Allah Beserta Kita
10 January 2020

Ada satu pernyataan kristiani yang sangat populer, sering didengar bahkan juga diucapkan. Kalimat itu adalah “Allah beserta kita.”Orang Kristen begitu mudahnya mengucapkan kalimat ini.Namun, kenyataannya sungguh ironis.Tidak sedikit mereka yang tidak mengalami realisasi dari pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut hanya menjadi kalimat klise yang tidak berkuasa. Banyak di antara mereka ragu-ragu,lalu bertanya-tanya dalam hati, “Apakah Allah masih menyertaiku?” Keraguan bahkan ketidakpercayaan itu muncul pada waktu ada masalah, pada waktu sudah berdoa tetapi Allah tidak kunjung memberi jalan keluar. Mereka merasa bahwa Allah tidak bertindak sama sekali baginya. Mereka meragukan apakah Allah masih eksis atau tidak.

Mengapa masih banyak orang Kristen yang tidak menghayati penyertaan kehadiran Allah dalam hidupnya dan meragukan keberadaan-Nya? Ada beberapa penyebab mengapa seseorang kurang percaya bahwa Allah menyertainya dan meragukan keberadaan-Nya. Pertama, karena mereka menuntut Allah menyatakan diri secara fisik dengan tanda-tanda nyata secara lahiriah seperti yang mereka kehendaki. Kalau hal itu terjadi, mereka baru mau percaya. Bila orang-orang seperti ini tidak mengalami pengalaman secara fisik dan bila mungkin mengalami pengalaman secara spektakuler dengan Allah, mereka masih terus meragukan kehadiran atau penyertaan-Nya. Orang-orang seperti ini adalah orang yang memiliki gaya hidup seperti Tomas; baru mau percaya setelah melihat (Yoh. 20:24-29).

Yesus menyatakan bahwa orang yang tidak melihat tetapi percaya adalah orang yang berbahagia. Ini berarti Allah tidak akan menyatakan diri secara visible supaya orang percaya. Dengan pernyataan tersebut, Allah menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak akan memiliki pengalaman seperti Tomas, tetapi percaya. Allah justru menghendaki orang dapat percaya kepada Allah walaupun tidak melihat. Dalam hal ini, orang percaya seharusnya berlatih untuk percaya dengan iman. Ia seharusnya tidak menggunakan indera jasmaninya untuk menangkap kehadiran Allah.

Karena banyak orang menuntut fakta-fakta atau bukti lahiriah baru mau percaya, banyak orang Kristen tanpa sadar menjadi ateis dan dalam dirinya,mereka mengembangkan keyakinan bahwa Allah sudah mati. Kalaupun mereka masih beragama Kristen, mereka termasuk kelompok orang-orang ateis praktis. Secara teori, mereka percaya bahwa Allah ituada, tetapi secara praktik, mereka tidak percaya bahwa Allah itu ada. Tanda-tanda dari orang-orang Kristen seperti ini adalah berkelakuan tidak sesuai dengan Firman Allah dan secara terus-menerus hidup dalam kekhawatiran. Mereka tentuakan bercinta dengan dunia karena kekhawatirannya. Mereka merasa bahwa Allah tidak bisa diharapkan lagi.

Kedua, karena mereka menghendaki Allah menyertai mereka dengan cara yang mereka inginkan. Persoalan-persoalan hidup yang mereka alami diharapkan selesai tuntas seperti skenario yang mereka kehendaki. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen tidak mendapat jawaban doa seperti yang mereka inginkan walaupun mereka sudah berdoa bahkan berpuasa. Dalam hal ini, banyak orang meragukan kebijaksanaan Allah. Hal ini terjadi kepadaorang-orang yang belum dewasa.

Hampir semua orang Kristen, tatkala memulai pengiringannya kepada Allah tidak mengerti bahwa perjalanan mengiring Allah itubisaterasa sukar. Perjalananitu lebih sukar dibandingkan dengan sebelum mereka percaya Yesus. Lebih banyak orang yang berharap dengan menjadi orang Kristen, perjalanan hidup mereka akan lebih lancar, bebas dari persoalan yang rumit, malapetaka, kesukaran, dan segala sesuatu yang menyakitkan. Kenyataan yang dialami ternyata berbeda dengan apa yang diharapkan. Bila orang percaya tidak mengerti kebenaran, mereka dapat menjadi bingung, kecewa, dan curiga kepada Allah. Kenyataan yang harus diterima bahwa menjadi anak-anak Allah berarti “berjalan dijalan-Nya.”Itu berarti kitaharus bersiap-siap mengarungi jalan salib.

Contoh yang paling jelas adalah perjalanan bangsa Israel. Mereka harus mengikuti tiang awan dan tiang api. Mereka harus berhenti di mana tiang awan dan tiang api berhenti. Bangsa Israel ternyata telah patuh. Bangsa Israel mengikuti petunjuk tiang awan dan tiang apiitu. Namun ternyata, langkah Allah sering membingungkan bangsa itu. Mereka disuruh berkemah di seberang Laut Merah, dimana Firaun dapat menjangkau mereka dan membunuh bangsa itu (Kel. 14). Di Keluaran 17, Allah juga memerintahkan mereka melintasi daerah dimana tidak air dan berkemah dimana tidak ada air pula (di Rafidim). Mereka pun mencobai Allah.Artinya,mereka meragukan kehadiran Allah dengan berkata,“Apakah Allah ada di tengah-tengah kita?” Sikap inilah yang disebut sebagai mencobai Allah Allah, yaitu “meragukan kasih, pemeliharaan, dan kuasa Allah.” Mereka seharusnya tetap tenang dan tidak perlu cemas dalam keadaan itu.Oleh sebab itulah, dalam Mazmur 77:20-21 dikatakan bahwa jejak-jejak Allah tidak kelihatan. Hal ini berkenaan dengan perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan.