Alkitab Tidak Bisa Bersalah
21 October 2018

Dalam bab ini kita perlu meninjau sifat-sifat Alkitab yang sekaligus menunjukkan kepiawaian Alkitab yang tak tertandingi dibanding dengan kitab-kitab dalam dunia ini. Pertama, Alkitab tidak mungkin salah.

Ketidakbersalahan di sini bukan menyangkut penulisan secara hurufiah
dan data-data yang mungkin bisa meleset oleh karena keterbatasan pola pikir manusia pada zamannya, tetapi ketidakbersalahan di sini adalah
menyangkut jiwa kebenaran yang terkandung di dalam Alkitab.

Setiap ide yang dipaparkan Alkitab adalah kebenaran yang memiliki nilai akurasi sempurna. Inilah yang juga disebut sebagai infalibilitas Alkitab. Oleh sebab Alkitab tidak mungkin salah, maka Alkitab dapat menjadi syarat mutlak (neccesitas) yang tidak dapat ditawar. Segala kebenaran yang ditawarkan apabila tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka ia bukanlah kebenaran tetapi dusta yang harus tegas ditolak.

Ketepatan Alkitab teruji dalam hal kegenapan setiap nubuat-nubuatnya. Bila kita mempelajari mengenai nubuat-nubuat Alkitab, maka semua nubuat yang tertulis dalam Alkitab digenapi dengan sempurna. Salah satu contoh adalah nubuat yang ditafsirkan oleh Daniel dari mimpi raja Nebukadnezar mengenai patung besar yang melambangkan perjalanan sejarah dunia. Nubuatan-nubuatan Daniel lebih banyak berbicara mengenai dunia pada waktu itu, tahun-tahun atau abad-abad setelah Daniel hidup, lebih dari keadaan dunia zaman kita. Kepala emas melambangkan negara Babel tahun 606 SM. Dada dan lengan dari perak menggambarkan Kerajaan Persia tahun 539 SM. Perut dan pinggang dari tembaga menggambarkan Kerajaan Yunani tahun 331 SM. Paha dari besi menggambarkan Kerajaan Romawi Barat dan Timur tahun 64 SM. Kaki dan jari-jari sebagian besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia ini, yaitu adanya negara yang kuat dan lemah. Ini baru salah satu nubuat Alkitab yang digenapi dengan tepat. Masih banyak nubuat lain yang digenapi dengan sangat tepat dan sempurna. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab tidak mungkin salah.

Ketidakbersalahan Alkitab bukan terletak pada penulisannya secara harafiah dan data-data minor yang tidak penting. Tetapi ketidakbersalahan Alkitab terletak pada maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Dalam hal ini yang penting dari Alkitab adalah penjelasan atau keterangan mengenai rencana Allah menyelamatkan dunia ini, yaitu bagaimana mengubah manusia-manusia yang terpilih sebagai umat pilihan Perjanjian Baru. Perubahan itu adalah perubahan dari kodrat manusia dengan kodrat dosanya (sinful nature), menjadi seorang yang berkodrat Ilahi (devine nature). Ini berarti perubahan tersebut bukan hanya dari orang jahat menjadi orang baik, tetapi dari manusia berdosa kemudian menjadi baik, dan akhirnya menjadi sempurna. Target yang harus dicapai adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Perubahan kodrat dalam kehidupan manusia tidak membutuhkan hukum-hukum seperti hukum-hukum agama samawi pada umumnya. Tetapi yang dibutuhkan adalah pengertian mengenai kebenaran yang dapat mencerdaskan pikiran sehingga orang percaya dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Itulah sebabnya pikiran orang percaya bukanlah pikiran hukum, tetapi pikiran Tuhan. Terkait dengan hal ini orang percaya dikehendaki oleh Allah untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan hal ini kita bisa menghayati bahwa Kekristenan bukan jalan hukum, tetapi jalan hidup. Hidup yang harus dijalani adalah hidupnya Tuhan Yesus. Untuk memiliki hidup seperti yang pernah dijalani Yesus, orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan-Nya.

Dengan demikian, untuk dapat membedakan apakah seseorang mengerti Alkitab atau tidak, bukanlah ditentukan oleh cakapnya berbicara mengenai teologi, bukan pula pada jenjang pendidikan teologi, tetapi apakah seseorang memiliki kehidupan Yesus yang diperagakan secara konkrit. Peragaan tersebut pasti sangat nyata dari setiap kata yang diucapkan atau tulisan melalui media sosial dan seluruh kelakuannya. Hal ini juga dapat diteguhkan oleh buah-buah kehidupan yang dijalani. Bagi seorang hamba Tuhan, buah kehidupannya bukan sekadar besarnya gereja -baik dalam jumlah anggota gereja, aset dan gedung gerejanya- tetapi pada kenyataan apakah melalui pelayanan yang diselenggarakan, banyak orang diubah menjadi manusia Allah.