All Out
24 November 2019

Tidak dapat disangkal, hari ini banyak orang Kristen masih memisahkan antara ibadah kepada Tuhan di gereja dan kehidupan setiap hari. Mereka beranggapan bahwa ibadah kepada Tuhan adalah bagian dari hidup ini. Itulah sebabnya mereka membedakan antara kegiatan yang bersangkut paut dengan Tuhan—seperti berdoa, menyanyi lagu rohani, atau ke gereja—dengan kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan Tuhan—s eperti bekerja di kantor, rekreasi dengan keluarga, olahraga, makan, minum, dan lain-lain— yang dianggap bukan ibadah kepada Tuhan. Bila seseorang masih memiliki anggapan atau sikap berpikir seperti ini, berarti ia belum memahami pengertian ibadah yang sesungguhnya. Orang seperti ini akan gagal menyelesaikan hidup kekristenannya di hadapan Tuhan. Hendaknya orang percaya tidak terpengaruh oleh berbagai aliran agama-agama tertentu yang memisahkan antara hidup beribadah di lingkungan kegiatan rohani dengan kegiatan di luar kegiatan rohani yang dianggap bukan ibadah.

Perintah untuk mengelola dunia ini sebagai penyelenggara kehidupan di bumi ini merupakan perintah kudus, yang rohani yang tidak boleh diidentifikasi sebagai duniawi. Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh membedakan profesi duniawi dan rohani diukur semata-mata dari jenis perkerjaan itu. Karenanya pula, orang percaya tidak boleh merasa kurang kudus hanya karena memiliki profesi bukan pendeta atau tidak ikut berkegiatan dalam gereja. Dalam Roma 12:1-2 Paulus menjelaskan arti ibadah, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan. Ini artinya menggunakan tubuh untuk kemuliaan Tuhan. Untuk kemuliaan Tuhan berarti bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dilakukan dalam kesucian dan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Untuk ini, orang percaya harus memaksimalkan potensi sesuai dengan bidang masing-masing dan terus bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Dengan pertumbuhan kedewasaan rohani, seseorang akan mengerti arti “hidup bagi Tuhan,” seperti prinsip Rasul Paulus (Flp. 1:21; 2Kor. 5:14-15). Dengan demikian, motivasi hidup sehingga seseorang menyelenggarakan seluruh kegiatan hidupnya itu menentukan nilai ibadahnya. Yang penting di sini adalah bahwa seseorang harus mengerti kebenaran Firman Tuhan sehingga sampai kepada motivasi hidup yang benar, yaitu hidup bagi Tuhan (Flp. 1:21). Orang tidak akan memiliki motivasi hidup bagi Tuhan kalau ia tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan melalui kebenaran firman-Nya yang ditulis dalam Alkitab. Kemurnian motivasi ini tentu saja berproses, semakin dimurnikan seiring dengan pendewasaan rohani seseorang. Kemurnian motivasi hidup orang percaya harus mencapai kualitas seperti kemurnian yang dimiliki Tuhan Yesus.

Sekalipun seorang pejabat gereja, kalau ia tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, ia belum mampu hidup bagi Tuhan. Pelayanannya adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ambisinya. Jadi di sini, seseorang dikategorikan rohani atau tidak itu sangat ditentukan oleh motivasi kehidupannya. Untuk hal ini, jemaat harus peka terhadap Tuhan agar jemaat hidup untuk Tuhan, bukan untuk kehidupan pendeta dengan segala ambisinya yang bertendensi untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, memberi uang untuk pendeta atau gereja belum tentu efektif bagi Tuhan sebab itu tergantung gereja atau pendeta tersebut. Dalam hal ini, yang penting adalah bagaimana manusia di sekitar orang percaya itu diberkati Tuhan melalui hidupnya. Harus dimengerti bahwa yang dimaksud berbakti bukan hanya menyangkut kegiatan lingkungan gereja, melainkan meliputi seluruh gerak hidup orang percaya.

Jam ibadah orang percaya bukan hanya 2 jam dalam gereja, melainkan 24 jam waktu hidup orang percaya setiap hari adalah jam ibadah yang terus-menerus berlangsung tiada henti. Orang percaya dapat menikmati hidup dalam ibadah kepada Tuhan sepanjang waktu ini. Orang yang berbakti kepada Tuhan selama hidup dalam dunia ini adalah orang yang akan diperkenan berbakti kepada Tuhan selama-lamanya. Sangatlah indah kalau dalam hidup ini orang percaya memfokuskan perhatiannya kepada Tuhan yang menjadi satu-satunya tujuan hidup. Pada akhirnya, setiap orang percaya harus sampai pada taraf kehilangan seluruh hak hidupnya, sehingga ia tidak hidup lagi bagi siapa pun,—bahkan juga bukan bagi diri sendiri—melainkan hanya bagi Tuhan. Tidak ada bagian dalam hidupnya yang tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Seluruh hidupnya adalah pelayanan: dari menjaga kesehatan, menikah, berkeluarga, bekerja, mengurus rumah tangga, dan lain sebagainya adalah pelayanan bagi Tuhan.