Berani Menghadapi Kematian
23 March 2019

Orang percaya harus memahami dan menerima bahwa dunia tidak lagi dapat memberi kebahagiaan yang dibutuhkan oleh manusia. Kebahagiaan dari dunia menggiring manusia kepada kebinasaan. Tuhan dan Kerajaan-Nyalah yang menjadi kebahagiaan satu-satunya. Dengan demikian kerinduannya adalah langit baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kehidupan yang ideal yang disediakan Allah bagi ciptaan-Nya. Orang percaya yang dewasa rohani sudah pasti berani dalam sukacita menghadapi kematian, karena ia belajar terus dengan sungguh-sungguh bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar.

Harus diingat bahwa setiap kita pasti mati, hari ini atau esok lusa. Kita harus memastikan bahwa kita aman dan diterima di Rumah Bapa; jika tidak, maka kita harus bertobat dan berdamai dengan Allah, serta terus menerus membenahi diri agar menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya. Kita harus mengubah pola hidup dari anak dunia menjadi anak Allah yang mengikuti jejak Yesus. Selama Tuhan masih memberi kesempatan untuk membenahi diri untuk layak menjadi anggota keluarga Kerajaan, maka kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Kita tidak boleh menunda satu hari pun untuk membenahi diri, karena kita tidak tahu kapan saatnya kita masing-masing menerima panggilan. Jika hari ini Tuhan memberi peringatan dan teguran-Nya, kita harus merelakan diri bertobat dan berubah.

Banyak orang Kristen yang sebenarnya sesat, tetapi mereka tidak menyadarinya sama sekali. Mereka merasa dan percaya bahwa kedatangan Yesus yang mati di kayu salib otomatis menyelesaikan masalah dosa, sehingga mereka semua merasa sudah selamat. Padahal setiap orang percaya harus memberi diri untuk diubahkan terus menerus demi mencapai kehidupan rohani yang sesuai dengan standar kesucian Allah. Semuanya ini adalah sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya di langit baru dan bumi baru nanti. Faktanya, banyak orang berpikir seakan-akan kesempatan memiliki hidup hanya satu kali di bumi ini. Selain kehidupan di bumi ini, mereka berpikir tidak ada kehidupan lagi. Padahal justru kehidupan yang Tuhan persiapkan adalah kehidupan di belakang kubur kita.

Sangat menyedihkan dan malang, kalau ternyata banyak orang Kristen yang tidak memikirkan masa depannya di dunia yang akan datang. Mereka tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan ditegakkan. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini. Melalui para pembicara Kristen yang tidak mengenal kebenaran, kuasa kegelapan berusaha menyuntikkan ajaran yang tidak sesuai dengan Injil. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya untuk memanfaatkan Tuhan agar dapat meraih dunia bagi kesenangan daging mereka.

Bagi orang percaya, berurusan dengan Tuhan dengan maksud agar dikembalikan ke rancangan semula, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dengan cara demikian seseorang dipersiapkan untuk dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Anggota keluarga Kerajaan Surga adalah orang-orang yang bukan saja baik secara moral umum, tetapi juga memiliki kesucian yang sempurna seperti Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah sebabnya ukuran kebenaran atau kesalehan kita bukan saja baik secara moral umum, tidak melanggar hukum yang dikenal manusia pada umumnya, tetapi kehidupan yang tidak bercela menyangkut semua yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan.

Hidup di bumi sesungguhnya hanya untuk persiapan masuk ke dalam Rumah Bapa. Persiapan tersebut adalah memiliki batiniah yang baik, yaitu mengenakan kodrat Ilahi. Sebab hanya orang yang mengenakan kodrat Ilahi yang diperkenan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Surga. Oleh sebab itu segala kepentingan harus disingkirkan demi untuk menggumuli pertumbuhan atau penyempurnaan sikap hati atau nurani agar menjadi memiliki nurani Ilahi. Dalam hal ini, jika seseorang berurusan dengan Roh Kudus, seharusnya yang menjadi pokok persoalan adalah bagaimana memiliki batin atau nurani yang benar seperti nurani yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri. Harus diwaspadai adalah ketika seseorang berurusan dengan Roh Kudus hanya karena mau mengalami karunia-karunia Roh yang mistis dan spektakuler atau mukjizat-mukjizat-Nya, maka terjadi penyimpangan yang membahayakan. Ajaran seperti itu kelihatannya benar, tetapi sebenarnya meleset.