Alkitab Adalah Firman Tuhan Atau Berisi Firman Tuhan?
25 October 2018

Pernah dipersoalkan dengan serius dalam masyarakat Kristen, sesungguhnya yang benar adalah Alkitab adalah Firman Tuhan atau Alkitab berisi Firman Tuhan? Dalam Pengakuan Iman suatu gereja tertulis Alkitab adalah Firman Tuhan. Untuk membedah masalah ini, harus dipersoalkan: Apa sebenarnya yang Firman Tuhan? Bukunya secara fisik? Huruf yang menyusun kata-kata? Kalimat yang menjadi ayat-ayat? Atau penjelasan dari kesimpulan-kesimpulan para penafsir yang juga menjadi rentetan khotbah-khotbah mereka? Hal ini menjadi persoalan yang harus ditanggapi dengan serius.

Kita mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, tetapi ternyata bidat-bidat atau aliran-aliran sesat dalam lingkungan Kristen juga mengakui demikian. Mereka juga membedah Alkitab dan mengakui bahwa mereka hidup berlandaskan Alkitab yang diakuinya juga sebagai Firman Tuhan.

Tidak dapat disangkal kenyataan bahwa ajaran-ajaran sesat yang merusak iman murni jemaat Kristen juga ajaran yang diakui sebagai dilandaskan kepada Alkitab
yang disebutnya sebagai Firman Tuhan.

Dengan hal ini maka terbuka kemungkinan ajaran-ajaran yang diakuinya sebagai berlandaskan Firman Tuhan, sebenarnya melawan kebenaran. Ini berarti tidak sedikit jumlah “pembicara” atau “nabi Tuhan” yang tanpa sadar melawan kebenaran, yaitu ketika mereka menyampaikan “Firman Tuhan” padahal apa yang dikemukakan bertentangan dengan prinsip kebenaran atau bukan Firman Tuhan.

Masalah penting di sini adalah bagaimana kita dapat menemukan kebenaran dari dalam Alkitab. Sebab ternyata dari dalam Alkitab orang bisa menarik kesimpulan dari apa yang dimengertinya sebagai kebenaran padahal bukan kebenaran. Alkitab adalah buku yang multi tafsir, artinya memiliki potensi untuk ditafsirkan sesuka hati penafsirnya. Sehingga masing-masing penafsir bisa mengklaim bahwa mereka mengajarkan Firman Allah yang murni. Bahkan mereka berani menyatakan bahwa apa yang diajarkan orang lain -yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh mereka- adalah penyesatan. Mereka berani mengklaim sebagai yang paling benar.

Harus dimengerti bahwa Alkitab adalah buku yang ditulis dalam bungkus atau bahasa manusia yang keberadaannya berbeda sekali dengan zaman kita hari ini. Wahyu yang ditulis dalam Alkitab tidak ditulis secara mekanis. Secara mekanis artinya Alkitab ditulis oleh penulis yang hanya berfungsi sebagai mesin yang secara mekanis menulis wahyu atau pengilhaman dari Tuhan. Inisiatif dan keaktifan mutlak ada pada Tuhan. Di sini keterlibatan dan peran manusia hampir tidak ada. Manusia seperti orang “kesurupan” yang menulis secara mekanis dan otomatis segala hal yang Tuhan kehendaki untuk ditulis.

Harus diingat cara penulisan Alkitab tidak sama dengan penulisan kitab-kitab dalam agama-agama tertentu, dimana “wahyu” yang mereka terima diberikan “allah” secara mekanis. Alkitab tidak demikian ini. Seperti misalnya Injil Lukas dan Kisah Rasul ditulis oleh Lukas setelah melalui “penyelidikan” dan kemudian dituliskannya kepada sahabatnya Theofilus. Dalam awal tulisannya ia berkata: Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu (Luk. 1:3). Dalam Injilnya, Lukas dapat menemukan kisah masa kecil Tuhan Yesus, tetapi Injil lain kurang.

Selanjutnya kita menemukan bahwa ternyata kemampuan menulis masing-masing penulis berbeda. Kemampuan menggunakan bahasa, menjelaskan suatu pemikiran, menganalisa sesuatu pun berbeda-beda. Misalnya Paulus sangat cakap menjelaskan hal taurat dan budaya Yahudi, tetapi Petrus tidak menyinggungnya secara mendalam. Bahkan karena Petrus bukan seorang terpelajar seperti Paulus, maka dalam menulis Injilnya ia menggunakan tenaga dan keahlian Markus, salah satu dari pengikut Kristus yang menjadi muridnya.

Dalam meneliti Alkitab, fakta-fakta ini harus diperhitungkan dengan sangat serius, guna memperoleh kebenaran yang terkandung di dalam tulisan mereka. Di sini dibutuhkan sebuah kerja keras untuk menggali Alkitab dengan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis (ilmu menafsir) yang baik. Memahami Alkitab seperti melakukan sebuah pekerjaan penyulingan atau mengekstrak sesuatu. Firman Tuhan adalah inti atau ekstrasi dari yang tertulis dalam Alkitab.