All Out Bagi Tuhan
22 March 2020

Mengapa orang tidak “all out” (segenap hidup atau habis-habisan) bagi Tuhan? Karena mereka tidak mengerti bahwa kekristenan bukanlah agama atau tidak dapat disejajarkan dengan agama. Agama yang diajarkan pada umumnya menyediakan janji-janji dapat melewati kehidupan dengan lebih nyaman. Dengan menganut suatu agama, Allah yang ditawarkan oleh agama tersebut akan memberikan kesenangan-kesenangan hidup di dunia ini. Allah yang dipercayai oleh suatu agama dapat menjadi andalan untuk mengatasi semua masalah. Kekristenan tidaklah demikian. Diawali dengan penerimaan Tuhan atas kita sebagai anak-anak-Nya, kita dilatih untuk dapat mengerti kehendak Bapa dan melakukan kehendak-Nya. Bisa timbul suatu pertanyaan: “Kalau kekristenan tidak menjanjikan bantuan untuk kehidupan hari ini atau di dunia sekarang ini, untuk apa menjadi Kristen?” Harus ditegaskan, bahwa kekristenan adalah usaha mengumpulkan harta di surga, bukan mengumpulkan harta yang di bumi. Dalam hal ini, kita ditantang untuk memilih: harta dunia atau harta di surga. Paulus menyatakan: “sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3).

Paulus, dalam kesaksian hidupnya mengatakan: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Paulus merupakan teladan dari seorang anak Tuhan yang berani “all out” bagi Tuhan. Kalau seorang pelaku bom bunuh diri berani all out demi keyakinan atau ideologinya, mengapa orang percaya tidak berani all out demi keyakinannya, bahwa Yesus telah mati bagi kita sehingga patutlah kita mati bagi Dia? Pengorbanan dan pembelaan bagi Tuhan tidak sia-sia. Dalam nasihatnya, Paulus berkata, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Kor. 15:58).

Irama hidup all out bagi Tuhan harus merupakan irama yang biasa diselenggarakan dalam kehidupan ini, sehingga orang percaya dapat mengutamakan Tuhan dalam kehidupan ini, dan menjadikan Tuhan sebagai “segalanya.” Akhirnya, kalau seseorang sudah biasa all out bagi Tuhan, makai a tidak bisa lagi hidup tidak all out. Di sini, seseorang barulah dapat sejalan dengan Tuhan. Ibarat kendaraan, kecepatannya makin seimbang. Seimbang dengan Yesus dalam kesediaan melepaskan semua hak demi pekerjaan Allah. Inilah keseimbangan yang Tuhan kehendaki, yaitu seimbang dengan Tuhan sehingga bisa memikul kuk bersama (Mat. 11:28-29)

Alkitab menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:26). Hal yang harus kita perkarakan adalah perbuatan apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman. Bila tidak ada tindakan apa-apa, berarti belum memiliki iman. Jadi, iman bukan sesuatu yang abstrak tak terbukti. Iman memiliki perwujudan, yaitu tindakan yang konkret. Ketaatan Abraham menuruti perintah Tuhan untuk meninggalkan Ur-Kasdim dan ketaatannya bersedia mengurbankan Ishak, anak satu-satunya, di hari tuanya sebagai kurban bakaran merupakan tindakan yang menunjukkan imannya (Yak. 2:20-26). Tindakan Abraham yang sangat ekstrem tersebut adalah tindakan yang menunjukkan imannya. Dengan tindakan tersebut, Abraham dapat menjadi model umat Tuhan yang memiliki iman yang benar. Kalau kita mengaku sebagai anak-anak Abraham di dalam iman, kita harus memiliki langkah seperti yang telah diperagakannya.

Harga iman yang benar atau murni sangat mahal, yaitu seluruh kehidupan Abraham yang dipertaruhkan. Meninggalkan Ur-Kasdim dan mempersembahkan anaknya, Ishak, sebagai kurban bakaran adalah tindakan sangat ekstrem yang tidak akan mudah dimengerti orang pada zamannya. Tetapi, itulah harga yang harus dibayar oleh Abraham sebagai respons positifnya terhadap Tuhan. Apa yang harus direspons dari Tuhan? Jawabnya adalah kehendak-Nya, bukan berkat jasmani-Nya. Jika seseorang melakukan kehendak-Nya, segala berkat yang dibutuhkan pasti diberikan.

Penyesatan yang terjadi dewasa ini—yang merupakan penipuan dari kuasa gelap—adalah merasa sudah memiliki iman dengan hanya menjadi Kristen dan pergi ke gereja. Di sini, iman dihargai sangat murah. Iman yang benar harganya adalah seluruh kehidupan yang dipertaruhkan, bukan sebagian, apalagi sebagian kecil. Kalau hanya ke gereja, bukanlah nilai seluruh kehidupan, barulah sebagian kecil. Dalam hal ini, kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:33). Dan dengan meninggalkan segala sesuatu, artinya sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan, barulah seseorang dapat melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, untuk dapat melakukan kehendak Bapa, seseorang harus all out bagi Tuhan.