Berani Hidup Tidak Wajar
26 March 2020

Tidak bisa dibantah, bahwa kehidupan sebagai anak-anak Allah adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia. Kehidupan yang tidak memiliki kesenangan selain menyukakan hati Allah Bapa. Kesenangan-kesenangan hidup ini menjadi seperti wilayah dalam kerajaannya yang tidak akan diserahkan kepada pihak mana pun. Melepaskan suatu kesenangan seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan. Hal inilah yang membuat seseorang menahan diri untuk mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan secara benar. Dalam hal ini, seseorang bisa membuktikan kecintaannya kepada Tuhan, yaitu ketika ia bersedia melepaskan segala sesuatu dan menjadikan Tuhan sebagai kesukaan hidupnya. Akhirnya, tidak ada lagi kesenangan yang disisakan, kecuali menyenangkan hati Tuhan tersebut.

Mengikut Yesus harus bersedia hidup seperti Yesus, yaitu tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala, artinya bersedia tidak mencari kenyamanan hidup. Inilah hal tersulit yang dihadapi orang Kristen. Sebab, dengan mengenakan kebenaran ini, ia mulai merasa hidup tidak wajar. Tetapi, sesungguhnya inilah cara menghargai hidup. Pada umumnya, manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya dan mengingini apa yang orang lain miliki sesuai dengan semangat zaman. Kalau hal ini dilakukan orang yang hidup sebelum zaman anugerah atau orang di luar orang percaya, bisa dimaklumi; tetapi kalau orang percaya tidak memedulikannya, betapa celakanya.

Semangat hidup orang percaya adalah semangat dari tempat Mahatinggi, yaitu mengenakan gairah hidup Yesus yang “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang hanya diperuntukkan bagi Allah Bapa, yaitu melakukan segala kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang percaya akan meletakkan kepala di langit baru dan bumi yang baru dalam Kerajaan-Nya nanti, sedangkan di bumi ini bekerja keras untuk roti yang tidak binasa (Yoh. 6:27).

Sebenarnya, ketika seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka kehidupannya—termasuk segala miliknya—disita oleh suatu Kerajaan. Kerajaan itu adalah Kerajaan Allah. Kalau seluruh hidupnya disita, itu berarti di bumi ini ia hanya sebagai orang yang menumpang. Sejak itu, pemerintahan Allah berlaku atau berlangsung dalam hidupnya. Pemerintahan Allah adalah kehidupan yang diatur dan dikendalikan oleh Allah. Ini adalah kehidupan yang diarahkan untuk mewarisi Kerajaan Surga. Kenyamanan hidup duniawi tidak lagi menjadi tujuan. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).

Ternyata, mengikut Yesus harus meninggalkan dunia ini. Pada gereja yang mula-mula, mereka bukan hanya kehilangan segala sesuatu yang mereka harus tinggalkan, bahkan mereka juga teraniaya. Itulah sebabnya, Yesus mengatakan kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Dengan melepaskan segala sesuatu, seseorang barulah memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9).

Dalam hal tersebut, bisa dimengerti kalau Firman Allah mengatakan bahwa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yaitu walaupun Ia adalah pemilik segala sesuatu, tetapi Ia mengosongkan diri. Mengosongkan diri maksudnya adalah melepaskan semua hak-Nya, supaya Ia bisa mempersembahkan semuanya bagi Allah Bapa. Tanpa berbuat demikian, Ia tidak bisa menjadi Mesias yang menyelamatkan semua manusia. Orang percaya harus melepaskan segala sesuatu, barulah memperoleh kemuliaan bersama Tuhan. Sebelum memperoleh itu, orang percaya harus melanjutkan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus di kayu salib agar diberitakan sampai ke ujung bumi.

Oleh sebab itu, orang percaya harus belajar bagaimana tidak lagi terikat dengan percintaan dunia dan keinginan-keinginan dosa di dalam diri kita, supaya bisa belajar untuk memiliki karakter Yesus, juga harus mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, yaitu bagaimana membawa orang lain bisa mengikuti jalan hidup yang telah dimilikinya. Ini adalah proyek mencetak manusia seperti Yesus (Rm. 8:28-29). Bukan sekadar menjadikan orang lain sebagai anggota salah satu gereja. Kehidupan seorang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus harus bersama-sama dengan Tuhan dalam memperjuangkan kehidupan dalam melakukan kehendak Bapa dan memenuhi rencana Bapa. Untuk ini, orang percaya, selain berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan, juga harus mengusahakan agar tidak seorang pun binasa. Tidak binasa artinya bisa diperkenan masuk dunia yang akan datang menjadi mempelai Tuhan Yesus, yaitu orang-orang yang dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan. Inilah inti dari Kekristenan yang orisinal. Pikiran kita tidak boleh menyimpang kepada yang lain.