Akibat Perjumpaan Pibadi
25 September 2017

Orang yang tidak mengalami perjumpaaan dengan Tuhan secara terus-menerus, tidak dapat memahami keindahan Tuhan. Perjumpaan terus-menerus dengan Tuhan artinya bertumbuh dalam pengenalan Firman Tuhan yang benar serta mengalami secara riil kehadiran Tuhan dalam hidup. Hal ini yang harus kita upayakan setiap hari. Waktu hidup kita harus diisi dengan hal ini secara proporsional. Dengan demikian kita memenuhi apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, yaitu mendahulukan Kerajaan Allah (Mat. 6:33).

Orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dapat merasakan keindahan Tuhan sampai menjadi “ketagihan”. Dalam hal ini Tuhan menjadi air kehidupan. Bagi mereka mencari Tuhan untuk menemukan dan menikmati-Nya adalah kebutuhan yang selalu mendesak. Air kehidupan di sini maksudnya adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan mutlak, seakan-akan tanpa hal tersebut ia tidak merasa bahagia, utuh dan lengkap. Air kehidupan juga bisa menunjuk sesuatu yang mutlak harus dipenuhi. Sesuatu yang bernilai “keharusan” untuk dimiliki.

Seharusnya tidak ada sesuatu yang mutlak dalam hidup ini kecuali Tuhan. Jadi, kalau seseorang memandang suatu objek sebagai kemutlakan, maka ia menyembah objek itu. Itu juga berarti ia menjadikan dirinya sebagai tuhan. Orang seperti ini tidak mungkin memperlakukan Tuhan Yesus secara pantas, sebab kemutlakan hanya bagi Tuhan. Hanya orang yang jujur kepada dirinya sendiri yang menyadari kesalahan ini. Sebab banyak orang Kristen merasa sudah memutlakkan Tuhan dalam hidupnya, padahal tidak atau belum. Biasanya ini terjadi atas mereka yang cakap berbicara mengenai Tuhan dan merasa sudah tahu banyak mengenai Tuhan tanpa diimbangi dengan pertemuan secara konkret dengan Tuhan.

Untuk ini patut kita memperhatikan Mazmur 42:2-5, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

Apa yang dikemukakan oleh pemazmur ini menunjukkan adanya perjumpaan pribadi antara pemazmur dengan Allahnya. Kalau seseorang tidak mengalami perjumpaan terus menerus dengan Tuhan, maka ia memandang sesuatu sebagai keindahan yang bernilai tinggi. Hal ini akan menyebabkan keadaan di mana Tuhan tidak menjadi Pribadi yang terindah dalam hidupnya. Orang Kristen seperti ini pada dasarnya belum menyembah Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, sebab menyembah (Yun. proskuneo) berarti memberi nilai tinggi.

Orang yang tidak mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai air kehidupannya. Bagi orang-orang seperti ini, air kehidupannya adalah dunia dengan segala kesenangannya. Bagi orang-orang yang terikat minuman keras dan narkoba, air kehidupannya adalah hal-hal tersebut. Banyak orang Kristen yang tidak terkena narkoba, tidak terikat dengan alcohol, tetapi memiliki air kehidupan yang lain. Hal ini menempatkan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Di dalam dirinya terdapat ikatan, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Keinginan dagingnya menunjuk pada seks dan kuliner. Keinginan mata adalah konsumerisme, yaitu keinginan memiliki barang-barang, seakan-akan menjadi keharusan untuk memilikinya. Keangkuhan hidup, yaitu kebutuhan untuk dihargai manusia lain. Untuk ini seseorang berusaha untuk memiliki barang-barang yang dapat membuat dirinya berharga, gelar, pangkat kedudukan, dan lain sebagainya.