Aspek Hubungan Dengan Allah
27 October 2017

Jenis iman yang berikut adalah iman dalam arti persetujuan pikiran, yaitu menerima sesuatu sebagai suatu kebenaran atau kebaikan. Hal ini bisa juga dikatakan sebagai pengaminan akali. Banyak orang yang memiliki keyakinan agama sejak kecil karena pengaruh keluarga dan lingkungannya. Mereka belum memahami bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dipercayainya tersebut. Hal ini terjadi pula dalam lingkungan komunitas Kristen. Oleh karena orang tua dan lingkungan mengatakan demikian, maka ia mengikut saja. Iman seperti ini belumlah iman yang menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, kalau seseorang mengaku beriman, tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yak. 2:17-18). Banyak orang Kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Mereka merasa telah memiliki iman, tetapi tidak mengenal apa dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang palsu.

Persetujuan pikiran memang merupakan langkah awal seseorang belajar mengenal Tuhan yang benar. Tanpa persetujuan pikiran, seseorang tidak dapat melangkah untuk belajar mengenal Tuhan. Tetapi kalau tidak ada tindakan nyata untuk belajar Firman Kristus, maka tidak pernah ada iman yang benar dalam hidup seseorang. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang puas hanya sampai di persetujuan pikiran ini dan tidak ada usaha untuk terus bertumbuh secara benar. Ini terjadi atas orang Kristen “KTP”. Adapun jenis iman yang paling unggul sesungguhnya adalah iman yang menyelamatkan. Iman jenis ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman ini lebih berkualitas dibanding iman jenis sebelumnya. Iman di sini bukan sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Inilah iman yang menyelamatkan itu.

Dalam memahami kata iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek keyakinan terhadap kuasa Allah dan kepercayaan secara pikiran atau persetujuan pikiran yang disebut pula sebagai keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Umat sebagai subyek yang percaya dan Allah sebagai objek kepercayaannya. Jadi, iman sangat bertalian dengan kualitas hubungan antara umat yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap. Beriman atau percaya kepada Tuhan juga bukan hanya mengakui status-Nya bahwa Dia Pencipta alam semesta, Allah yang layak dipuji dan disembah dan lain sebagainya. Tetapi juga penyerahan total kepada kehendak-Nya. Penyerahan kepada kehendak-Nya ini akan terekspresi dalam tindakan nyata. Inilah pilar utama iman yang sejati.

Orang yang memahami kebenaran di atas ini, tidak akan berdoa untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ia tidak akan mudah mengklaim kuasa Allah untuk mengalami atau memperoleh mukjizat. Ia memiliki sikap hormat kepada Allah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi atau pemegang kedaulatan satu-satunya, di mana orang percaya harus menundukkan diri sepenuhnya. Hubungan dengan Tuhan tidak akan terbangun harmonis, jika orang percaya merasa memiliki hak untuk mengklaim kuasa Tuhan agar terjadi mukjizat. Orang-orang Kristen yang merasa berhak mengklaim kuasa Allah tanpa mengerti kehendak-Nya dengan tepat adalah orang-orang yang belum dewasa rohani.

Beriman kepada Tuhan Yesus berarti menuruti kehendak-Nya. Iman merupakan penyerahan diri sepenuh kepada seluruh kehendak Tuhan secara mutlak. Oleh sebab itu seseorang tidak akan dapat meningkatkan kualitas imannya kepada Tuhan kecuali bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, yaitu mengenal hakikat-Nya, hikmat-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan rencana-Nya. Sehingga memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah guna dilakukan. Jadi, pertumbuhan yang harus berlangsung atau terjadi dalam kehidupan kita bukanlah pertumbuhan pengenalan akan kuasa-Nya yang bisa melahirkan mukjizat, melainkan pengenalan akan Pribadi Tuhan.