Berinteraksi Dengan Tuhan
28 September 2017

Kalau seseorang berinteraksi secara benar dengan Tuhan Yesus, maka salah satu cirinya adalah sikap hormat dan ketertundukannya kepada Pribadi Agung ini nyata sekali dalam hidupnya. Memang seharusnya demikian, seorang yang mengalami Tuhan Yesus, lebih menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Ia akan menyadari bahwa dirinya seorang berdosa, yang jika tidak ditebus oleh darah Yesus pasti terbuang ke dalam api kekal. Kalau sekarang memiliki kesempatan untuk terhindar dari api kekal, dan berpotensi untuk menjadi manusia yang dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan, maka fokus hidup kita hanya ditujukan kepada hal ini. Semua kegiatan dan segala sesuatu yang kita miliki benar-benar hanya menjadi sarana untuk mewujudkan proyek bagaimana terhindar dari api kekal dan diperkenan masuk ke dalam keluarga Kerajaan.

Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah perubahan dari manusia yang berkodrat manusia (berkodrat dosa) menjadi manusia yang berkodrat Ilahi, sehingga disebut sebagai man of God. Hal ini harus menjadi satu-satunya isi, makna, dan tujuan hidup ini. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai mendahulukan Kerajaan Surga. Kita dapat membayangkan betapa mengerikan keadaan terbuang dari hadirat Allah. Betapa mengerikan bersama dengan kuasa kegelapan dan orang-orang jahat di dalam api kekal. Tuhan Yesus membuka pintu neraka di mana kita bisa keluar dari sana dan menuju pintu surga untuk masuk ke dalamnya. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan menempuh jarak, tetapi perjalanan kita meninggalkan keadaan terpisah dari Allah untuk masuk Kerajaan-Nya adalah perubahan manusia batiniah.

Harus diingat bahwa semua pesta akan berakhir. Pesta di sini artinya kesenangan dan kebahagiaan hidup, seperti kebersamaan dengan keluarga, handai taulan, teman, menikmati barang-barang yang ada di bumi ini, menyaksikan pemandangan indah, makan minum, seks, dan lain sebagainya. Segala sesuatu yang ada di bumi dan segala sesuatu yang kita miliki harus kita lepaskan. Kalau seseorang tidak mulai sekarang melepaskannya, maka keadaan menjadi tragis kalau ia dipaksa untuk melepaskannya pada waktunya. Sebab mereka yang terikat kepada dunia ini berarti tidak menyembah kepada Tuhan secara benar. Mereka adalah orang yang tidak layak untuk Kerajaan Surga.

Seharusnya filosofinya bukan “mumpung” masih ada kesempatan maka dinikmati semaksimal mungkin, tetapi harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya dengan berusaha untuk menjadi warga keluarga Kerajaan yang modelnya adalah Yesus. Paulus menyinggung hal ini dalam suratnya: Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. (1Kor. 15:32-33).

Teks asli 1 Korintus 15:32 adalah: me planaste phtheirousin ethe khrista hopiliai kakai (μὴ πλανᾶσθε• φθείρουσιν ἤθη χρηστὰ ὁμιλίαι κακαί). Pergaulan atau lingkungan yang buruk dapat merusak etika yang seharusnya tepat standar yang harus dimiliki anak-anak Allah. Dunia telah membuat merosot etika pribadi anak-anak Allah. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang tidak dikenal oleh Allah. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, sama sekali bukan karena jasa manusia. Terbukanya pintu neraka, yang membuat seseorang bisa keluar, dan terbukanya pintu surga di mana seseorang masuk adalah anugerah. Tetapi semua itu harus diterima dengan iman. Iman bukan hanya pikiran yang setuju, tetapi tindakan.