Allah Dalam Kehidupan Riil
07 January 2020

Biasanya orang membangun hubungan dengan Allah secara satu pihak saja, yaitu dirinya percaya dan menggambarkan Allah di dalam pikirannya sesuai dengan pandangan teologinya. Namun, mereka tidak mempersoalkan Allah dalam kehidupan riil terkait dengan pengalaman hidup ini. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana sebenarnya Allah itu dalam pengalaman hidup mereka. Mereka tidak memperkarakan bagaimana sikap Allah terhadap diri mereka dan sikap diri mereka terhadap Allah. Dengan demikian,mereka sebenarnya hanya membangun konsep tentang Allah di dalam pikiran mereka saja. Bagi kelompok Karismatik dan Pentakosta, mereka membuktikan kebenaran Allah yang mereka yakini dan promosikan dengan kesaksian, mukjizat, penglihatan, nubuat, dan berbagai karunia roh lainnya. Padahal semua itu sangat berpotensi sebagai pengalaman palsu. Namun, kelompok lain—biasanya dari kelompok Protestan—membuktikan kebenaran Allah yang diyakini dengan rumusan, kajian, dan doktrin teologi yang dipaparkan dalam ribuan lembar halaman buku.

Bagaimana seharusnya kita bisa menghayati keberadaan Allah? Pengalaman pribadi dengan Allah harus dibangun melalui doa pribadi. Kalau Allah diyakini hidup, Allah pasti bisa dirasakan dan dialami secara riil. Untuk itu, kita harus berani menyediakan diri untuk menjumpai Dia secara khusus dalam ruangan tertutup dan waktu yang cukup. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang tidak membiasakan diri, ia tidak akan bisa bertahan lama duduk diam di kaki Allah. Kalaupun bertahan lama, kebiasaan itu tidak berkualitas sama sekali. Kita harus memiliki “niat” yang tulus dan kuat untuk ini. Kalau ada niat, seberapapun waktu yang harus disediakan tidak akan menjadi masalah. Niat juga akan menghalau kebosanan atau kejenuhan yang bisa timbul pada waktu duduk diam di kaki Allah. Dalam hal ini,ketekunan sungguh-sungguh sangat dibutuhkan. Tanpa ketekunan, seseorang tidak akan menemukan Allah.

Dalam niat menemui Allah, kita juga harus berprinsip bahwa tidak ada yang dapat memuaskan dan membahagiakan kita selain Allah. Kita harus membuang semua kesenangan, hobi atau apapun yang kita pandang sebagai kesenangan. Kalau hal ini kita lakukan, kita akan dapat mengembangkan kelaparan dan kehausan akan Allah dalam diri kita. Firman Allah mengatakan bahwa hanya orang yang lapar dan haus akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6). Dalam kalangan Kristen, terdapat ajaran yang membuat mereka tidak mencari Allah dengan sungguh-sungguh karena adanya sebuah teori yang salah dipahami. Teori pengajaran tersebut adalah bahwa “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu mencari kita.” Dengan prinsip ini, banyak orang Kristen —bahkan para teolog— merasa tidak perlu mencari Allah secara benar. Mereka memandang bahwa mencari Allah dipandang sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebenaran dan dipandang sebagai kesombongan. Padahal, mencari Allah justru merupakan sikap kerendahan hati dari seorang yang merasa sungguh-sungguh membutuhkan Allah.

Kalimat “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu mencari kita” sebenarnya tidak salah, tetapi hal itu harus dipahami dengan benar. Memang Allah yang berinisiatif menyelamatkan kita dengan mengutus Putra-Nya untuk turun dari surga, mengosongkan diri, dan menebus dosa kita di kayu salib. Namun, setelah kita menjadi anak tebusan, kita harus mencari dan menemukan Dia dengan benar atau secara proporsional. Terkait dengan hal ini, Paulus menyatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Konteks tulisan Paulus ini adalah panggilan untuk barter (saling bertukar) agar memiliki Kristus dan usahanya untuk mencapai kesempurnaan (Flp. 3:7-11).

Banyak orang tidak memperkarakan sikap Allah terhadap diri mereka. Mereka tidak memedulikan secara proporsional apa dan bagaimana penilaian Allah atas diri mereka. Menurut mereka, Allah sudah mengasihi mereka, titik. Mereka tidak mempersoalkan apakah mereka mengasihi Allah. Padahal, hanya orang-orang yang mengasihi Allah yang digarap Allah untuk menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 8:28). Selain itu, Firman Allah jelas sekali menyatakan bahwa orang yang tidak mengasihi Allah akan terkutuk (1Kor. 16:22). Seperti bangsa Israel, bukan mereka yang mencari Allah, melainkan Allah yang mencari mereka. Setelah mereka ditemukan Allah, mereka harus mencari Allah, dalam arti, mereka harus berusaha untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya. Demikianlah juga, banyak orang Kristen yang tidak memperkarakan dirinya di hadapan Allah, tidak berusaha mengerti bagaimana penilaian Allah terhadap diri mereka, bagaimana perasaan Allah terhadap diri mereka.