Bekal Untuk Kekekalan
25 January 2019

Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan menerima fakta bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa manusia, maka berarti sudah memiliki bekal yang cukup untuk masuk surga. Orang-orang Kristen seperti ini salah memahami pengertian percaya dan tidak mengerti pengertian keselamatan. Percaya bukan hanya aktivitas pikiran. Bukan sekadar persetujuan terhadap suatu fakta atau sebuah pengaminan akali. Percaya adalah tindakan terhadap apa yang diyakini, diakui, dan diterima sebagai suatu kebenaran. Seseorang tidak dapat dikatakan sudah percaya kalau hanya memiliki keyakinan dan penerimaan dalam pikiran. Seseorang dikatakan percaya atau memiliki iman kalau secara konkret mewujudkannya dalam tindakan apa yang diyakini dan diterima tersebut. Gambaran yang jelas mengenai percaya ini dapat dilihat dalam kehidupan Abraham. Ia disebut sebagai “bapa orang percaya”, karena memiliki tindakan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh.

Kasihan sekali dan benar-benar malang, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman atau percaya kepada Tuhan Yesus dan merasa sudah selamat, padahal mereka hanya memiliki iman atau percaya semu. Iman mereka adalah iman fantasi yang tidak menyelamatkan. Orang-orang Kristen seperti ini pasti memahami anugerah secara dangkal dan murahan. Biasanya mereka akan berkata bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik, sehingga mereka tidak pernah memiliki perjuangan yang memadai untuk memahami keselamatan, mengalami dan memilikinya. Memang keselamatan seseorang terjadi bukan karena perbuatan baik, tetapi karena korban Tuhan Yesus di kayu salib. Tetapi memercayai karya Yesus di kayu salib adalah tindakan, bukan sekadar sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Untuk mewujudkan percayanya inilah seseorang harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13).

Kalau seorang Kristen salah dalam memahami pengertian percaya, maka pengertian keselamatannya pun juga pasti salah. Keselamatan bukan hanya berbicara mengenai terhindarnya seseorang dari api neraka, tetapi keberadaan seseorang yang diubahkan. Perubahan itu harus nyata terjadi atau berlangsung sejak di bumi ini. Justru keselamatan yang sejati dimiliki oleh seseorang nampak dari perilaku hidupnya setiap hari. Perilaku tersebut bukan hanya berstandar baik di mata manusia lain, tetapi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus berarti selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Bukan hanya melakukan hukum-hukum yang tertulis, tetapi mewujudkan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Inilah yang disebut sebagai percaya atau beriman itu.

Mewujudkan iman atau percaya dalam tindakan adalah sesuatu yang mutlak. Jika seseorang menolak untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk dilakukan, berarti ia tidak percaya atau tidak beriman kepada Tuhan. Ini juga berarti menolak atau menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan sediakan dan ditawarkan kepada seseorang. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa orang percaya dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1Tes. 4:7). Di bagian lain dalam Alkitab, Tuhan menghendaki agar orang percaya kudus seperti Dia (1Ptr. 1:16). Firman Tuhan ini sebenarnya merupakan panggilan untuk percaya. Jadi, kalau tidak memenuhi apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan -yaitu hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau hidup kudus- hal itu sama dengan tidak percaya kepada Tuhan.

Dengan demikian dapat diperoleh kebenaran bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, itu berarti tidak ada perwujudan hidup dalam kekudusan di luar keberimanan kepada Yesus. Oleh sebab itu, memahami keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, tidak hanya memperhatikan subyeknya -yaitu Tuhan Yesus yang memikul salib- tetapi juga obyeknya, yaitu manusia yang diselamatkan. Diselamatkan di sini artinya dibuat untuk bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau memiliki kekudusan seperti Tuhan sendiri. Seorang Kristen yang adalah obyek dari keselamatan tidak bisa tidak harus berkeadaan seperti Tuhan Yesus yang menyelamatkan. Jadi, kalau seorang Kristen tidak memiliki keserupaan dengan Yesus, berarti ia belum mengalami dan memiliki keselamatan itu.

Dengan mencermati kebenaran di atas, hendaknya orang Kristen tidak merasa sudah selamat, diperkenan masuk surga hanya karena berbekal keyakinan di dalam pikiran terhadap fakta karya salib Yesus yang menyelamatkan. Orang percaya harus berbekal kehidupan yang diubahkan setiap hari, dari seorang yang berkodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat Ilahi. Sebab hanya orang-orang yang serupa dengan Yesus atau berkodrat Ilahi, dimana Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara, yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia. Dengan demikian, perjalanan hidup orang beriman adalah petualangan hebat kehidupan yang selalu memburu pengenalan akan Allah, kehendak, dan rencana-Nya untuk diwujudkan. Inilah prinsip kehidupan Anak Tunggal Bapa yang juga menjadi prinsip hidup orang percaya: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan perkerjaan-Nya.