Aniaya Orang Percaya
24 February 2017

Berkenaan dengan aniaya terhadap orang percaya, kita dapatkan dua jenis aniaya. Dari Alkitab kita dapatkan kebenaran bahwa aniaya adalah bagian hidup orang percaya yang tidak terpisahkan. Aniaya, dalam Alkitab bahasa Indonesia menggunakan kata siksaan. Pokok bahasan mengenai aniaya atau sengsara juga populer dengan istilah dalam bahasa Inggris tribulation, dari bahasa Latin tribulum atau tribulatio; dan yang di-Indonesiakan menjadi tribulasi. Kata malapetaka ini dalam bahasa Yunani adalah thlipsis. Dalam Alkitab bahasa Indonesia kata itu diterjemahkan “siksaan” (Mat. 24:29; Mrk. 13:19), atau kadang-kadang juga diterjemahkan “malapetaka”.

Berbicara mengenai aniaya atau sengsara, maka kita harus dapat membedakan aniaya dalam beberapa kategori, yaitu:
Aniaya Umum, artinya aniaya yang dialami setiap orang percaya karena iman kepada Tuhan Yesus. Ini bisa aniaya fisik dan aniaya secara psikis.

Aniaya Khusus, adalah aniaya berat yang disebabkan oleh serangan antikris utama. Antikris utama artinya kekuatan yang memiliki ketahanan panjang sampai dunia berakhir, yang paling menolak Yesus sebagai Pengantara manusia. Orang percaya memang mengalami aniaya di banyak belahan dunia ini oleh berbagai pihak. Hal tersebut masih tergolong aniaya umum. Tetapi aniaya yang disebabkan oleh antikris utama adalah aniaya yang sungguh-sungguh hebat, usaha untuk menghapus Kekristenan dan merusak secara global. Untuk ini ada usaha untuk memburu wilayah-wilayah Kristen untuk diubah menjadi wilayah agamanya (Why. 12:17).

Aniaya psikis atau aniaya secara jiwa dalam Alkitab dapat kita peroleh dari apa yang ditulis oleh Petrus: …tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa (2Ptr. 2:7-8). Aniaya secara psikis terjadi disebabkan oleh pola hidup manusia di sekitar orang percaya yang bertentangan dengan pola hidup anak-anak Tuhan yang murni yang berpegang kepada kebenaran Tuhan. Apa yang dialami Lot adalah aniaya secara psikis. Aniaya ini tidak kalah beratnya dengan aniaya fisik. Kata menderita dalam teks aslinya adalah kataponeo yang diterjemahkan oppress (menindas atau menekan perasaan) dan vex (menjengkelkan atau mengganggu jiwa). Jiwa orang benar akan tersiksa. Kata tersiksa di sini dalam teks aslinya adalah ebazanizen; dari akar kata bazanizo yang artinya pain (rasa sakit, kepedihan hati) dan toil (bekerja dan bergerak dengan susah payah). Orang benar di tengah-tengah orang tidak benar pasti dihambat dan menghadapi tekanan secara psikis.

Aniaya fisik memang menakutkan, tetapi di balik aniaya fisik terhadap berkat yaitu seseorang berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1). Aniaya ini dapat membuat orang murtad, yaitu meninggalkan hidup dalam kebenaran. Tekanan pengaruh gaya hidup manusia di sekitar kita adalah tekanan yang tidak boleh dianggap remeh. Dunia mengintimidasi orang percaya untuk mengikuti jalannya. Untuk bertahan dalam kebenaran di tengah-tengah dunia dengan pengaruhnya yang begitu kuat, bukanlah sesuatu yang mudah. Inilah pergumulan hidup manusia di akhir zaman. Manusia di akhir zaman hidup di luar kebenaran Tuhan. Yang dipentingkan adalah makan minum kawin dikawinkan (Luk. 17:27-30). Dengan suasana dunia seperti ini apakah kita tetap pada kebenaran Tuhan?

Tidak asing bagi kita yang hidup dalam kebenaran bahwa di akhir zaman ini akan terjadi keguguran yang besar. Dalam Matius 24:12 dinyatakan oleh Tuhan Yesus bahwa kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Lebih banyak yang dingin daripada yang panas. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini sinkron dengan apa yang dikatakan oleh Daniel dan Paulus dalam Daniel 12:10 dan 2 Timotius 3:1-5. Apakah kita sungguh-sungguh mewaspadai keadaan ini dan berantisipasi?

Sangatlah berbahaya bagi anak Tuhan yang tidak mengerti kebenaran ini atau yang tidak mau menerima kebenaran ini, bahwa kejatuhan adalah suatu realita dan bahwa dunia akhir zaman ini sangat rawan bagi iman Kristen. Kalau kita tidak berdiri teguh dan berjaga-jaga, kita akan jatuh terseret dalam dosa dunia, dan akhirnya gugur. Tetapi kalau kita berjaga-jaga dan berdoa, sadar akan kenyataan tentang keguguran dan dunia akhir zaman yang jahat ini, maka kita akan sanggup bertahan sampai akhir.