adil, dirugikan, disakiti, dan lain sebagainya. Ternyata, melalui semua itu Allah mau mengangkat kita untuk mencapai tingkat yang Allah kehendaki, yaitu iman yang makin sempurna yang sama dengan ketaatan seperti yang dimiliki Yesus. Melalui semua kejadian, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, kita bisa mencium aroma keharuman kehadiran Allah yang bernilai jauh lebih tinggi.