Belum Dalam Hubungan Yang Harmoni
23 February 2018

Dalam Roma 3:23 tertulis: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kehilangan kemuliaan artinya manusia tidak lagi memiliki keberadaan seperti rancangan semula. Rancangan semula adalah manusia dapat bermoral seperti Allah, segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan serta dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan manusia ini adalah keadaan “mengingkari Perjanjian dengan Allah”. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Rm. 3:4). Pembohong di sini artinya tidak setia atau mengingkari perjanjian (pseustes, ψεύστης). Semua manusia diperhitungkan tidak setia karena kejatuhan Adam. Roma 5:19 mengatakan: Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa.

Keberadaan semua manusia yang tidak seperti rancangan semula, tidak dalam perkenanan Allah, adalah keadaan yang mengecewakan Allah dan manusia pantas ditolak-Nya. Allah dalam kedaulatan-Nya, menghendaki manusia seperti yang dirancang-Nya. Kehendak dan rencana Allah tidak boleh dikurangi, apalagi diubah. Keadaan manusia yang berdosa adalah keadaan yang tidak bisa ditolerir sama sekali oleh Allah. Allah tidak merancang manusia “kualitas kedua”. Allah menghendaki dan merancang kualitas manusia “kualitas pertama”, yaitu segambar dan serupa dengan Diri-Nya. Allah tidak pernah berniat mengubah rancangan-Nya ini, sebab Allah tidak pernah gagal.

Roma 3:24, tertulis: dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kalimat “dibenarkan dengan cuma-cuma” dalam ayat ini tidak bermaksud bahwa manusia walaupun berkeadaan tidak sesuai dengan yang dikehendaki dan direncanakan oleh Allah, dipandang sudah sesuai dengan yang dikehendaki dan direncanakan oleh Allah. Dalam hal ini seakan-akan korban Kristus dapat mengubah seperti menyulap manusia berkeadaan benar dan berkenan kepada Allah. Ini pandangan yang salah. Dibenarkan dengan cuma-cuma artinya tanpa perbuatan baik yang dilakukan manusia, Allah menerima kembali keberadaan manusia tersebut. Tetapi bukan menganggap bahwa manusia sudah bisa memenuhi kehendak dan rencana-Nya. Biasanya penganut hyper grace memahami bahwa penyelamatan membuat manusia sudah dibenarkan walau berkeadaan bagaimanapun dan tidak perlu melakukan perjuangan apa pun. Bisa dimengerti kalau mereka tidak melakukan perjuangan untuk berkeadaan benar-benar menjadi benar di mata Allah. Mereka tidak berjuang secara memadai untuk menjadi seperti Yesus.

Oleh korban Kristus, manusia sudah ditebus. Harus diperhatikan, bahwa manusia hanya ditebus, bukan secara otomatis diakui sudah benar. Harus dicamkan bahwa “dibenarkan” dengan “berkeadaan benar” sangatlah berbeda. Dibenarkan dalam konteks hubungan antara Allah dengan manusia dapat disambung, tetapi bukan berarti manusia sudah dianggap benar dan Allah sudah puas dengan kondisi manusia yang ditebus tersebut. Penebusan Kristus mengubah relasi antara manusia dan Allah, bukan keadaan manusianya. Keberkenanan Allah berurusan dengan manusia yang percaya dengan menaruh Roh-Nya di dalam diri manusia, disebabkan darah Tuhan Yesus menudungi manusia; menghapus semua pelanggaran manusia, artinya semua dosa yang dilakukan manusia dipikul Tuhan Yesus di kayu salib. Untuk ini perlu kita perhatikan ayat 25.

Roma 3:25, tertulis: Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Kalimat yang sangat penting dalam ayat ini adalah “menjadi jalan pendamaian”. Yang diubah adalah relasinya, yaitu relasi Allah dan manusia, bukan keadaan manusia. Allah dalam kesucian-Nya memandang darah Yesus yang telah tertumpah di Golgota menudungi manusia. Sehingga Allah menerima kembali manusia yang berkeadaan belum seperti yang dikehendaki dan direncanakan-Nya. Hubungan manusia dapat disambung, tetapi bukan berarti hubungannya secara otomatis sudah harmonis. Di sini dibutuhkan perubahan terus menerus dalam hidup orang percaya untuk memiliki kesucian atau keagungan moral seperti Tuhan agar dapat mengimbangi kesucian dan keagungan moral-Nya. Sehingga dapat membangun hubungan yang harmoni dengan Allah.

Penebusan oleh Tuhan Yesus memberi jalan pendamaian. Jalan pendamaian ini seperti dalam Perjanjian Lama, ketika Allah murka atas kesalahan bangsa Israel dan seharusnya bangsa itu dihukum, tetapi ada darah domba yang dikorbankan sebagai jalan pendamaian. Jalan pendamaian bukan berarti membuat bangsa Israel jadi baik. Setelah itu, bangsa Israel harus belajar untuk berubah, yaitu hidup menurut ketetapan Allah, menyembah Yahweh dan menaati Taurat. Bagi umat Perjanjiian Baru pembenaran oleh penebusan Tuhan Yesus bukan berarti semua sudah selesai. Relasinya (antara Allah dan manusia dapat disambung) dapat dianggap selesai, karena korban Yesus menjadi jalan pendamaian, tetapi keberadaan manusia belum selesai. Manusia yang percaya harus memenuhi panggilan untuk menjadi murid Tuhan Yesus. Ini berarti sebuah proses belajar untuk berubah.