Allah Yang Memiliki Tatanan
24 May 2020

Play Audio Version

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa Allah “diskriminatif,” Allah mengasihi orang yang Dia kasihi dan membenci siapa yang Allah mau benci. Kemudian juga berpikir bahwa hal itu merupakan rahasia Allah. Jika Allah digambarkan sebagai Pribadi yang secara sepihak menentukan orang untuk dikasihi dan dibenci-Nya, yang sama dengan menentukan masuk surga atau masuk neraka, betapa mengerikan sosok Pribadi Allah yang seperti ini. Hidup di semesta dengan “Penguasa” berkarakter demikian, serba tidak tentu, tidak ada kepastian, dan sungguh sangat mengerikan. Allah yang digambarkan demikian adalah “pribadi yang jiwanya sakit”. Manusia pun tidak akan memiliki implikasi yang jelas bagaimana mengisi hari hidup ini berhadapan dengan “pribadi allah” model itu.

Dalam 1 Petrus 1:17, tertulis bahwa Allah menghakimi orang berdasarkan perbuatan tanpa memandang muka. Ini berarti Allah memiliki tatanan dalam mengasihi atau membenci. Berbicara mengenai Allah yang membenci Esau dan mengasihi Yakub, sebenarnya konteksnya bukan masalah individu, tetapi pemilihan suatu bangsa. Lagipula, Allah membenci Esau karena Esau tidak menghormati orangtua. Hal ini dikatakan Allah ketika bangsa Israel tidak menghormati Allah (Mal. 1). Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas, keturunan Esau—yaitu bangsa Edom—tidak menjadi bangsa yang diberkati oleh Allah. Dengan demikian, sangatlah keliru kalau pemilihan Yakub sebagai ahli waris, dan penolakan Allah atas Esau disejajarkan atau menjadi tipologi dari pemilihan keselamatan atas individu. Allah bukanlah Allah yang kejam yang menyukai penderitaan manusia, melainkan manusia sendirilah yang telah memilih jalannya sesuai dengan kehendak bebas yang dimilikinya. Manusialah yang mengambil keputusan untuk memberontak dan sebagai akibatnya, manusia itu harus menerima dan memikul hasil dari keputusannya.

Jika respons seseorang terhadap karya salib salah—seperti bangsa Israel yang tewas di padang gurun—maka banyak orang Kristen yang juga akan tewas dalam perjalanan hidupnya sehingga tidak akan sampai di Rumah Bapa. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa untuk diselamatkan harus ada perjuangan untuk masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24). Jadi, bukan tanpa alasan kalau suatu hari Tuhan menolak orang-orang tertentu sehingga masuk neraka, karena memang mereka tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Kebenaran ini membangun logika yang sehat, waras, adil, jujur, cerdas, dan memiliki implikasi yang jelas bagi umat pilihan, bagaimana harus mengisi hari hidupnya.

Di dalam Roma 9:1-3 Paulus mengungkapkan isi hatinya: “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Pernyataan Paulus ini memperingatkan kita bahwa kebinasaan bangsa Israel disebabkan karena kehendak mereka sendiri yang menolak Mesias. Hal ini tentu bukan karena penentuan dari Allah secara sepihak. Bukan karena Allah yang membuat mereka tidak bisa menerima anugerah. Kalau keselamatan atau kebinasaan saudara-saudara sebangsanya ditentukan oleh Allah secara sepihak, pernyataan Paulus bahwa ia rela menggantikan saudara sebangsanya atau rela terkutuk itu merupakan sikap melawan Allah. Ini juga sama artinya bahwa Paulus bersikap tidak menghormati Allah.

Tidak terbantahkan fakta dalam Alkitab, bahwa setiap tindakan Allah selalu diimbangi oleh respons manusia. Allah selalu menghendaki agar manusia merespons tindakan-Nya. Pengajaran yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia ditentukan oleh perasaan Tuhan yang tidak pernah bisa dimengerti manusia—apakah Tuhan mau mengasihi atau membenci, suka-suka Tuhan—membuat hidup menjadi fatalistik. Hidup menjadi tidak menarik karena tidak ada tantangan. Tidak ada pergumulan dalam arti yang riil, sebab manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan oleh Allah baginya. Dengan demikian, realita hidup manusia adalah susunan cerita yang telah dikarang oleh seorang penyusun skenario. Tuhan dianggap sebagai sutradara yang menentukan alur cerita kehidupan manusia dari awal hingga akhir, dan Allah menjadi penyebab segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab.

Alkitab berulang-ulang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab. Manusia harus bertanggung jawab atas setiap tindakannya, dari ucapan, perilaku yang kelihatan, sampai sikap batinnya yang tidak terlihat. Firman Allah yang mengatakan agar kita mengoreksi diri dengan serius, “kalau-kalau jalan kita serong” adalah petunjuk yang sangat jelas bahwa manusia harus memberi respons terhadap panggilan Allah untuk hidup dalam kebenaran-Nya (Mzm. 139). Jika manusia hanya menerima nasib atau takdir yang telah dipersiapkan dan ditentukan baginya, adilkah ini? Apakah dengan cara yang sama kita diajar menyelenggarakan keadilan seperti itu? Tentu tidak. Manusia adalah gambar Allah, manusia diajar untuk memiliki keadilan seperti keadilan-Nya.